Bab 1

13 1 0
                                        

Sebagian besar sekolah kejuruan memulai program magang, atau yang biasa disebut PKL (Praktik Kerja Lapangan), pada semester akhir kelas dua. Namun sekolahku berbeda. Mereka memulai program itu pada semester awal kelas tiga dan setiap siswa dibebaskan untuk memilih sendiri tempat penempatan mereka.

Aku termasuk orang yang sulit bergaul dan terpaksa mengikuti program itu diluar kota tempat tinggalku. Memang benar, aku terpaksa. Teman-teman sekelas membuat grup dan mengajukan penempatan di perusahaan yang sama tetapi aku tidak ikut serta.

Meskipun sudah tiga tahun sekelas bareng, aku masih kesulitan beradaptasi untuk berbaur atau sekadar berkumpul bersama mereka diluar jam sekolah. Sekalipun berpapasan diluar sekolah, kami hanya bertukar senyum lalu melanjutkan kegiatan masing-masing.

Aku terpaksa meminta penempatan diluar daerah karena hanya itu koneksi yang dimiliki orang tuaku. Perusahaan tempat teman dekatnya bekerja. Untungnya, aku tidak harus pulang pergi untuk mengisi absen tatap muka di sekolah setiap akhir pekan. Pihak sekolah memberi keringanan bagi siapa saja yang mendapat penempatan diluar daerah.

Hari ini, aku dan orang tuaku akan berangkat ke rumah teman dekatnya. Di sana, aku akan menghabiskan hari-hariku selama program magang ini berlangsung.

"Sudah siap, Bal? Ayo cepat nanti keburu siang kali harinya!" Ibuku berteriak dari luar kamar.

"Ya Bu ini sudah siap,"

Aku keluar setelah memastikan aku membawa semua barang-barang yang diperlukan di sana, perlengkapan mandi dan semua perintilan kecil lainnya. Aku tidak membawa banyak pakaian. Hanya untuk satu minggu ke depan.

--

Perjalanan ke sana memakan waktu, dua setengah jam.

Mobil terparkir di halaman rumah sederhana, tidak bertingkat, namun memanjang ke belakang dengan tanah yang luas di sekelilingnya.

"Dewi! Akhirnya sampai juga ya."

"Iya Sus, Ternyata jalan masuk ke dalamnya lumayan jauh. Tadi sempat mikir apa salah jalan ya. Takutnya malah nyasar ke desa lain kan."

"Iya Wi, Ya, begitulah di sini. Namanya juga kawasan perkebunan sawit. Jalan masuknya juga gak beraspal. Ayo masuk, masuk. Kita makan dulu ya."

Aku pun mengikuti Ibu dan temannya masuk ke dalam rumah.

"Adit, pergi cari Bang Arif sana. Bilang Bu Dewi sudah sampai. Kita makan bersama." Titah Bu Susi kepada anak kecil yang tampaknya masih duduk di kelas enam sekolah dasar.

"Ish, iya Bu."

"Aduh jadi merepotkan kamu Sus, gak perlu sampai memasak segala." Ucap Ibuku berusaha membantu menyajikan makanan.

"Ehh duduk aja. Kamu pasti lelah setelah perjalanan jauh. Eh di mana adikmu? Mau minum apa dia? Kopi atau teh?"

"Mana Oom, Bal?" Tanya Ibuku begitu menyadari adiknya tidak ada di dalam rumah.

"Di luar Bu, merokok dulu katanya." Jawabku, "Oh nah, itu dia."

"Nah, ini dia Pak supirnya. Mau minum apa Dim?"

"Es teh manis panas ada Kak?" Gurau Om Dimas kepada Bu Susi.

"Ha? Gimana?"

"Hehehe. Air hangat aja kalau gak ada, Kak."

Makan siang selesai. Kami pun mengobrol ringan tentang bagaimana nantinya aku akan tinggal di sini bersama keluarga Bu Susi.

Tak terasa hari mulai senja, dan Ibuku pamit pulang.

"Sus, kami pulang ya. Hari sudah mau gelap." Pamit Ibuku.

"Eh, gak menginap di sini aja? Belum juga ketemu Mas Anto."

"Lain kali aja. Titip salam aja ke suamimu. Oh ya, titip Iqbal ya. Kalau nakal cubit saja telinganya." Ucap Ibuku sambil melirik ke arahku.

"Kamu jangan nakal di sini ya. Jangan merepotkan, bantu apa yang bisa dibantu." Lanjutnya beralih kepadaku.

"Iya Bu."

--

Malam pun tiba.

Hanya ada dua kamar di sini. Satu kamar utama ditempati oleh Bu Susi dan suaminya. Satu kamar lagi ditempati berdua oleh anak-anaknya, Adit dan Arif. Dan sekarang ditempati bertiga denganku.

Ternyata udara malam di sini cukup dingin. Karena aku tidak membawa selimut, untuk sementara aku berbagi selimut dengan si bocil, Adit.

"Bang, geser ketengah sedikit dong."

Samar-samar kudengar seseorang berbisik di belakang telingaku. Sepertinya itu Arif. Dia belum pulang sejak siang tadi.

Kami pun berbagi selimut yang seharusnya hanya cukup untuk berdua. Kurasakan deru napasnya mulai teratur di belakang telingaku. Sepertinya dia tidur menghadap ke arahku yang membelakanginya. Sialan. Aku jadi susah tidur karena jarak tubuh kami terlalu rapat.

--

TBC
Cek ombak dulu guys. Ahahah. 10 Tahun lebih vakum. Cerita yang sebelah ntar dirampung ya. Udah lupa alur ceritanya gimana. 😭😭

Você leu todos os capítulos publicados.

⏰ Última atualização: 3 days ago ⏰

Adicione esta história à sua Biblioteca e seja notificado quando novos capítulos chegarem!

Hasrat di Masa MagangHistórias para pegar e não largar. Descubra agora