Kerajaan Phoenix kembali damai setelah kekalahan sang penyihir keturunan vampir, Cassandra. Raja Andy, sang penguasa kerajaan tersebut, akan segera menobatkan sahabatnya, Arman Van Helsing beserta istrinya, Mirai Van Helsing sebagai Perdana Menteri dan duchess.
Arman dan Mirai adalah pahlawan kota Kerajaan Phoenix yang paling disegani, berani mempertaruhkan nyawanya atas nama keadilan. Sang Raja pun senang atas kemenangannya dengan kedua sahabatnya, kemudian dia memulai acara penobatan untuk Arman dan Mirai.
"Maka dengan ini, aku menobatkan Arman dan Mirai Van Helsing sebagai Grand Duke dan duchess untuk kerajaan kita. Beri penghormatan untuk mereka!"
Masyarakat Kota Phoenix pun berlutut sebagai penghormatan mulia kepada Arman dan Mirai atas kemenangan mereka bersama Kerajaan Phoenix. Para bangsawan, orang-orang kurang mampu, dan bahkan saudagar kaya merasa senang, namun bersorak sorai di pesta akbar tersebut.
Dibalik pesta penobatan itu, Mirai lalu menarik tangan Arman menuju kamar tidur milik mendiang istri Raja Andy, Ratu Abigail. Apakah itu?
"Arman sayang, aku ingin bilang sesuatu padamu."
"Ada apa, sayang? Aku ingin berpesta makan malam bersama rakyat kita."
"Soal itu nanti dulu, aku punya kabar baik untukmu."
"Lho, kabar baik? Apakah kau.....?"
"Tuhan mendengar doaku, aku hamil."
"Benarkah? Syukurlah."
"Tolong beritakan ini kepada para penduduk kota, bangsawan, dan lain-lain."
Arman lalu pergi menuju balkon istana, memberitakan tentang kehamilan istrinya. "Wahai rakyatku, aku punya kabar gembira. Aku akan menjadi seorang ayah!"
Raja Andy bersama para penduduk lagi-lagi merasa senang atas berita yang disampaikan oleh sang Perdana Menteri. Dan pastinya Andy yakin, jika Arman memiliki anak laki-laki, kelak akan menjadi seorang pangeran yang berhati mulia nan berani.
Beberapa bulan kemudian,...
"Yang Mulia, istrimu masih sehat setelah melahirkan dan anak Anda adalah laki-laki," kata seorang tabib.
"Ya Tuhan, terima kasih." Arman bersyukur, kemudian memasuki kamar istrinya untuk melihat putranya untuk pertama kalinya.
"Kau benar-benar tampan seperti kakekmu, hehe. Mirai, kau ingin memberi nama untuknya?"
"Eric. Eric Van Helsing."
"Nama yang bagus, Mirai. Nanti, kalau dia sudah dewasa, pasti dia akan menjadi putra mahkota di kerajaan ini. Walau sudah dianggap sebagai anggota keluarga Raja Andy."
Eric Van Helsing, sebuah nama terindah, bagi Arman dan Mirai, Eric dipastikan menjadi pangeran yang disegani, namun dicintai oleh siapapun.
Eric yang berusia 12 tahun lalu meminta kepada ayahnya untuk belajar memanah seperti kakeknya. Pada saat memanah, panahan Eric pun mengarah ke target dan berhasil melakukan bullseye dengan baik.
"Wah, tidak menyangka putraku semakin pintar melakukan bullseye seperti ini. Kau memang hebat, nak." Arman tuai pujian kepada putranya.
"Terima kasih, Ayah. Ini semua karena Ayah dan Kakek." Senyum sang Pangeran membuat hati Arman semakin hangat, kemudian melanjutkan belajar memanah bersama ayahnya.
Sebuah kabar buruk menimpa Raja Andy, dia mengalami sakit keras, lalu Mirai melihat Andy jatuh pingsan di kursi singgasana dan memerintahkan para pelayan istana untuk menggotong sang Raja ke kamarnya agar bisa beristirahat.
Arman dan Eric kembali ke istana. "Mirai, ada apa yang terjadi pada Yang Mulia Raja?"
"Kondisinya sungguh mengkhawatirkan, Arman. Kata tabib, beliau harus diistirahatkan dulu."
"Andy, kenapa kau bisa sakit seperti ini? Apakah dia akan segera meninggalkan kami semua??" batin Arman dengan wajah sedih.
"Ayah, Paman Andy kenapa?"
"Dia tidak apa-apa, Eric. Dia hanya ingin istirahat dulu. Jadi kamu tidak perlu kuatir, nak."
Arman membawa Eric menuju ke kamarnya, agar tidak memberitahu Eric tentang kondisi sang Raja saat ini.
YOU ARE READING
Prince In Red
FantasySetelah Cassandra berhasil dimusnahkan, kini Arman Van Helsing dinobatkan sebagai Perdana Menteri Kerajaan Phoenix. Beberapa tahun kemudian, putranya; Eric Van Helsing, tumbuh menjadi pangeran dewasa. Namun sayang, Raja Andy jatuh sakit dan meminta...
