Tetangga baru

79 1 3
                                        

Jennie adalah seorang janda berusia 35 tahun yang terjebak dalam siklus gairah yang tak kunjung padam. Sejak suaminya pergi, rumah besarnya terasa terlalu sunyi, namun tubuhnya justru menjadi sangat berisik. Setiap hari, Jennie bergelut dengan birahinya yang meledak-ledak, ia menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur, meraba-raba memeknya yang selalu basah, menggunakan vibrator atau jemarinya sendiri untuk mencapai puncak yang melelahkan. Ia adalah wanita dengan nafsu seksual yang rakus, seorang pemangsa yang lapar akan sentuhan pria, atau apa pun yang bisa mengisi kekosongan di antara pahanya.

Di sisi lain, Lisa, baru berusia 25 tahun yang baru saja pindah ke rumah sebelah. Lisa memiliki rahasia besar di balik pakaiannya, ia memiliki kontol yang besar dan keras, sebuah anomali fisik yang membuatnya selalu merasa tegang, terutama sejak ia melihat Jennie. Lisa sering mengintip Jennie dari balik jendela, memperhatikan bagaimana janda itu bergerak, dan ia tahu persis bahwa Jennie sedang haus. Rasa penasaran dan nafsu Lisa memuncak setiap kali ia melihat lekuk tubuh Jennie, dan hari ini, ia memutuskan untuk berhenti sekadar menonton.

Sinar matahari pagi menyengat kulit, namun suasana di teras rumah itu terasa lebih panas dari suhu udara. Jennie mengayunkan sapu lidi dengan gerakan lambat, sengaja meliukkan pinggulnya setiap kali ia mendorong sampah ke pinggir. Ia mengenakan daster tipis berwarna krem yang hampir transparan jika terkena cahaya, dan yang paling penting, ia tidak mengenakan apa pun di baliknya.

"Pagi, Jennie," sapa Lisa dari balik pagar rendah yang memisahkan rumah mereka. Jennie berhenti menyapu, lalu berbalik perlahan. Ia menyandarkan tubuhnya pada gagang sapu, membiarkan daster itu tertarik ketat di bagian dada, menonjolkan putingnya yang mengeras karena udara pagi yang lembap.

"Eh, Lisa. Baru bangun kamu, Sayang?" jawab Jennie dengan nada menggoda, suaranya serak dan berat.

Lisa menelan ludah. Matanya tidak bisa lepas dari lekuk tubuh wanita yang sepuluh tahun lebih tua darinya itu. Ia bisa melihat garis samar area intim Jennie yang tercetak jelas di balik kain tipis setiap kali wanita itu bergerak.

"Iya, baru saja. sepertinya daster itu terlalu tipis untuk dipakai di luar," ujar Lisa, suaranya sedikit bergetar.

 Jennie tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar seperti undangan. Ia sengaja mengangkat satu kakinya, membiarkan belahan daster itu tersingkap tinggi hingga pangkal pahanya, memperlihatkan kulit putih mulus yang bersih tanpa sehelai benang pun.

 "Oh ya? Menurutmu aku harus memakai apa? Aku merasa sangat gerah pagi ini, Lisa. Rasanya ada sesuatu yang terasa sangat gatal dan panas di bawah sana," bisik Jennie sambil mengedipkan mata.

 Lisa merasa darahnya berdesir hebat. "Mungkin kau butuh bantuan untuk mendinginkannya."

Jennie meletakkan sapunya dengan kasar, lalu berjalan mendekati pagar. Ia mencondongkan tubuhnya, membiarkan dadanya hampir menyentuh pagar kayu.

 "Kenapa kau tidak masuk saja? Aku punya jus jeruk dingin di dalam. Atau mungkin kau ingin membantu aku mencari celana dalamku yang hilang?"

Lisa tidak menunggu undangan kedua. Ia melompati pagar kecil itu dengan cepat dan mengikuti Jennie masuk ke dalam rumah. Begitu pintu tertutup, suasana berubah menjadi mencekam oleh gairah. Jennie tidak langsung berjalan ke dapur, melainkan berbalik dan menyudutkan Lisa ke pintu yang baru saja dikunci.

"Kau menatapku seperti ingin memakannya sejak tadi, Lisa. Apa kau sangat menginginkanku?" tanya Jennie, napasnya terasa hangat di leher Lisa.

"Aku tidak bisa berhenti memikirkannya sejak aku melihatmu menyapu. Aku tahu kau tidak pakai celana dalam, jennie. Aku bisa melihat semuanya," jawab Lisa dengan nada agresif.

Jennie mendesah, tangannya merayap turun ke arah selangkangan Lisa. "Kasar sekali bicaramu. Tapi aku suka. Sekarang, tunjukkan padaku seberapa besar keinginanmu."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 14 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Jenlisa Oneshoot 21++  (G!P)Stories to obsess over. Discover now