Ajining Wanodya
•••
Embun pagi masih belum menghilang, meski sinar matahari mulai meninggi. Pepohonan rindang dengan kicauan burung-burung liar menambah syahdu suasana di sebuah desa terpencil di tepi hutan.
Desa yang biasanya sepi karena akses jalan yang sulit, mendadak berubah menjadi ramai. Penyebabnya adalah salah satu gubuk atau rumah, tiba-tiba kedatangan para tamu yang silih berganti. Mulai dari beberapa pemuda dari kalangan rakyat biasa, saudagar, hingga putra-putra bangsawan yang membawa para abdi mereka.
Halaman gubuk yang sempit itu dipenuhi tamu yang datang membawa satu maksud yang sama, yakni mempersunting putri semata wayang penghuni gubuk tersebut.
Sang ibu mengintip dari balik pintu dengan mata yang berkaca-kaca. Senyum haru tidak henti-hentinya menghiasi wajahnya.
"Nduk," panggilnya lembut, "Lihatlah ke depan gubuk kita. Tidak pernah terlintas dalam benak Ibu bahwa akan ada begitu banyak lelaki yang datang meminangmu. Padahal, kita hanyalah keluarga kecil yang hidup dalam serba kekurangan."
Kinanthi menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Ia sama sekali tidak tahu, apakah harus merasa bahagia dengan hal ini atau justru merasa sedih.
"Ibu," kata gadis itu lirih, "izinkan aku menyampaikan isi hatiku. Usia delapan belas tahun masih terasa terlalu belia bagiku untuk memasuki kehidupan berumah tangga."
Sang ibu mengusap punggung tangan putri semata wayangnya dengan penuh kasih. Tatapan perempuan paruh baya itu menaruh harapan yang besar pada Kinanthi.
"Nduk, renungkanlah dengan saksama. Barangkali inilah jalan yang telah digariskan Yang Maha kuasa untuk mengangkat martabat keluarga kita. Engkaulah satu-satunya harapan Bapak dan Ibu."
Mendengar harapan ibunya, sorot mata Kinanthi seolah meredup. Ia berusaha menyanggah pendapat ibunya, "Tetapi, Ibu..."
"Pada usiamu sekarang, seorang perempuan telah dianggap pantas untuk bersuami. Tidak sedikit gadis seusiamu yang telah membangun rumah tangga."
Ucapan beliau memang tidak sepenuhnya salah. Teman-teman sebaya Kinanthi banyak yang sudah menerima pinangan. Tidak sedikit pula yang bahkan berusia dibawahnya.
Kinanthi terdiam. Bukan karena tidak memiliki jawaban, melainkan karena hatinya sama sekali belum siap menerima kenyataan yang sedang menanti di depannya.
Gadis itu masih memiliki harapan besar bisa menuntut ilmu lebih banyak. Belajar membaca dan menulis, dimana kesempatan itu belum bisa ia wujudkan karena keterbatasan ekonomi. Selain itu, belajar dianggap tidak penting bagi seorang perempuan yang dianggap hanya pantas mengurus rumah dan dapur.
Di pendopo kecil depan rumah, Bapak sedang menemui para tamu yang datang silih berganti. Beliau bahkan hampir tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Meski demikian, beliau begitu bersemangat menyambut mereka yang hadir, berharap putrinya akan dipinang oleh salah satu dari para tamu yang menemuinya.
Semua itu bermula pada beberapa hari yang lalu. Saat itu Kinanthi diminta menampilkan tarian di Pendopo Agung Kadipaten dalam sebuah perhelatan yang dihadiri para bangsawan, para tumenggung, serta pejabat kadipaten. Sejak kecil, ia memang suka menari dan mulai mengikuti latihan tari di sebuah sanggar di desanya.
Dengan balutan kebaya sederhana dan jarik yang tampak lusuh, Kinanthi menari sepenuh hati tanpa sedikit pun berharap menjadi pusat perhatian. Gerakannya lincah, tubuhnya meliuk-liuk indah dengan lengkungan manis pada sudut bibir membuat aura ayu gadis itu semakin keluar.
YOU ARE READING
Ajining Wanodya | Jake
FanfictionMenjadi seorang garwa ampil tidak pernah ada dalam bayangan gadis bernama Kinanthi. Meskipun berasal dari golongan rakyat jelata, ia tidak sudi menjual harga dirinya demi menjadi seorang selir. Sampai akhirnya, tawaran itu datang dari Kanjeng Adipat...
