We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

PINDAH

12 2 0
                                        

..
..
..

Pukul 01.47.
..
..

Di kota ini, ada tempat-tempat yang tidak tercantum di peta.
Tempat yang tidak memiliki papan nama.
Tempat yang hanya diketahui oleh orang-orang yang memiliki cukup uang untuk membeli rahasia.

Malam itu, hujan turun dengan pelan.
Lampu neon merah menyala redup di balik kaca hitam sebuah bangunan tua yang tampak seperti kafe biasa.
Dari luar, tidak ada yang istimewa.
Hanya sebuah kafe yang buka hingga larut malam.
Namun di balik pintu kayu itu, ada dunia lain.
Dunia yang tidak pernah tidur.
Dunia tempat uang berpindah tangan lebih cepat daripada napas manusia.
Dunia tempat orang-orang kehilangan segalanya sambil tersenyum.
Dan malam itu, seseorang sedang kehilangan lebih dari sekadar uang.

"Aku mohon..."
Pria setengah baya itu jatuh berlutut.
Tangannya gemetar.
Keringat bercampur air hujan menetes dari wajahnya.

"Aku akan membayar semuanya. Beri aku waktu."

Tak ada yang menjawab.
Suasana ruangan terlalu sunyi.
Yang terdengar hanya dentingan chip perjudian dan suara musik jazz yang mengalun pelan dari kejauhan.
Di hadapan pria itu, duduk seseorang.
Terlalu muda.
Terlalu muda untuk berada di tempat seperti ini.
Ia mengenakan seragam sekolah.
Kemeja putih.
Dasi yang longgar.
Lengan yang digulung hingga siku.
Tangannya menopang dagu.
Tatapannya datar.

"Berapa kali kau mengatakan itu?"
Suara itu tenang.
Sangat tenang.
Pria itu menunduk semakin dalam.

"Saya mohon..."

Anak laki-laki itu menghela napas.
Lalu berdiri.
Perlahan.
Tidak ada yang berani bergerak.
Tidak ada yang berani bicara.
Bahkan pria-pria dewasa yang berdiri di belakangnya menundukkan kepala.
Ia berjalan mendekati jendela.
Menatap hujan yang turun di luar.

"Kalau semua permohonan bisa menyelesaikan masalah..."
katanya pelan.
Ia tersenyum tipis.

"...aku tidak perlu membangun tempat ini."

Ruangan kembali sunyi.
Anak laki-laki itu mengeluarkan ponselnya.
Layar ponsel menyala.
Sebuah notifikasi muncul.

Pengumuman Sekolah

Besok akan ada siswa pindahan baru di kelas XII-A.

Ekspresinya berubah.
Bukan karena utang.
Bukan karena ancaman.
Bukan karena uang.
Melainkan karena sebuah nama.
Nama yang entah mengapa membuatnya berhenti bernapas selama beberapa detik.

Anak laki-laki itu menatap nama itu lama.
Sangat lama.
Lalu mematikan layar ponselnya.
Ia tidak tahu.
Bahwa beberapa hari lagi.
Seorang siswa akan masuk ke dalam hidupnya.
Dan menghancurkan semua aturan yang selama ini ia buat.

..
..
..

ASTER SVARMA

Aster Svarma tidak tahu mereka akan pindah ke mana.

Yang ia tahu, semalam ayahnya berdiri di depan pintu kamar, mengetuk pelan, lalu mengatakan satu hal yang sudah terlalu sering ia dengar selama setahun terakhir.

"Kita harus mengosongkan rumah sebelum sore besok."

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada alamat baru.

Tidak ada pertanyaan apakah Aster siap atau tidak.

Dan entah sejak kapan, Aster juga berhenti bertanya.

Sejak pagi, ia sibuk memasukkan barang-barangnya ke dalam koper.

Tidak banyak.

Beberapa seragam sekolah.

RAHASIA DIBALIK SERAGAMStories to obsess over. Discover now