We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

2 0 0
                                        

Rumah yang Selalu Terlihat Sempurna

Di kota yang tidak pernah benar-benar sepi, berdiri sebuah rumah berwarna putih dengan pagar hitam yang selalu tampak rapi. Halaman depannya dipenuhi bunga hydrangea berwarna biru yang mekar sepanjang musim hujan. Dari luar, rumah itu terlihat seperti rumah impian.

Dan memang, hampir semua orang menganggap keluarga Ivy adalah keluarga yang sempurna.

Tidak pernah terdengar pertengkaran.

Tidak pernah terlihat kekurangan.

Tidak pernah ada masalah.

Setidaknya... begitulah yang dilihat orang lain.

...

Keenan Victoria Ivy adalah sosok ibu yang hangat, perhatian, dan selalu berusaha hadir untuk keluarganya. Ia terbiasa mengurus segala kebutuhan anak-anaknya, memastikan mereka makan tepat waktu, beristirahat dengan cukup, dan tidak kekurangan apa pun. Namun, di balik kelembutannya, Keenan memiliki keyakinan yang kuat bahwa orang tua harus mengarahkan anak-anak menuju masa depan yang aman dan menjanjikan. Baginya, kasih sayang juga berarti memastikan anak-anaknya tidak mengambil jalan yang menurutnya penuh ketidakpastian.

Rylan Alexander Ivy adalah ayah yang tenang dan penyabar. Ia bukan tipe yang mudah marah atau meninggikan suara. Sebaliknya, ia lebih sering menyampaikan pendapat dengan logika dan pertimbangan yang matang. Sebagai kepala keluarga, Rylan percaya bahwa pengalaman hidup membuatnya mampu melihat apa yang terbaik untuk anak-anaknya. Ia selalu mendengarkan sebelum mengambil keputusan, tetapi ketika sebuah keputusan telah ditetapkan, ia berharap seluruh keluarganya dapat menerimanya sebagai pilihan yang paling bijaksana.

Mereka memiliki lima anak.

Elora Meredith Ivy, putri pertama berusia dua puluh tujuh tahun, merupakan seorang pengajar sekaligus peneliti di bidang Bahasa Inggris. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan dan penelitian membuatnya dikenal sebagai sosok yang cerdas, disiplin, dan berwawasan luas. Meski terlihat serius saat bekerja, Elora sebenarnya sangat perhatian terhadap adik-adiknya dan sering memberikan nasihat ketika mereka menghadapi kesulitan.

Kayran Evelyn Ivy, putri kedua berusia dua puluh lima tahun, bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit. Ia memiliki sifat penyayang, sabar, dan sigap dalam membantu siapa pun yang membutuhkan. Senyumnya yang hangat membuat orang-orang merasa nyaman berada di dekatnya.

Axel Julian Ivy, anak ketiga sekaligus putra satu-satunya, adalah seorang pengusaha muda yang berhasil membangun usahanya sendiri di bidang teknologi. Jiwa kepemimpinan, keberanian mengambil risiko, dan semangat pantang menyerah membuatnya menjadi sosok yang dikagumi keluarga.

Florance Adelia Ivy, si bungsu yang baru berusia tujuh belas tahun, memiliki sifat ceria, mudah bergaul, dan selalu membawa energi positif ke mana pun ia pergi. Ia mampu mencairkan suasana dengan candaan-candaannya dan menjadi penghubung di antara seluruh anggota keluarga.

Di antara mereka semua...

Ada Hazel Olivia Ivy.

Anak keempat.

Berusia sembilan belas tahun.

Yang paling pendiam.

Yang paling sulit ditebak isi pikirannya.

Dan... yang paling sering terlupakan.

Bukan karena keluarganya tidak menyayanginya.

Melainkan karena Hazel tidak pernah meminta untuk diperhatikan.

Ia terbiasa mengurus semuanya sendiri, terbiasa menjawab "tidak apa-apa", dan terbiasa mengalah tanpa diminta. Sedikit demi sedikit, kebiasaan itu membuat semua orang mengira Hazel memang baik-baik saja.

Padahal...

Tidak selalu demikian.

...

Hazel bukan anak yang bermasalah.

Sejak kecil ia jarang menangis.

Jarang membantah.

Jarang meminta sesuatu.

Jika diberi mainan, ia akan mengucapkan terima kasih.

Jika tidak diberi, ia juga tidak akan protes.

Saat anak-anak lain berlarian di taman, Hazel lebih suka duduk di bawah pohon sambil membawa buku gambar yang ukurannya hampir sama besar dengan tubuh kecilnya.

Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menggambar langit.

Menggambar dedaunan.

Menggambar orang-orang yang bahkan tidak pernah ia kenal.

Tidak ada yang mengajarinya.

Tidak ada yang memaksanya.

Menggambar hanyalah satu-satunya cara Hazel memahami dunia.

Saat ia bahagia, warna-warnanya menjadi cerah.

Saat ia sedih, langit di dalam gambarnya berubah menjadi kelabu.

Ketika ia bingung...

Ia hanya terus menggambar.

Karena itu, tidak ada yang benar-benar memperhatikan ketika lemari dan laci meja belajar Hazel perlahan dipenuhi tumpukan sketchbook. Satu demi satu buku gambar ia simpan dengan rapi, berisi pemandangan, wajah-wajah yang pernah ia lihat, bunga, langit, hingga berbagai imajinasi yang hanya ada di dalam pikirannya. Tidak ada yang pernah benar-benar membuka atau menanyakan isi sketchbook itu, dan Hazel pun tidak pernah berniat menunjukkannya kepada siapa pun. Baginya, setiap goresan pensil adalah cara paling jujur untuk mengungkapkan apa yang tidak sanggup ia katakan dengan kata-kata.

...

Keluarga Ivy selalu mendukung setiap hobi anak-anak mereka.

Asalkan...

Hobi itu tidak mengganggu masa depan.

Kalimat itu begitu sering diucapkan hingga Hazel hafal setiap nadanya.

"Hobi boleh, tapi pekerjaan tetap nomor satu."

Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam sebelum tidur, Hazel selalu membayangkan dirinya berdiri di sebuah studio seni, mengenakan celemek yang dipenuhi noda cat, kemudian melukis di atas kanvas berukuran besar hingga matahari terbenam.

Itu adalah mimpi yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.

Termasuk keluarganya.

Bukan karena ia tidak percaya kepada mereka.

Melainkan karena...

Entah mengapa, setiap kali ingin mengatakannya, ia selalu merasa jawabannya sudah ia ketahui.

"Tidak."

...

Hazel tumbuh menjadi gadis yang pandai menyembunyikan perasaannya.

Ia tersenyum ketika diminta tersenyum.

Ia mengangguk ketika diminta mengangguk.

Ia menjawab, "Tidak apa-apa," bahkan ketika dadanya terasa sesak.

Bagi orang lain, Hazel hanyalah gadis introver yang sedikit pemalu.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajahnya yang tenang, pikirannya tidak pernah benar-benar diam.

Ia menyimpan kegelisahan, harapan, dan ketakutannya seorang diri.

Sangat pandai.

Dan tanpa disadari siapa pun...

Kemampuan itu perlahan akan menjadi alasan mengapa suatu hari nanti, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Hazel sedang kehilangan dirinya sendiri.

Bahkan keluarganya sendiri.

Hazel IvyStories to obsess over. Discover now