Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

1. Batas yang kabur

518 35 11
                                        

Sudah direvisi

-
-
-

Sejak kecil, Asahi sudah terbiasa dengan tatapan intens Yoshi. Jika Asahi terluka karena terjatuh saat bermain, Yoshi tidak akan memanggil ibunya, dia akan mengobati adiknya itu sendiri

Semakin mereka beranjak remaja, sikap Yoshi semakin tidak masuk akal. Mereka masuk di sekolah SMA yang sama. Teman-teman Yoshi sering kali dibuat bingung, bahkan salah paham, dengan cara Yoshi memperlakukan Asahi.

Suatu hari di kantin, Asahi sedang duduk bersama beberapa teman sekelasnya. Yoshi tiba-tiba datang. lalu duduk di samping adiknya. Tanpa memedulikan tatapan sekitar, Yoshi mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menyeka sudut bibir Asahi yang terkena saus.

"Makan yang bener, Sahi" bisik Yoshi, suaranya terdengar begitu lembut namun posesif, sembari menyelipkan beberapa helai rambut Asahi ke belakang telinga.

Teman-teman Asahi saling berpandangan dengan canggung. Salah satu dari mereka, Jaehyuk, tertawa hambar mencoba mencairkan suasana.

"Wah, Yoshi hyung... perhatian sekali. Kadang-kadang kalo liat kalian, aku merasa seperti sedang mengintip orang pacaran, bukan kakak beradik"

Yoshi tidak membantah. Dia justru menoleh ke arah Jaehyuk dengan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Tangannya dengan santai turun dan merangkul pinggang Asahi, menarik adiknya itu agar duduk lebih rapat dengannya.

"Kalau iya, memangnya kenapa?" sahut Yoshi santai, membuat seisi meja langsung terdiam kikuk.

Asahi hanya bisa menghela napas pelan, menunduk menatap mangkuk mienya. Dia sudah lelah memprotes. Setiap kali Asahi mencoba memberi jarak

-

-

-

Pentas teater tahunan sekolah menjadi ajang unjuk bakat yang paling dinanti, dan sial bagi Asahi, dia kalah dalam permainan undian kelas.

Alhasil, dia terpaksa menerima peran utama sebagai seorang putri dalam cerita fiksi romantis lengkap dengan gaun megah dan riasan wajah.

Di balik panggung, suasana sangat kacau. Beberapa siswi bagian tata rias sibuk menambahkan sentuhan akhir pada penampilan Asahi.

Gaun beludru biru tua berkerah rendah itu terpasang pas di tubuhnya yang ramping, ditambah wig rambut hitam panjang yang bergelombang alami serta riasan wajah yang lembut namun mempertegas garis wajahnya yang rupawan

Semua orang di ruang ganti terkesiap. Asahi tidak terlihat seperti laki-laki yang sedang menyamar. Dia benar-benar menjelma menjadi seorang wanita yang sangat cantik, dingin, dan anggun.

"Wah, Asahi... kalau aku tidak tahu kamu laki-laki, aku pasti udah jatuh cinta" puji salah satu teman kelasnya takjub.

Asahi hanya menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan datar, merasa sedikit risih dengan lipstik merah cerah yang memulas bibirnya. Namun, kegelisahan Asahi yang sebenarnya bukan karena gaun ini, melainkan karena dia tahu, di bangku penonton barisan depan, Yoshi sedang duduk menantinya

-

-

-
Lampu aula perlahan meredup. Musik latar mulai mengalun, dan tiras panggung beludru merah perlahan tersingkap.

Yoshi yang awalnya duduk bersandar dengan malas, seketika menegakkan tubuhnya begitu sosok "the princess" berjalan ke tengah panggung. Netra Yoshi melebar. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat, menghantam dadanya dengan keras.

Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya bahkan untuk satu detik pun.

Asahi di atas panggung terlihat begitu bersinar. Cahaya lampu spotlight menerpa kulitnya yang putih bersih, membuat riasan wajahnya terlihat begitu memikat.

