BAB 1 | Hujan dan Debu

3 0 0
                                        

Magelang, akhir September 2024

Hujan baru saja reda ketika Syaviella memarkir mobilnya di bahu jalan kawasan Pecinan, tepat di depan sebuah toko obat tradisional yang papan namanya sudah nyaris pudar dimakan usia. Perempuan itu turun, menenteng tas selempang kulit yang mulai lecet di bagian sudut, lalu mendongak menatap ruko dua lantai dengan cat krem yang mengelupas di beberapa bagian. Udara Magelang yang lembap bercampur dengan aroma tanah basah dan samar wangi kayu manis entah dari mana.

Telepon dari Ibu tadi pagi masih terngiang di telinga. "Toko kakekmu sudah kosong lima tahun, Viella. Kalau bukan kamu yang mengurus, mau diapakan lagi? Kamu kan sedang tidak ada kerjaan di Jakarta." Kalimat terakhir itu terasa seperti dorongan halus yang menusuk, tapi Syaviella memilih untuk tidak tersinggung. Lagipula, Ibunya benar. Kontrak kerja sebagai arsitek lanskap di sebuah firma kecil di Jakarta Selatan sudah habis tiga bulan lalu.

Mantan pacar juga sudah resmi menjadi mantan sejak Mei, setelah perempuan itu ketahuan menyembunyikan status pertunangannya dengan lelaki lain. Jakarta tiba-tiba terasa sumpek dan asing. Magelang yang menjadi kota kelahiran ibunya, kota tempat Kakek menghabiskan seluruh hidupnya, terasa seperti tempat yang tepat untuk menghilang sejenak.

Anak kunci tua yang diberikan Ibu melalui kurir seminggu lalu akhirnya ia gunakan. Kunci itu masih bergantung pada gantungan benang merah yang sudah kusam dan sedikit berbulu di bagian ujungnya. Syaviella tersenyum kecil sambil memandangi gantungan itu. Kakek selalu percaya bahwa benang merah membawa keberuntungan. Konon, puluhan tahun lalu, beliau menjual jimat pengasihan dari benang merah yang telah diberkahi doa di Kelenteng Liong Hok Bio. Banyak warga Tionghoa dan Jawa di sekitar Pecinan yang menjadi pelanggan setianya. Kakek menyebutnya "benang jodoh", meskipun Syaviella waktu kecil selalu menganggapnya sebagai takhayul yang tidak masuk akal.

Pintu toko terbuka dengan suara berderit yang panjang, cukup untuk membuat bulu tengkuknya berdiri. Di dalam, bau kayu lapuk bercampur dengan kapur barus langsung menyambut, tebal dan menusuk. Cahaya matahari sore menerobos melalui celah jendela yang tertutup tirai bambu yang sudah berwarna kecokelatan. Debu beterbangan di udara seperti partikel emas yang melayang pelan. Syaviella melangkah hati-hati, menghindari tumpukan kardus yang sudah lembap dan botol bekas ramuan yang isinya sudah mengering menjadi kerak hitam di dasar kaca.

Suasana di dalam toko terasa sunyi, tapi bukan sunyi yang kosong. Sunyi yang seperti sedang menyimpan sesuatu. Seolah dinding-dinding tua ini masih menyimpan gema dari suara-suara yang pernah mengisinya bertahun-tahun lalu. Syaviella berhenti di depan meja kasir tua yang permukaannya dilapisi marmer hijau tua, warnanya sudah kusam dan retak di salah satu sudut. Di atas meja itu, tergeletak sebuah buku besar bersampul kain merah yang diikat dengan benang sutra berwarna senada. Buku itu tebal, dengan halaman-halaman yang ujungnya sudah menguning dan sedikit melengkung karena lembap.

Buku harian Kakek. Syaviella pernah melihatnya sekali, waktu ia masih SMP. Saat itu Kakek masih sehat, masih suka duduk di kursi goyang di sudut toko sambil tertawa membaca tulisan sendiri. Setiap kali Syaviella bertanya apa isinya, Kakek hanya menjawab, "Resep jamu, Viella. Resep jamu saja." Tapi tidak ada orang yang tertawa selepas itu hanya karena membaca resep jamu.

Tangannya terulur, menyentuh sampul buku yang terasa dingin dan sedikit lembap di ujung jari. Begitu ikatan benang sutra ia lepas, sesuatu terjadi. Sekelebat bayangan melintas di pelupuk matanya, seperti kilat di siang bolong. Bukan. Bukan bayangan yang samar. Bayangan itu terlalu jelas untuk disebut imajinasi.

Seorang lelaki muda berdiri di dekat meja yang sama, tepat di sisi seberang. Wajahnya asing, tidak pernah ia lihat sebelumnya, tapi tatapan matanya terasa begitu akrab. Begitu dalam dan penuh pengenalan, seolah lelaki itu sudah menunggunya di tempat itu selama bertahun-tahun. Ia mengenakan pakaian ala tahun 1920-an, kemeja putih lengan panjang yang digulung sampai siku, dan celana kain hitam yang potongannya longgar. Rambutnya disisir rapi ke belakang, basah sedikit seperti habis mencuci muka. Lelaki itu menatap lurus ke arahnya. Bibirnya bergerak.

Yang Belum Selesai (END)Stories to obsess over. Discover now