02. Lilac

11 4 0
                                        

"First love."


"Hai, masa lalu. Bagaimana rasanya bertemu dengan mantan calon pacar?"

Entah linglung atau ... hampir tidak waras. Tiba-tiba, di waktu yang seharusnya Kirana melakukan sesi wawancara bersama seorang Respati Rengganis, kini justru berubah.

Sebentar, mari mengingat lagi penyebab Kirana kini duduk berseberangan dengan Bagaskara ... sosok dari masa lalu yang terlalu melekat di ingatan.

Di hari ketika Bagaskara didatangi oleh Kiara di perusahaan, pria itu segera meminta untuk diganti reporter yang akan mewawancara dirinya. Atau sesi wawancara terancam tidak akan pernah berjalan. Bagaskara bahkan memperingati pihak majalah Buzz Times agar tidak sembarangan mengirimkan reporter yang kurang kompeten menurutnya.

Ketika Bagaskara mengetahui bahwa reporter yang ditugaskan kepada sang ayah adalah Kirana, Bagaskara semakin bersikukuh agar dua reporter itu bertukar tugas.

Bahkan Bagaskara berusaha untuk meyakinkan sang ayah, hingga menceritakan bagaimana ia merasa tidak nyaman disebabkan oleh Kiara. Respati yang mengetahui anak lelakinya menjadi target Kiara, maka ia meminta agar kirana ditugaskan kepada Bagaskara, dan reporter yang akan mewawancara Respati diganti dengan yang lebih senior dan tahu akan batasan.

Berselang waktu satu hari sebelum jadwal wawancara tiba, Kirana dikejutkan dengan informasi perubahan tersebut. Wanita itu mendadak linglung, bahkan lupa sudah melakukan apa saja di hari sebelum bertemu dengan Bagaskara.

Dan ya ... kini mereka bertemu kembali. Duduk berseberangan dan bertatapan. Ada kosong yang terlihat dari sorot mata Kirana.

"Sesi wawancara akan langsung dilakukan, atau kita mau ngobrol-ngobrol dulu, Ra? Nostalgia mungkin," kata Bagaskara begitu santai. Seperti tidak ada sesuatu yang mengganggu pria itu ketika bertemu kembali dengan Kirana. "Ngomong-ngomong sudah berapa lama kita nggak ketemu? Sekitar delapan tahun atau ... mungkin sembilan tahun?"

Kirana membuang napas panjangnya perlahan-lahan. Wanita itu memejamkan mata, kedua tangannya meremas kuat celana hitam yang ia kenakan.

"Loh, ngantuk? Mau aku panggilkan sekretaris supaya antar kamu ke ruang istirahat dulu?" Bagaskara masih saja berceloteh sendiri.

Melakukan wawancara dan ... selesai. Begitu rencana yang ada di kepala Kirana. Wanita itu enggan untuk membuang waktu dengan meladeni celotehan lain dari Bagaskara.

Tentu Kirana sudah mengerti betul bagaimana perangai Bagaskara yang lumayan tengil dan tidak jarang berlaku usil kepadanya. Kendati terlihat lebih tenang dengan raut tegas yang cukup mirip dengan sang ayah, Kirana yakin betul, Bagaskara tetaplah Bagaskara di masa lalu yang pernah ia kenali perangainya.

Agak mengacaukan fokus ketika bertemu dengan Bagaskara lagi setelah sekian tahun. Ada punggung yang kentara sekali semakin lebar. Ada dada yang menonjol semakin bidang. Dan sepasang lengan yang terbalut fabrik tidak menutupi yang di dalam sana ikut membesar juga.

Beberapa kali Kirana berusaha membuang muka agar tidak selalu bertatapan dengan Bagaskara. Suasana menjadi semakin canggung ketika mereka dibiarkan hanya duduk berdua di sebuah ruangan pertemuan.

Ada sepasang mata yang sedari tadi menatapnya dalam, Kirana yakin sekali dengan hal itu. Ia berdehem pelan sembari melihat-lihat lagi daftar pertanyaan yang semula ia susun untuk seseorang berposisi tinggi di perusahaan WILLOW.

"Rambut kamu semakin panjang dan bergelombang," ujar sang pria. Ia memindai penampilan Kirana yang terlihat dari ujung kepala hingga berakhir pada sisi meja yang menghalangi. "Dulu rambutmu lurus dan hitam ... sekarang agak kecoklatan," imbuhnya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 25 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Childhood Love!Stories to obsess over. Discover now