BAB 1
MEJA DI DEKAT JENDELA
Hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda akan berhenti.
Butiran air mengalir di permukaan jendela restoran, membiaskan cahaya papan iklan elektronik dari gedung-gedung di seberang jalan. Tulisan berwarna putih pada layar raksasa berganti setiap beberapa detik.
MASA DEPAN TANPA BATAS.
BEKERJA LEBIH CEPAT DENGAN KECERDASAN BUATAN.
EFISIENSI ADALAH KUNCI BERTAHAN.
Alden hanya sempat membaca kalimat terakhir sebelum layar berubah menjadi iklan sebuah perusahaan elektronik pintar.
Ia mengalihkan pandangan dan kembali menyusun sumpit di atas meja.
Ujung sumpit harus sejajar. Serbet tidak boleh terlalu dekat dengan mangkuk. Gelas diletakkan sedikit di sisi kanan agar pelanggan tidak menjatuhkannya ketika mengambil menu.
Alden menggeser satu gelas beberapa milimeter.
Kemudian ia mengamati meja itu sekali lagi.
Masih terasa tidak tepat.
Ia memindahkan wadah bumbu sedikit ke kiri.
"Tidak akan ada pelanggan yang mengukur jaraknya," kata seorang rekan kerja dari balik meja kasir.
Alden tidak menoleh. "Aku tahu."
"Kalau begitu, kenapa masih diperbaiki?"
"Karena miring."
Rekan kerjanya menghela napas, lalu kembali memperhatikan layar kasir.
Restoran itu dahulu mempekerjakan dua belas orang dalam satu giliran kerja. Sekarang hanya tersisa lima. Sebagian meja telah dilengkapi layar pemesanan otomatis. Dua robot pengantar makanan bergerak perlahan di antara lorong-lorong, membawa nampan dari dapur menuju meja pelanggan.
Pemilik restoran menyebut perubahan tersebut sebagai modernisasi.
Para pegawai menyebutnya tanda peringatan.
Tiga orang diberhentikan pada bulan sebelumnya. Dua lainnya diminta menerima pengurangan jam kerja. Sejak robot kedua datang, tidak ada lagi pegawai yang bertugas khusus mengantarkan makanan.
Alden masih dipertahankan karena ia bisa memasak ketika dapur kekurangan orang, membersihkan meja dengan cepat, dan menghadapi pelanggan yang kesulitan menggunakan layar pemesanan.
Namun, ia tahu tidak ada keterampilan yang benar-benar aman.
Di luar restoran, perusahaan besar terus mengumumkan sistem baru yang mampu melakukan pekerjaan manusia dengan biaya lebih murah. Di dalam restoran, Alden hanya berusaha memastikan sumpit tetap sejajar.
Ia sedang mengelap meja di dekat jendela ketika pintu otomatis terbuka.
Udara dingin dan aroma hujan masuk bersama tiga orang.
Seorang laki-laki dewasa mengenakan mantel gelap berdiri di ambang pintu. Rambutnya sedikit basah. Ia membawa seorang anak kecil di lengan kiri, sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan anak lain yang lebih besar.
Laki-laki itu berhenti sejenak, mengamati ruangan seperti sedang memastikan tempat tersebut cukup aman untuk dimasuki.
Anak yang digendongnya bergerak gelisah.
"Ayah, aku mau turun."
"Lantainya basah."
"Aku bisa jalan."
"Kau baru saja hampir jatuh di depan pintu."
"Aku tidak jatuh."
"Hampir."
YOU ARE READING
Di Antara Kendali
General FictionDi tengah krisis ekonomi global akibat perkembangan AI yang tak terkendali, empat pria di Taiwan menjalani hidup yang terikat oleh cinta, kekuasaan, keluarga, dan rahasia. Alden mencari keamanan dalam pernikahan bersama Raka, seorang pria dingin yan...
