opening

94 10 7
                                        


*

​Sore hari menjelang magrib, lingkungan di sekitar kamar kosan petakan milik Derrya-atau yang lebih sering dipanggil Rey-terasa sangat pengap.

Dari lantai satu sampai dua, di setiap depan pintu kosan tergantung jemuran baju yang entah niat diangkat atau enggak sama pemiliknya.

​Pintu kamar diketuk lemas, sekadar basa-basi pada makhluk lain di dalam kamar sebelum akhirnya Rey nerobos masuk.

Wajahnya pucat, matanya sembap, dan rambutnya berantakan.

Dia langsung menjatuhkan tas ranselnya yang berat penuh buku struktur ke lantai, lalu duduk bersandar di balik pintu yang tertutup. Bahunya gemetar hebat.

​Di kasur bawah, Ndaru-atau yang biasa Rey panggil Ruru-lagi rebahan sambil scroll HP. Tampaknya Ruru sudah siap rebahan sampai besok pagi, kelihatan dari piyama merah tua kesayangannya yang sudah terpakai rapi.

​Melihat Rey baru pulang dengan bahu bergetar karena menahan tangis, Ruru seketika panik.

Kosan ini memang dihuni oleh dua makhluk penakut yang disatukan hanya karena sama-sama takut tidur sendiri.

​"Astaga, Rey! Lo kenapa? Muka lo kayak mayat hidup gitu. Habis diamuk dosen pembimbing Tubas?"

​Rey diam. Napasnya naik-turun menahan isakan. Jari-jarinya bergerak gelisah, mulai menggigit-gigit ujung kukunya-kebiasaan buruk yang selalu keluar setiap kali Rey diserang panik parah.

​"Rey, nangis aja nangis. Sini..." Ruru yang ikut panik melihat kondisi sahabatnya langsung bergeser, menarik Rey ke dalam pelukannya. Membiarkan Rey menangis dan melepas seluruh kekhawatirannya.

​"Ru... IPK gue turun. Beasiswa gue dibekukan," bisik Rey di sela tangisnya.

​Ruru membelalak terkejut, tapi tangannya tetap menepuk-nepuk bahu Rey, mencoba menenangkan.
Dia bingung harus merespons apa. Untuk sekadar meminta Rey bersabar saja rasanya Ruru terlalu sungkan.

​Dengan tangan gemetar, Rey menunjuk amplop putih mencolok yang menyembul dari tasnya.

​"Gue baru dari ruang rektorat, Ru. Dapat SP. IPK gabungan gue semester kemarin turun jadi 2.8. Aturannya kan minimal harus 3.00. Gue..."

​Ruru masih diam mendengarkan. Dia tahu persis kenapa nilai Rey sampai anjlok. Masalah di rumah Rey terlalu menumpuk, siapa pun pasti bakal stres kalau ada diposisi rey.

Dan kalau sampai dapat SP seperti ini, alamat beasiswa Rey semester ini resmi dibekukan. Dia harus bayar kuliah sendiri, yang artinya justru menambah beban masalah baru.

​Rey semakin gencar menggigit kukunya, frustrasi parah.

​"Rey, jari lo luka lagi nanti!" Dengan sigap Ruru menarik tangan Rey, menggenggam jemari sahabatnya itu agar tidak kembali digigiti sampai berdarah.

​"Duit dari mana lagi yang bisa gue dapat, Ru? Bunda aja masih harus rawat jalan. Saki, saki masih harus tebus buku lagi.."

​Ruru menggenggam tangan Rey makin erat. Otaknya berputar cepat mencari solusi spontan.
"Rey, ayo kita ke Gunung Kawi."

​Refleks Rey melotot, menatap tidak percaya pada kalimat ngawur yang baru saja keluar dari mulut sahabatnya.

Tapi mau marah pun, dia sudah tidak punya tenaga.

​Ruru tersenyum canggung,
"Bercanda, rey"

Ruru membenarkan posisi duduknya, mengubah ekspresi wajahnya jadi lebih serius.
"Serius, Rey... mending lo terima aja kerjaan dari Mbak Yaya. Lo lihat gue? Gue baik-baik aja, selamat sentosa seperti biasa."

Fall In LineStories to obsess over. Discover now