Kerah gaun yang sedikit terbuka mengekspos leher jenjang dan tulang selangka Asahi yang indah. Di mata Yoshi, adiknya malam itu melampaui kata cantik. Asahi terlihat... begitu sensual

Yoshi mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas lutut saat melihat aktor lawan main Asahi yang berperan sebagai sang pangeran berlutut di depan adiknya, menggenggam tangan Asahi, dan menatapnya dengan pandangan penuh, cinta meski itu hanya akting

Rahang Yoshi mengeras. Emosinya mendidih melihat tangan orang lain menyentuh kulit adiknya, apalagi dalam balutan gaun yang membuat semua mata di aula itu menatap Asahi dengan penuh damba.

"Dia milikku. Gaun itu, kecantikan itu, semuanya hanya boleh aku yang melihat" bisik sisi gelap di kepala Yoshi tak terima dengan apa yang dirinya saksikan

-

-

-

Acara teater itu selesai dengan maksimal, Asahi langsung bergegas turun dari panggung. Dia menghindari kerumunan teman-temannya yang akan melakukan sesi berfoto , dan memilih berjalan cepat menuju keluar area teater

Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangannya dengan sentakan kuat, membawanya masuk ke dalam ruang penyimpanan kostum yang gelap dan sepi.

Klik

Asahi terengah menatap pintu yang dikunci,ia memegangi dadanya yang berdebar karena terkejut. Di dalam remang-remang ruangan yang hanya disinari cahaya bulan dari ventilasi, Asahi bisa melihat siluet tinggi Yoshi.

"Hyung...?" bisik Asahi lirih.

Yoshi tidak menjawab. Dia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga gaun megah Asahi bergesekan dengan celana jeans Yoshi.

Sepasang mata Yoshi berkilat tajam, menatap Asahi dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan lapar yang belum pernah Asahi lihat sebelumnya.

Yoshi mengulurkan tangannya yang terasa dingin, menyentuh pipi Asahi yang dilapisi bedak halus, lalu ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap bibir merah Asahi dengan menekan sedikit bibir itu hingga warna lipstiknya menjadi agak berantakan.

"Kamu... luar biasa cantik malam ini, Sahi" suara Yoshi terdengar berat, serak, dan penuh dengan emosi yang tertahan

Asahi menahan napas, merasa terintimidasi oleh aura posesif Yoshi yang menguar begitu pekat.

"Hyung, lepas... aku harus menghapus makeup ini"

"Jangan dihapus dulu" potong Yoshi cepat. Dia memajukan wajahnya, menyandarkan dahinya pada dahi Asahi, membuat adiknya bisa merasakan deru napasnya yang memburu.

Tangannya yang lain turun ke pinggang Asahi, meremas kain gaun itu dan menarik tubuh Asahi tanpa jarak.

"Hyung marah melihat bajingan tadi memegang tanganmu di panggung" bisik Yoshi tepat di depan bibir Asahi.

"Aku ingin mencungkil matanya karena menatapmu seperti itu. Kamu tahu kan, Sahi mau kamu menjadi adikku, atau menjadi wanita seperti ini... kamu tetap milikku. Hanya mataku yang boleh menatapmu sedekat ini"

Napas Asahi tercekat. Di dalam ruang penyimpanan kostum yang sempit dan remang-remang itu, waktu seolah berhenti berputar. Aroma parfum Yoshi yang maskulin bercampur dengan wangi lilin dan kain-kain tua di sekitar mereka, menciptakan atmosfer yang begitu mengungkung.

Yoshi tidak menunggu jawaban. Tatapannya turun pada bibir merah Asahi yang sedikit terbuka, dan tanpa peringatan lebih lanjut, dia memiringkan kepala lalu menuntut bibir itu dalam sebuah ciuman.

Sentuhan pertama itu terasa mengejutkan... panas, intens, dan penuh dengan luapan emosi yang selama ini Yoshi pendam di balik topeng seorang kakak yang baik.

Yoshi mencium Asahi seolah-olah dia sedang menegaskan kepemilikannya, menghapus jejak tatapan ribuan orang di aula tadi dari tubuh adiknya.

"Eung..." Asahi melenguh pelan, tangannya yang bersandar di dada Yoshi refleks meremas kemeja kakaknya.

-

-

-

TBC

Anjir
Jujur aku ga tau, perasaan semalam ngetik normal,tapi jadi aneh
Untung ada yg kasih tau 😭😭😭

Melintasi Batas Takdir [yosahi]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang