Kabut pekat berwarna kelabu menyelimuti Hutan Terlarang. Tidak ada suara jangkrik, tidak ada desau angin; yang ada hanyalah keheningan yang menyesakkan dada, seolah hutan itu sendiri sedang menahan napas.
Di tengah kegelapan hutan yang lebat, berdiri sebuah kastel kuno dengan menara-menara tajam yang menembus langit malam.
Baunya tidak pernah berubah: aroma logam karat yang bercampur dengan tanah basah dan sisa-sisa pembusukan organik yang manis namun memuakkan.
Di puncak bukit yang curam, kastel itu berdiri, sebuah monumen penderitaan yang mematikan.
Aya berdiri di depan gerbang besi yang menjulang tinggi-mematung selama beberapa saat. Dia bukan tipe orang yang percaya pada takhayul atau mitos-mitos lokal yang sering diceritakan penduduk desa di bawah sana.
Baginya, ketakutan hanyalah reaksi kimia di otak yang bisa ditekan dengan logika. Namun, bahkan logikanya pun mulai goyah saat jemarinya menyentuh gerigi gerbang yang dinginnya seperti es yang abadi.
KREEEEK-
Suara gesekan logam yang berkarat itu memenuhi udara, memecah kesunyian hutan yang seolah menahan napas. Gerbang itu terbuka dengan perlahan, seolah kastel itu sendiri sedang menjerit menyambut tamu yang tidak diundang.
Aya melangkah masuk. Mantel detektif klasik berwarna cokelat tua yang dikenakannya berkibar tertiup angin malam yang menusuk tulang. Begitu kakinya menginjak halaman dalam, dia merasakan sensasi aneh yang menjalar dari telapak kakinya.
Tanah di bawah sepatunya terasa empuk-bukan karena rumput yang subur, melainkan karena lapisan daun busuk dan sisa-sisa organik yang entah sudah berapa abad menumpuk di sana. Itu adalah tanah yang menyimpan ribuan cerita kematian.
"Tempat ini bau banget," gumam Aya, memecah kesunyian dengan suaranya sendiri. "Bau keputusasaan dan debu."
Dia mengeluarkan ponselnya, berharap menemukan satu batang sinyal saja. No Service. Aya mendengus, memasukkannya kembali ke saku mantel. Sebagai detektif, dia tidak datang karena tersesat.
Dia datang karena riset arsip kunonya menunjuk ke kastel ini sebagai tempat persembunyian Snack Suci-botol rempah legendaris yang resepnya telah hilang dari peradaban.
Dia tidak langsung masuk ke pintu utama. Dia memutar lewat samping, melewati taman labirin yang sudah mati. Duri-duri tanaman merambat di sana tajam seperti belati, seolah sengaja memanjang untuk menyambut siapa saja yang lewat.
Aya harus berjongkok, merangkak di bawah akar pohon besar yang melilit dinding kastel.
Di sana, dia menemukan lubang di dinding batu yang tertutup jeruji besi. Dengan satu hentakan kuat, dia berhasil membengkokkan jeruji itu.
Di dalam dinding tersebut, Aya menemukan sebuah ruangan kecil yang penuh dengan artefak aneh. Ada jam dinding raksasa yang jarumnya berputar terbalik, dan sebuah kotak musik tua yang berputar sendiri tanpa ada yang memutar kuncinya. Aya menahan napas. Dia tidak menyentuh apa pun, hanya mengamati.
"Tempat ini punya sistem pertahanan," gumamnya."Bukan cuma bangunan, ini punya otak."
Setelah keluar dari celah itu, dia baru memutuskan untuk mengitari pelataran depan. Di balik dinding penahan tanah, dia menemukan deretan patung batu yang sudah hancur termakan zaman. Patung-patung itu bukanlah karya seni yang indah.
Mereka adalah patung orang-orang yang tampak nyata-dengan ekspresi wajah yang sangat mengerikan. Tangan mereka menutup mulut, mata mereka terbelalak menatap kosong ke arah langit, seolah mereka sempat berteriak minta tolong sebelum akhirnya membatu di tempat.
Aya berhenti di depan salah satu patung, sebuah patung kecil yang tampak seperti anak laki-laki. Dia menyalakan lampu senter lebih terang, menyorot detail pahatan di wajah patung itu. "Kalian denger sesuatu, ya?" tanyanya pelan. Tidak ada jawaban, kecuali suara gesekan ranting pohon di atas kepalanya yang terdengar seperti bisikan jahat.
