Chapter 1

0 0 0
                                        

Alarm ponsel berbunyi jam 05.30, tapi Aletta sudah terbangun sepuluh menit sebelumnya. Kepalanya masih agak berat, sisa demam yang baru turun kemarin malam. Ia menatap langit-langit kamar sebentar, menghitung napas, memastikan tubuhnya benar-benar sanggup sebelum bangkit dari kasur.

Begitu ia keluar kamar dengan seragam lengkap, Rui-yang sedang menyeduh kopi di dapur-langsung menghentikan gerakannya.

"Lo yakin?" Suara Rui datar, tapi matanya menyelidik, memindai dari ujung rambut sampai sepatu adiknya.

"Yakin." Aletta duduk di kursi meja makan, meraih roti tanpa banyak bicara.

"Baru kemarin sore demam lo turun, Let."

"Udah turun berarti udah sembuh."

Rui menghela napas panjang, tanda ia sudah hafal betul bagaimana keras kepalanya adiknya kalau soal begini. "Kalau di sekolah pusing, telepon abang. Jangan dipaksain."

"Iya, iya."

"Serius, Aletta."

"Iya, Bang Rui." Nadanya tetap datar, tapi ada sedikit kelembutan di sana-cara Aletta menunjukkan ia dengar, meski tidak menoleh.

Rui menaruh sekotak bekal di atas meja, mendorongnya pelan ke arah adiknya. "Ini buat nanti istirahat. Jangan cuma diminum air putih doang kayak biasanya."

Aletta melirik kotak itu sebentar, lalu mengangguk kecil sebagai jawaban.

Dari arah tangga, Aji turun sambil membetulkan dasi seragamnya yang agak miring. "Pagi," katanya singkat, lalu menyambar roti dari piring yang sama dengan Aletta tanpa basa-basi, seperti sudah kebiasaan bertahun-tahun tinggal serumah.

"Aji, tolong jagain adek gue di jalan," kata Rui, setengah menyuruh setengah memohon.

"Kayak biasa," jawab Aji singkat, tidak banyak protes.

Mereka berangkat bersama seperti hari-hari lain. Aji mengendarai motornya pelan-pelan, lebih pelan dari biasanya-entah karena tahu Aletta belum sepenuhnya fit, atau karena kebiasaan lamanya menjaga jarak aman untuk siapa pun yang dibonceng. Aletta memegang ujung jaketnya, diam, menikmati angin pagi yang menyegarkan meski kepalanya masih agak berat.

Sesampainya di sekolah, barisan siswa sudah mulai berkumpul di lapangan untuk upacara. Aji melirik Aletta yang berdiri di pinggir gerbang, wajahnya pucat meski sudah dibedaki tipis.

"Rui bilang lo boleh nggak ikut upacara," kata Aji. "Ke UKS atau ke kelas aja ya?"

"Gue ke kelas," jawab Aletta cepat, tanpa perlu dipikir dua kali. Ia tidak suka UKS-terlalu banyak orang bertanya "kenapa", dan Aletta tidak suka menjawab pertanyaan semacam itu.

Aji hanya mengangguk, tidak berkomentar lebih jauh, lalu berjalan ke barisan kelasnya sendiri.

Kelas kosong dan sunyi. Aletta duduk di bangkunya, di dekat jendela, meletakkan kepala di atas lengan yang terlipat di meja. Suara upacara samar-samar terdengar dari luar-lagu Indonesia Raya, sambutan kepala sekolah yang datar, lalu tepuk tangan yang tidak terlalu meriah. Ia menutup mata, membiarkan tubuhnya beristirahat sedikit lebih lama sebelum jam pelajaran benar-benar dimulai.

Siswa-siswa mulai kembali ke kelas setelah upacara selesai. Suara riuh langkah dan obrolan memenuhi koridor, lalu perlahan mereda saat semua duduk di bangku masing-masing. Wali kelas masuk tak lama kemudian, membawa map di tangannya.

"Sebelum kita mulai pelajaran," kata Bu Wali Kelas, "Ibu mau kenalin dulu, ada murid baru pindahan yang gabung mulai hari ini."

Seisi kelas langsung riuh berbisik. Aletta hanya mengangkat kepala sedikit, cukup untuk melihat siapa yang baru masuk, lalu kembali menunduk-kepalanya masih berat, dan rasa penasaran anak-anak lain bukan urusannya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 18 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Berandalan Baik?Stories to obsess over. Discover now