Matahari perlahan meninggalkan sinarnya, membiarkan sore memeluk perpustakaan dalam keheningan. Di Tengah keheningan yang hanya diselingi suara lembaran kertas yang dibalik perlahan, seorang gadis masih sibuk dengan banyaknya buku yang menemani senjanya. Sementara itu, di meja seberang sang gadis, seorang laki-laki menyandarkan dagunya di atas tumpukan buku dengan malas.
"Nei..." Tak ada jawaban
"Neira..." Masih hening.
Laki-laki itu bangun dari tumpuannya sambil menghembuskan napas Panjang. "Neira Kamila Kidung."
Akhirnya sang gadis pun menoleh. "Hadir."
"Ayo pulang, kita di sini dari siang, Nei. Mataharinya aja udah ngumpet."
Neira menggeleng pelan sebelum kembali fokus pada bacaannya. "Sebentar lagi ya, Arka Adiwarna. Matahari ngumpet juga masih ada bulan."
Arka mendecih pelan. "Kamu ngomong 'sebentar lagi' dari 1 jam yang lalu, Nei."
"Siapa suruh kamu ikut aku."
"Kamu, kamu yang ajak aku ke sini ya. Tapi aku malah dianggurin gini, sedih deh" Arka menopang dagunya dengan satu tangan memasang wajah semuram mungkin seolah sedang memprotes dunia.
"Oh iya, ya. Kan kamu juga yang niat buat nemenin aku."
Sudut bibir Arka tanpa sadar terangkat. "Iya deh, aku temenin sampe aku yang akhirnya ngumpet bareng matahari."
Neira menjulurkan lidahnya sekilas sebelum kembali tenggelam dalam dunia yang hanya bisa dipahami oleh dirinya dan tumpukan buku di sampingnya.
Setelah berulang kali gagal membujuk Neira. Arka bangkit dari kursinya dengan menghembuskan napas pelan. "Aku beli minum dulu deh, kamu mau nitip apa?."
"Aku mau matcha latte aja. Sekalian balikin buku yang ini ya" ujar Neira seraya menunjuk tumpukan buku yang sudah selesai ia baca. "Aku juga dikit lagi kok ini bacanya" sambung Neira.
"Sip, aku tinggal sebentar ya" Arka pun berjalan meninggalkan Neira yang kembali fokus dengan dunianya itu.
Beberapa menit kemudian, Neira pun bangkit dari kursinya untuk mengembalikan beberapa buku yang sudah selesai dibacanya. Saat Neira melangkah menuju rak di ujung ruangan, tanpa sadar ponsel yang berada di saku celana-nya meluncur pelan dan jatuh ke lantai.
Tok.
Neira masih terus berjalan tanpa menyadari keberadaan ponsel-nya sama sekali.
"Halo, Kak."
Sebuah suara menghentikan langkahnya. Neira pun menoleh ke belakang melihat seorang laki-laki berlari kecil sambil menggenggam sebuah ponsel berwarna merah muda di tangannya.
"Ini punya kamu, kan?"
Neira spontan meraba sakunya yang kini kosong. "Astaga... Iya, ini punya aku. Makasih ya" Neira menerima ponselnya, lalu tersenyum kecil.
Laki-laki itu mengulas senyuman tipis. "Sama-sama."
"Loh, kamu baca buku itu juga?" tanya Neira dengan mata tertuju pada sebuah buku yang sedang di pegang laki-laki itu.
"Oh iya, aku suka buku ini. Ceritanya santai tapi nambah pengetahuan."
"Akhirnya nemu juga yang sependapat sama aku. Boleh tau nama kamu?"
"Adair."
"Aku Neira. Salam kenal ya, Adair."
"Kamu sendirian aja di sini, Neira?"
"Aku sama temanku, tapi dia lagi keluar sebentar" Neira mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk. "Nah, itu dia temanku" Ia mengangkat tangan, menunjuk Arka yang tengah berjalan ke arah mereka.
"Lama nunggu?" tanya Arka seraya menyerahkan minuman yang di pesan Neira.
"Lumayan. Yey, makasih."
Arka baru menyadari ada orang lain yang berdiri di samping Neira. "Oh..."
"Ar, kenalin ini Adair" ujar Neira sambil memperkenalkan kedua laki-laki tersebut.
"Nei, pulang yuk. Misha tadi nelpon, nyariin kakaknya."
Neira langsung mengecek ponselnya. Benar saja, 7 panggilan tak terjawab dari adiknya. "Pantesan, ayo deh pulang. Kita duluan ya, Adair."
"Iya, Neira. Hati-hati."
Neira tersenyum kecil sebelum berbalik mengikuti langkah Arka. Adair tetap berdiri di tempatnya, sebelum mengalihkan pandangan pada buku yang sedari tadi berada di tangannya.
YOU ARE READING
VERITAS
RomancePertemuan bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Selalu ada alasan mengapa dua orang dipertemukan, sejak kapan rasa nyaman berubah menjadi kebiasaan, lalu tumbuh menjadi perasaan yang sulit dijelaskan. Hari yang terasa biasa perlahan beruba...