Tiba-tiba, dia merasakan hawa dingin di tengkuknya. Aya membeku. Sensasi saat seseorang-atau sesuatu-mengawasinya dari balik kegelapan. Dia tidak menoleh. Dia tetap menyorotkan senternya ke arah patung itu, namun matanya mulai memindai bayangan di tanah.
Ada sesuatu di belakang pilar itu.
Aya memutar tubuhnya dengan cepat, mengarahkan senter ke arah bayangan. Kosong. Hanya ada debu yang menari-nari dalam cahaya.
Tapi, dia menemukan sesuatu di lantai: jejak kaki kecil yang baru saja tercetak di atas debu. Jejak itu tidak mengarah ke pintu, melainkan ke dinding. Seolah-olah ada sesuatu yang berjalan menembus batu.
"Oke, Aya. Tenang," bisiknya pada diri sendiri. "Ini cuma sugesti. Fokus pada tujuan. Snack Suci. Botol rempah purba. "Jangan sampai ketakutanmu membuatmu melewatkan detail kecil".
Aya menarik napas dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang mulai berpacu liar. Dia tidak akan lari. Dia detektif. Rasa penasarannya jauh lebih besar dari pada rasa takutnya. Dia adalah Aya, seseorang yang tidak akan pergi sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan.
Saat senternya berpindah ke arah pintu utama, Aya melihat jejak kaki di debu lantai aula yang tebal. Jejak itu kecil, menyeret, dan jumlahnya banyak-seperti puluhan makhluk kecil yang berjalan beriringan menuju ke dalam kegelapan aula.
Dia melangkah masuk. Aula itu luas, penuh dengan sisa perabotan kuno yang sudah menjadi sarang laba-laba. Langit-langitnya begitu tinggi hingga senternya tidak bisa menjangkau puncak kegelapan di atas sana.
Tiba-tiba, suara Heh... heh... heh... terdengar dari dinding sebelah kiri.Aya memutar tubuhnya cepat. Tidak ada apa-apa.
Heh... heh... heh...
Suara itu kini datang dari belakang punggungnya. Suara napas serak yang sangat dekat hingga terasa dingin di tengkuknya.
Aya berbalik, siap dengan spray lada. Namun, tidak ada siapa-siapa. Dia hanya melihat sebuah kancing perak yang tergeletak di tengah retakan lantai, masih berlumuran darah segar.
Aya tidak langsung memungutnya. Dia mengamati sekeliling. Jebakan, pikirnya. Dia melempar cermin kecil miliknya ke arah kancing itu.
Cring!
Lantai di sekitarnya langsung bergetar dan mengeluarkan duri-duri tajam dari dalam retakan-sebuah mekanisme pertahanan kastel yang sangat mematikan.
Aya menunggu duri itu masuk kembali, lalu dia melompat dan menyambar kancing itu dalam satu gerakan cepat. Kancing itu terasa berat, seolah membawa kutukan pemilik sebelumnya.
Belum sempat dia memeriksa kancing tersebut, sebuah bayangan melintas di balik pilar. Sesosok makhluk putih menyerupai sprei dengan dua lubang mata besar yang kosong muncul.
Makhluk itu melayang dengan kedataran yang tidak wajar. Aya, yang sudah terbiasa menghadapi situasi absurd, justru menatap makhluk itu dengan tatapan menghakimi.
"Lu hantu apa kain lap?" tanya Aya datar.
Hantu itu tertegun, seolah tidak percaya ada manusia yang berani menanyainya seperti itu. Sebelum hantu itu sempat mengeluarkan suara seram, Aya sudah memiting kepala makhluk halus itu dan dengan brutal mengeluarkan peralatan kosmetik dari tasnya. Dia menyapukan eyeliner tajam, blush-on merah cabai, dan lipstik yang belepotan ke wajah si hantu.
° ✩ ° ⋆ ° ✩ °
Cerita pertamaku : Misteri Kastel
Selamat membaca! 🙏
Kritik dan saran sangat berarti
YOU ARE READING
𝐌𝐢𝐬𝐭𝐞𝐫𝐢 𝐊𝐚𝐬𝐭𝐞𝐥 [𝐄𝐍𝐃]
ActionBagi Aya, ketakutan hanyalah reaksi kimia di otak yang bisa ditekan dengan logika. Namun, saat riset arsip kunonya membawanya ke Kastel -tempat persembunyian Snack Suci yang legendaris-logikanya mulai diuji. Kastel ini bukan sekadar bangunan tua. Ia...
![𝐌𝐢𝐬𝐭𝐞𝐫𝐢 𝐊𝐚𝐬𝐭𝐞𝐥 [𝐄𝐍𝐃]](https://img.wattpad.com/cover/413407142-64-k705514.jpg)