Sebuah perjanjian ditandatangani dengan darah, mengakhiri perang yang telah berlangsung selama berabad-abad.
Dua pewaris takhta dipaksa berdiri di bawah sumpah yang sama, terikat oleh nama, mahkota, dan rahasia yang tak pernah tertulis dalam isi pe...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Langit sore diselimuti warna jingga yang pucat. Gerbang utama Kerajaan Scarlet perlahan terbuka, diiringi derap langkah para prajurit yang kembali dari perbatasan.
Tidak ada sorak kemenangan. Tidak ada parade yang meriah. Hanya wajah-wajah lelah yang dipenuhi debu, darah, dan luka.
Sebagian pulang dengan kedua kaki. Sebagian lagi harus ditopang oleh rekan seperjuangannya. Dan sebagian... tak pernah kembali.
Zhong Chenle berdiri di balkon istana, memandang barisan panjang itu tanpa sepatah kata. Setiap perang selalu berakhir seperti ini. Tak ada yang benar-benar menang.
"Yang Mulia Putra Mahkota." Seorang kesatria membungkuk hormat di belakangnya. "Raja memanggil Anda." Chenle mengangguk pelan.
"Aku akan menyusul." Namun langkahnya justru berbelok menuju tangga yang mengarah ke kota. Ia ingin melihat keadaan rakyatnya terlebih dahulu.
Suasana pasar jauh lebih lengang dibanding biasanya. Beberapa toko masih tutup. Seorang pedagang sedang membereskan barang dagangannya dengan wajah murung.
Di sisi lain, seorang perempuan memeluk erat suaminya yang baru pulang dari medan perang sambil menangis. Chenle hanya berjalan pelan.
Sesekali ia membalas sapaan rakyat dengan anggukan kecil. Hingga langkahnya berhenti. Di depan sebuah rumah sederhana, seorang anak laki-laki duduk di anak tangga.
Usianya mungkin baru delapan atau sembilan tahun. Di tangannya tergenggam sebuah pedang kayu yang mulai usang.
Tatapannya terus mengarah ke gerbang kota. Seolah sedang menunggu seseorang. Chenle menghampirinya.
"Sedang menunggu siapa?" Anak itu mendongak. "Papa." Jawaban singkat itu membuat Chenle tersenyum tipis. "Ayahmu ikut berperang?"
Anak itu mengangguk semangat. "Iya. Papa janji kalau perang selesai, beliau bakal pulang." Senyum di wajah Chenle perlahan memudar. Ia berjongkok hingga tinggi mereka sejajar. "Siapa namamu?"
"Raven."
"Nama yang bagus." Raven tersenyum bangga. "Papa yang kasih." Chenle mengusap pelan rambut bocah itu. "Lalu... sudah berapa lama kau menunggu di sini?"
"Dari siang." Chenle mengangkat satu alisnya sambil bertanya. "Kenapa tidak masuk rumah?" Anak itu menggeleng pelan. "Takut Papa pulang terus aku ngga lihat."
Kalimat sederhana itu terasa begitu berat. Chenle tahu. Tidak semua prajurit yang berangkat hari itu berhasil kembali.
Dan ia mengenali lambang kecil yang tergantung di leher Raven. Lambang Divisi Ketiga. Divisi yang menerima korban terbanyak dalam perang terakhir.
Dadanya mendadak sesak. "Apa Papa pasti pulang?" Pertanyaan itu membuat Chenle kehilangan kata-kata.
Ia ingin berkata "iya." Namun ia tak sanggup berbohong. Setelah beberapa detik terdiam, Chenle hanya tersenyum lembut.