Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia
Bumi ke 3, Semesta Pemuja Rahasia 001
Minggu ke-3, April 2026
Pagi menjelang siang, udara Balikpapan terasa membakar kulit. Efek El Nino yang belakangan disebut-sebut warga sebagai "El Nino Godzilla" membuat panasnya menembus dinding-dinding kantor BAZNAS Kota Balikpapan, mengalahkan kerja pendingin ruangan yang sudah menyala sejak pagi.
Di tengah suasana gerah itu, pintu kaca kantor terbuka. Seorang gadis muda melepaskan alas kaki di luar pintu masuk. Lalu melangkah masuk dengan langkah tenang, menuju meja front office. Sosoknya seketika menarik perhatian siapa pun yang melihat—bukan karena ia berusaha mencolok, tapi karena keanggunannya yang alami.
Di balik meja itu, duduk seorang pria bertubuh gempal berkacamata, wajahnya berkeringat oleh panas yang menggantung di udara. Belum sempat gadis itu membuka mulut untuk memperkenalkan diri, pria itu sudah lebih dulu berkata—seolah sudah menunggu kedatangannya.
"Ibu ini yang mau lamar kerja, anaknya Pak Usman Adi, Camat Balikpapan Utara?"
Gadis itu mengerutkan alis, sedikit terkejut. "Kok tahu, Pak? Apa tadi Bapak yang dihubungi oleh bapak saya?"
Pria di meja front office itu—bernama Affandy Hamka, biasa dipanggil Fandy—menggeleng pelan sambil tersenyum canggung. "Oh, bukan. Mungkin Pak Ketua yang dihubungi. Tadi saya diberi tahu, katanya anak Pak Camat Balikpapan Utara mau datang melamar kerja di sini."
Fandy kemudian mempersilakan wanita muda itu duduk di kursi yang berhadapan dengannya.
"Bawa CV-nya?" tanyanya, mencoba terdengar profesional meski jantungnya entah kenapa berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya.
Wanita muda itu mengangguk, membuka tasnya, lalu mengeluarkan map dan menyerahkannya kepada Fandy.
Fandy menerimanya dengan kedua tangan, membuka Map yang berisi CV , dan matanya menelusuri baris demi baris tulisan di sana. "Salma Siti Aulia Bella Ayu Sabrina Usman... panjang juga namanya, ya," gumamnya sambil tersenyum kecil. "Biasa dipanggil siapa?"
"Salma saja, Pak," jawab gadis itu, suaranya lembut namun mantap.
"Baik. CV-nya di tinggal dulu. Nanti akan ada rapat pimpinan. Kalau disetujui, Bu Salma akan dihubungi untuk wawancara, dan Insya Allah bisa mulai bekerja di sini setelah di wawancara," kata Fandy sambil mengangkat wajahnya dari kertas CV di tangannya.
Dan di saat itulah pandangan mereka bertemu.
Untuk sepersekian detik, waktu seakan berhenti berputar. Fandy—pria yang selama ini lebih akrab dengan kesendirian daripada dengan cinta, yang luka hatinya jauh lebih banyak menumpuk ketimbang kebahagiaan yang pernah ia rasakan—tertegun di tempat duduknya.
Di hadapannya, duduk seorang wanita yang seolah keluar dari lukisan yang paling indah yang pernah ia bayangkan. Wajahnya bersih bercahaya, alisnya rapi bagaikan barisan semut yang berjalan teratur, bulu matanya lentik melengkung anggun, dan matanya—sepasang mata hitam yang bening, seolah menyimpan telaga tenang di dalamnya. Hidungnya mancung mungil, bibirnya penuh berwarna merah delima, seakan menyimpan senyum yang belum sepenuhnya terungkap. Balutan hijab pashmina hitam yang membingkai wajahnya membuat kecantikannya terasa begitu teduh, begitu terjaga.
Fandy menatap wajah itu, dan untuk sesaat ia lupa cara bernapas.
Ada getar aneh yang menjalar dari dadanya, seperti radio tua yang tiba-tiba menangkap sinyal setelah bertahun-tahun hanya berisi derau. Ia yang selama ini memilih diam di antara empat dinding kamarnya, yang telah lama mengunci hatinya rapat-rapat sejak pernikahan singkatnya berakhir dengan luka yang tak pernah benar-benar sembuh, kini merasa sesuatu di dalam dirinya retak perlahan — bukan oleh amarah atau duka, melainkan oleh sepasang mata bening yang menatapnya balik kaca mata tanpa curiga.
Senja yang lama pergi dari hidupnya, pikirnya, rasanya baru saja kembali, dalam wujud seorang gadis berhijab hitam yang bahkan tak tahu betapa besar keributan yang baru saja ia timbulkan di dalam dada seorang pria yang sudah lama berhenti berharap.
Affandy Hamka buru-buru menunduk, pura-pura merapikan tumpukan berkas di mejanya. Jantungnya berdegup terlalu kencang untuk ukuran pertemuan kerja yang seharusnya biasa saja.
"Pak? Bapak baik-baik saja?" suara Salma memecah lamunannya.
Fandy tergagap, "Oh, i-iya, saya baik. Maaf, tadi saya... mikirin berkas lain," ia berbohong, sambil membetulkan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak melorot.
Salma tersenyum tipis, sopan, lalu matanya tanpa sengaja jatuh ke punggung tangan kanannya sendiri — ada plester hansaplast kecil menempel di sana, kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali kulitnya terasa gatal karena eksim yang sering kambuh. Ia menggaruk pelan bagian pinggir plester itu, gerakan kecil yang entah kenapa membuat Fandy semakin memperhatikannya — bukan karena aneh, tapi karena terasa begitu manusiawi, begitu jujur, begitu berbeda dari kepalsuan yang selama ini ia temui.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya tunggu kabarnya," kata Salma sambil berdiri, merapikan ujung roknya yang hitam panjang.
"Iya, Bu Salma. Nanti kami hubungi lewat nomor yang tertera di CV," jawab Fandy, berusaha terdengar profesional meski suaranya sedikit bergetar.
Salma mengangguk, tersenyum sekali lagi — senyum yang sederhana, tanpa maksud apa-apa — lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan front office itu. Aroma parfum lembut yang ia tinggalkan masih menggantung di udara, dan Fandy hanya bisa duduk terpaku, memandangi pintu yang baru saja tertutup.
Ia menghela napas panjang, entah yang keberapa kali hari itu.
Ya Allah, batinnya, baru saja aku berjanji tak akan pernah percaya lagi pada rasa semacam ini.
Namun hatinya, yang telah lama ia kira mati rasa, kini justru berbisik pelan — bahwa mungkin, senja yang dulu pergi dari hidupnya, tak benar-benar pergi selamanya.
***
Balikpapan, Sabtu, 11 Juli 2026
YOU ARE READING
SALMA : KETIKA SENJA PERGI
General FictionSALMA: Ketika Senja Pergi KISAH INI TERINSPIRASI DARI KISAH NYATA DI BUMI KE 1 DAN PUISI CINTA DAN PATAH HATI KARYA AFFANDY HAMKA Di tengah teriknya Balikpapan yang membakar akibat "El Nino Godzilla," takdir mempertemukan dua jiwa yang tak pernah m...
