0. Prolog

84 11 0
                                        



Aula Universitas Arcapura penuh oleh tepuk tangan.

Di tengah panggung, Erine menerima penghargaan Mahasiswa Berprestasi. Sorotan lampu mengarah tepat padanya, membuat seluruh perhatian ruangan terkunci di satu titik.

Nama itu disebut jelas.

Erine.

Dan semua orang mengakui pencapaiannya.

Setidaknya di atas kertas.

Di barisan belakang, Oline berdiri tanpa ikut bertepuk tangan.

Tatapannya datar, tidak terbawa euforia ruangan.

Di sampingnya, Regie bersandar santai.

"Dia emang bagus," kata Regie pelan. "Tapi di kampus ini, itu belum tentu cukup."

Levi mengangguk kecil. "Yang penting bukan seberapa tinggi lo naik. Tapi siapa yang ngerasa lo ganggu."

Oline tidak menanggapi. Matanya tetap pada Erine.

Bukan sebagai pemenang.

Tapi sebagai seseorang yang baru saja masuk ke dalam radar yang salah.

Malamnya, perubahan mulai terlihat di tempat-tempat kecil.

Bukan hal besar yang langsung mencolok.

Tapi keputusan-keputusan yang tiba-tiba berubah arah.

Di ruang organisasi, proposal Erine dibaca sekilas sebelum ditolak.

"Tidak sesuai kebutuhan program," kata salah satu pengurus.

Padahal beberapa hari sebelumnya, proposal itu sempat dipertimbangkan serius.

Di ruang dosen, nama Erine masih tercatat di daftar bimbingan.

Namun saat pembagian topik dilakukan, ia tidak dipanggil.

"Kuotanya sudah penuh," ujar dosen itu singkat, tanpa membuka diskusi lebih lanjut.

Tidak ada yang janggal secara formal.

Semua tetap terlihat normal di permukaan.

Tapi akses yang seharusnya terbuka mulai tertutup satu per satu.

Di kamar asrama, Erine membuka laptopnya.

Semua catatan akademiknya masih ada.

Nilai, prestasi, dan data dirinya tetap tercatat di sistem.

Namun di luar sistem administrasi, hal yang lebih penting sedang bergeser.

Keikutsertaannya di organisasi ditolak tanpa alasan jelas.

Permintaannya untuk bergabung dalam proyek dibalas dengan penolakan singkat.

Keputusan-keputusan yang biasanya bisa dipertanyakan, kini tidak memberi ruang untuk diskusi.

Semua berjalan rapi.

Tapi menjauh.

Di koridor kampus yang mulai sepi, Oline berjalan bersama Regie.

"Lo lihat pola ini?" tanya Regie.

Oline tidak langsung menjawab.

"Semua keputusan kelihatan sah," lanjut Regie. "Tapi hasilnya selalu ke satu arah."

Oline berhenti di dekat jendela.

"Bukan kebetulan," katanya akhirnya.

Regie menoleh. "Terus apa?"

Oline menatap ke arah halaman kampus.

"Kontrol."

Regie diam.

Oline melanjutkan pelan.

"Kalau seseorang bisa mengatur siapa yang dianggap relevan dan siapa yang tidak..."

Ia berhenti sebentar.

"...maka dia tidak perlu menghancurkan orang itu secara langsung."

Di papan pengumuman kampus, nama Erine masih ada.

Tapi di beberapa daftar internal, posisinya mulai tidak lagi diprioritaskan.

Bukan dihapus.

Bukan dihilangkan.

Hanya tidak lagi ditempatkan di jalur utama.

Erine berdiri beberapa detik di depan papan itu.

Membaca.

Menyimpan informasi itu tanpa reaksi berlebihan.

Lalu pergi.

Di malam yang sama, Oline berkata pelan, lebih seperti kesimpulan daripada pertanyaan:

"ERASURE bukan soal menghapus orang."

Regie menatapnya.

Oline melanjutkan.

"Tapi soal menentukan siapa yang tetap punya tempat di dalam sistem."

Di kejauhan, lampu kampus tetap menyala seperti biasa.

Dan kehidupan di Arcapura tetap berjalan.

Seolah tidak ada yang berubah.

Padahal sesuatu sudah mulai bergerak di bawah permukaannya.

***

Halooo! Gimanaaa? Prolognyaa bikin penasarann nggaa? 👀

Maaf yaaa kalau masih banyak kekurangann. Ini fanfiction sekaligus karya pertamakuu, jadi I'm still learningg. Kalau ada kritik, saran, atau teori tentang ceritanyaa, feel free buat komen yaaa! I'll really appreciate ittt.

Anddd jangan lupaa votee yaaa!
See youuu dii Chapter 1! Thank youuu for readingg. 🤍🫶🏻

ERASURE {ORINE}Stories to obsess over. Discover now