Semua berawal dari sebuah kesalahan satu momen yang seharusnya tak pernah terjadi. Sebuah dosa besar yang lahir dari ketidaksengajaan namun justru terasa begitu candu, begitu indah, dan sulit untuk dilupakan.
Dia tahu ini salah. Mereka berdua tahu b...
Cerita ini sepenuhnya merupakan karya fiksi yang dibuat oleh penulis. Seluruh tokoh, alur, dan kejadian yang ada di dalam cerita ini hanyalah hasil imajinasi dan tidak memiliki keterkaitan dengan kehidupan nyata.
Cerita ini mengandung unsur Boy x Boy (BL) serta beberapa tema dewasa. Diharapkan pembaca yang belum cukup umur atau merasa tidak nyaman dengan genre tersebut untuk tidak melanjutkan membaca.
Segala hal yang berkaitan dengan kesehatan, tindakan, maupun kejadian tertentu dalam cerita ini juga tidak dapat dijadikan acuan nyata, karena murni merupakan bagian dari cerita fiksi.
Bijaklah dalam membaca, dan nikmati cerita ini sebagai hiburan semata.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Langkah kaki yang bergema di sepanjang koridor gedung fakultas di New York itu terasa jauh lebih berat daripada beban buku-buku referensi yang dipeluk Jimin dengan erat. Di bawah temaram lampu universitas swasta ternama ini, Jimin hanyalah seorang mahasiswa semester awal yang berusaha meleburkan diri di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur. Namun, sejauh apa pun ia melangkah meninggalkan tanah kelahirannya, bayang-bayang ketidaknyamanan dari rumah yang kini ia tumpangi di sudut kota ini tetap mengikuti seperti kabut tebal yang enggan menyingkir.
New York seharusnya menjadi lembaran baru, tempat di mana ia menjalani kuliah menikmati masanya sebagai mahasiswa baru, namun kenyataan bahwa ia harus tinggal satu atap dengan kakaknya, Park Yoona yang kini telah menyandang nama belakang Jeon membuat kebebasannya terasa semu. Hubungan mereka bukanlah sekadar kerenggangan biasa, melainkan sebuah teka-teki pahit yang tidak pernah bisa Jimin pecahkan.
Sejak kecil, meski orang tua mereka menghujani keduanya dengan kasih sayang yang setara tanpa pilih kasih, Yoona selalu memandang Jimin dengan sorot mata penuh permusuhan yang tak beralasan. Kebencian itu tumbuh subur seiring bertambahnya usia, menjelma menjadi tembok besar yang memisahkan darah daging yang seharusnya saling mendukung.
Entah apa alasannya yang pasti bukan karena kurangnya kasih sayang orang tua mereka tapi karena Yoona lah yang merasa tersaingi oleh adiknya sendiri mungkin dari segi pesona di mana Jimin jauh lebih unggul di mata orang-orang. Padahal Jimin tidak pernah merasa begitu, ia hanya ingin menjadi adik yang normal, mengobrol tentang keseharian, atau sekadar berbagi tawa di meja makan. Sifat rendah hati Jimin yang selalu berusaha mengalah dan tidak menonjolkan diri justru sering kali disalahartikan oleh Yoona sebagai bentuk kepura-puraan untuk menarik simpati.
Setiap kali mereka berada dalam satu ruangan atmosfer seketika berubah menjadi dingin dan mencekam, seolah-olah udara di sekitar mereka tersedot habis oleh rasa dengki yang dipelihara sang kakak selama bertahun-tahun.