Musim gugur mulai menyelimuti Seoul, Korea Selatan.
Angin dingin berembus melewati gang-gang sempit di kawasan Mapo-gu, menggugurkan dedaunan yang perlahan menutupi jalanan.
Di ujung sebuah gang kecil berdiri sebuah apartemen tua yang cat temboknya mulai mengelupas. Bangunan itu jauh dari kata mewah, bahkan lift di dalamnya sudah lama rusak. Siapa pun yang tinggal di lantai tiga harus menaiki tangga setiap hari.
Di salah satu kamar apartemen itu, terdengar suara alarm berbunyi tepat pukul 04.30 pagi.
"Tit... tit... tit..."
Seorang pria perlahan membuka mata.
Rambut hitamnya sedikit berantakan. Wajahnya tampan dengan senyum hangat yang selalu menghiasi bibirnya, meski lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan betapa lelah hidup yang ia jalani.
Namanya Kim Seokjin.
Usianya dua puluh delapan tahun.
Ia duduk perlahan di tepi ranjang.
Saat hendak berdiri, wajahnya langsung meringis.
"Aah..."
Tangannya meraih tongkat kayu yang selalu berada di samping tempat tidur.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara tongkat itu menggema pelan saat ia berjalan tertatih menuju dapur kecil.
Kaki kirinya tampak pincang. Setiap langkah terasa berat, tetapi ia sudah terbiasa menahan rasa sakit itu selama bertahun-tahun.
Di dapur, Seokjin membuka kulkas.
Isinya hanya beberapa butir telur, kimchi, tahu, dan sebotol susu.
Ia tersenyum kecil.
"Masih cukup untuk beberapa hari."
Dengan cekatan ia mulai memasak nasi, membuat gyeran mari (telur gulung), sup rumput laut, dan menyiapkan bekal makan siang.
Sesekali ia melihat jam dinding.
"Pukul lima..."
"Kalau terlambat, Jungkook bisa kesiangan."
Tak lama kemudian, aroma masakan memenuhi ruangan sempit itu.
Seokjin menata makanan dengan sangat rapi ke dalam kotak bekal.
Ia bahkan membentuk telur gulung menjadi hati kecil.
"Semoga Jungkook suka..."
Ia tersenyum sendiri.
Setelah semuanya selesai, Seokjin berjalan perlahan menuju kamar adiknya.
Tok... tok...
"Jungkook-ah..."
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi.
"Dongsaeng... bangun, nanti terlambat kuliah."
Masih sunyi.
Seokjin membuka pintu sedikit.
Di dalam kamar, seorang pemuda berwajah tampan masih tertidur pulas.
Selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Seokjin tersenyum lembut.
"Aigoo... masih seperti anak kecil."
Ia mendekat, lalu mengusap pelan rambut sang adik.
"Bangun, Jungkook-ah."
Pemuda itu mengerutkan dahi.
"Hmm..."
"Masih pagi..."
Seokjin tertawa kecil.
"Kalau terlambat lagi, dosenmu pasti marah."
Jungkook membuka mata dengan wajah kesal.
"Hyung..."
"Aku bisa bangun sendiri."
Nada suaranya terdengar dingin.
Seokjin hanya mengangguk.
"Mianhae."
"Aku cuma takut kau terlambat."
Jungkook tidak menjawab.
Ia langsung bangun dan berjalan menuju kamar mandi tanpa melihat wajah kakaknya.
Pintu kamar mandi ditutup cukup keras.
BRAK!
Seokjin hanya menarik napas pelan.
Senyumnya masih ada.
Meski jauh di dalam hatinya terasa nyeri.
"...Gwaenchana."
"Asal Jungkook sehat."
Ia kembali ke dapur.
Tak lama kemudian Jungkook keluar dengan seragam kuliah yang rapi.
Seokjin langsung menyodorkan semangkuk sup hangat.
"Makan dulu."
Jungkook duduk tanpa berkata apa pun.
Beberapa menit mereka makan dalam diam.
Suasana terasa canggung.
Seokjin mencoba mencairkan suasana.
"Bagaimana nilai ujianmu kemarin?"
"Lumayan."
"Teman-temanmu baik?"
"Iya."
"Kapan Hyung boleh bertemu mereka?"
Jungkook berhenti makan.
Ekspresinya berubah.
"Tidak usah."
Seokjin sedikit terdiam.
"Kenapa?"
Jungkook berdiri sambil membawa tasnya.
"Aku berangkat."
"Bekalnya."
"Tidak usah."
"Tapi-"
"Aku bilang tidak usah."
Jungkook mengambil sepatunya.
"Bye."
Pintu apartemen tertutup.
DUKK!
Seokjin masih berdiri sambil memegang kotak bekal yang belum sempat diberikan.
Ia menatap pintu cukup lama.
Lalu...
Senyum itu kembali muncul.
"Dia pasti sedang banyak tugas."
Ia menyimpan kembali bekal itu.
Padahal...
Di dalam hatinya, ia tahu alasan sebenarnya.
Jungkook malu mempunyai seorang hyung yang berjalan pincang.
Namun, Seokjin memilih berpura-pura tidak mengetahuinya.
Karena baginya...
Melihat Jungkook bisa kuliah sudah lebih dari cukup.
Ia rela menanggung rasa sakit sendirian.
Di sisi lain, Jungkook berjalan menuju halte bus.
Beberapa menit kemudian, ia bertemu empat sahabatnya.
"Ya! Jungkook!"
Suara ceria itu berasal dari Jung Hoseok.
"Ayo cepat! Kita hampir terlambat."
Di samping Hoseok berdiri Kim Namjoon, yang sedang membaca buku bahkan sambil berjalan.
"Selamat pagi."
Lalu ada Park Jimin, yang tersenyum hangat.
"Kau terlihat lelah."
Dan terakhir...
Kim Taehyung, yang tiba-tiba muncul dari belakang sambil membawa dua roti ikan.
"Boo!"
Jungkook refleks kaget.
"YA! Taehyung!"
Taehyung tertawa keras.
"Hahaha! Berhasil lagi."
Keempat sahabat itu sudah seperti keluarga bagi Jungkook.
Mereka selalu bersama sejak SMA.
Namun...
Ada satu hal yang tidak pernah diketahui mereka.
Jungkook selalu menghindari pembicaraan tentang keluarganya.
"Jungkook," tanya Jimin lembut.
"Hyung-mu bagaimana?"
Jungkook langsung memalingkan wajah.
"Jangan bahas dia."
Keempat temannya saling berpandangan.
Mereka merasa ada sesuatu yang disembunyikan Jungkook.
Namun tak seorang pun memaksa.
Mereka tidak tahu bahwa, di saat yang sama, Seokjin sedang memulai pekerjaannya yang pertama hari itu dengan langkah tertatih, demi membayar uang kuliah adik yang sangat dicintainya.
Bersambung...
Haaay...
Aku baru di sini, dulu aku penulis di fizo, tapi semwnjak hp ku hilang karna di curi aku tidak bisa melanjutlan ceritaku di sana, aku coba buat di sini semoga kalian suka....ini hanya karangan ya jangan terlalu di ambil hati...selamat membaca...
YOU ARE READING
Hyung... Mianhae
General FictionKim Seokjin, seorang kakak berusia 28 tahun yang berhati hangat, menjalani hidup dengan kaki kiri yang pincang akibat sebuah kecelakaan di masa lalu. Meski harus menahan rasa sakit setiap hari, ia tidak pernah mengeluh. Seokjin rela bekerja serabuta...
