"Jadi selama ini gue cuma lelucon buat lo, ya?" Tanya Innes penuh emosi yang dia coba tahan. Jika membiarkan perasaan mewujudkannya dalam bentuk sikap, Innes sudah bisa perkirakan kepala lelaki di depannya ini bisa saja bocor karena Innes lempar gelas kaca. Walaupun ini bukan tempat umum, tapi rasanya membunuhnya pun bukan hal paling benar.
Dia mengangguk-menegak kopinya yang masih setengah dengan santai. "Sorry, kalo buat lo sakit hati, tapi gue gak bisa lanjutin karena tiga bulan kemarin perasaan gue gak ada perubahan sama sekali. Gak ada sayang dan tertarik yang tumbuh."
Innes mendengus kecil. Lihatlah kalimatnya membuat dada Innes seperti tertusuk pedang tajam, tapi wajahnya santai -bahkan masih bisa tersenyum kecil. "Apa hadiah dari taruhan konyol lo itu?" Tanya Innes penasaran.
"Uang," bisiknya dan tersenyum kecil. "Uang segitu sebenarnya gak ada apa-apa buat gue, tapi lo tau ... cara buat dapetinnya yang menyenangkan." Ah, lelaki dan egonya.
"Brengsek," maki Innes pada akhirnya. Tidak ada adegan menyiram wajahnya, tidak ada adegan melempar gelas ke arahnya juga, Innes hanya pergi dari sana-dari sebuah apartemen yang sudah menjadi rumah keduanya selama tiga bulan terakhir ini. Innes bukan tidak sedih, dia hanya berusaha kuat. Dia pergi, tapi tidak sendiri, melainkan berdua dengan calon anak mereka yang sebenarnya sudah tumbuh di perut Innes.
*
YOU ARE READING
BACK TO YOU
FanfictionMenjadi bahan taruhan iseng bagi Sapta, Innes benar-benar tidak menyangka lelaki itu melakukannya. Setelah tiga bulan memerlakukannya selayaknya pasangan. Disayangi, diberi waktu, diberi berbagai macam hadiah. Yang ternyata setiap hadiah yang diteri...
