Dia menengok ke arahku. Memperhatikanku dari atas hingga bawah.
"Oh ya, salam kenal." jawabnya datar.
Kok datar banget jawabnya...
Atau jangan-jangan aku udah sok asyik sama dia.
Dia lanjut membaca novelnya, seperti... aku hanya angin lewat di hadapannya.
Aku mengepalkan tanganku.
"Sialan, dasar kutu buku." gumamku.
Saat sedang kesal.
Ada seseorang yang masuk ke dalam kelas.
"Selamat pagi, semua. Nama Saya Bastian Schild, kalian bisa memanggil Saya dengan sebutan Herr Schild. Saya akan menjadi wali kelas kalian untuk kedepannya."
Dia wali kelasku.
Kumisnya tebal sekali...
"Oke, saya akan memanggil nama kalian secara acak. Yang dipanggil, berdiri dari kursi dan perkenalkan diri." ucap wali kelasku.
Perkenalan diri?
Aku belum siap untuk itu.
Wali kelasku memeriksa absen secara acak.
"Amalia Besserer. Silahkan berdiri."
Gadis berparas cantik.
Rambutnya bewarna hitam.
Dia... seperti malaikat di hadapanku.
Apakah ini takdirku?
Gadis itu berdiri.
"Nama saya, Amalia Besserer. Kalian bisa memanggil saya Lia. Hobi saya menulis novel wattpad. Semoga kita bisa berteman dengan baik. Terima kasih."
Tapi... dia terlalu jauh untuk orang sepertiku.
Aku harus sadar diri.
Wali kelasku kemudian memanggil nama ku.
"Selanjutnya, Hubert Wandler. Berdiri."
Sialan, aku belum siap untuk ini...
Aku berdiri dari kursiku. Badanku gemetar hebat karena gugup.
"Na... nama saya, Hubert Wandler. Ka... kalian bisa memanggilku... W... Wandler. Ho... hobi saya bermain basket. Terima kasih."
Aku berhasil!
"Oke, nama selanjutnya..." wali kelasku melanjutkan absen.
Sebenarnya, aku sangat senang bersosialisasi dengan orang-orang baru... tapi kalau disuruh perkenalan diri di kelas. Aku suka gugup.
---
Jam istirahat berbunyi. Aku langsung berkenalan dengan siswa cowok yang ada di kelasku.
Ternyata... mereka sangat asyik, tidak seperti dia.
Saat sedang asyik mengobrol, sesekali aku mencuri pandangan ke Lia.
"Stop ngeliatin dia woi" gumamku.
Setiap aku melihatnya, hatiku selalu berdebar-debar. Apakah ini adalah "cinta pandangan pertama" yang orang-orang selalu sebut?
"Tidak, dia tidak sejajar dengan ku. Levelnya terlalu tinggi. Aku harus sadar diri!"
Saat sedang asyik mengobrol, aku tersadar kalau belum makan dari pagi.
"Aku ke kantin dulu ya, teman-teman."
"Oh ya, kami nanti akan menyusul."
---
Saat perjalanan ke kantin, aku masih memikirkan tentang Lia.
"Dia terlalu sempurna untukku, lebih baik lupakan saja."
Saat sedang melamun, seseorang menabrak ku dari belakang.
"Maaf!"
"Aku tadi sedang melamun, apakah kamu baik-baik saja?"
Lia?
Kenapa dia di sini?
"Oh ya, a... aku baik... baik saja." ucapku sambil menahan rasa gugup.
"Kamu Wandler, kan?" tanya Lia. "Kita sekelas, tidak usah gugup seperti itu," jawab Lia
"Kamu mau ke kantin? Barengan aja sama aku."
Barengan?
"Bo... boleh, ayo."
Akhirnya kami berdua berjalan menuju kantin.
Suasananya sangat canggung, tidak ada salah satu dari kami yang memulai obrolan.
"Tolong keluarkan aku dari sini!" gumamku.
Akhirnya kami berdua sampai di kantin.
Lia menoleh ke arah teman-temannya.
"Aku pergi dulu ya, Wandler."
Dia pergi meninggalkan ku sendiri.
Syukurlah dia pergi bersama temannya, aku tidak tahu cara mencairkan suasana yang sangat canggung tadi.
Saat sedang mencari makan.
Aku melihat si kutu buku sedang duduk sendiri.
Nama dia, Felix Schuld ya? Aku lupa.
Aku berjalan menghampirinya.
"Hei... kamu, Felix kan?" tanya ku.
Dia menoleh ke arahku.
"Ya, benar. Tapi jangan memanggilku dengan nama depan, kita tidak dekat." ucapnya datar.
Dia masih sama seperti sebelumnya.
"Oh... oke, tapi aku boleh ga duduk di sini?"
Dia mengangguk setuju.
Aku duduk di sampingnya, dia masih membaca novel yang sama.
"Felix... maksudku, Schuld. Apakah kau tidak punya teman disini?"
Dia menutup bukunya, lalu menatap ku.
"Maksudnya?"
"Tidak... maksudku, aku pikir kamu duduk sendiri di sini karena tidak punya teman," jawab ku.
"Aku tidak bermaksud mengejek mu."
Dia menghela nafas. "Sebenarnya aku punya teman." potong nya. "Aku lebih suka sendiri di banding bersama mereka."
Dia melihat ke arah jam. "Aku pergi dulu."
Dia pergi meninggalkanku.
Ya... jangan menilai buku dari sampulnya.
Aku sangat lapar, aku butuh makanan.
Dringggg.
Bell berbunyi.
Bell?
Aku bahkan belum makan sama sekali...
YOU ARE READING
Melodi Yang Terputus
RomanceNovel ini menceritakan tentang Hubert Wandler. Seorang anak SMA biasa yang ingin memulai hidup barunya di sekolah elit yang dipenuhi anak-anak orang kaya. Di tengah perjalanan SMA-nya, ia dipertemukan dengan seorang gadis cantik berambut panjang. Ap...
