Prolog & Pengenalan Tokoh

106 5 0
                                        

Bali tidak pernah benar-benar sunyi.

Bahkan saat malam turun di kawasan Canggu, suara motor, angin laut, dan musik samar dari beach club tetap hidup seperti denyut yang tidak mau berhenti.

Di antara semua itu, ada sebuah kos sederhana milik keluarga lokal Bali-bangunan kecil dengan tembok putih, tanaman kamboja di halaman, dan aroma dupa yang selalu muncul entah dari pura kecil di pojok atau dari kebiasaan pemilik rumah.

Di tempat itulah Putu Mahesa Baskara datang.

Ia bukan datang dengan cerita bahagia. Tidak ada keluarga yang mengantar, tidak ada tawa perpisahan. Hanya koper hitam, tiket sekali jalan, dan mata yang terlalu lelah untuk seseorang seusianya.

Mahesa adalah anak yatim piatu.

Kedua orang tuanya meninggal saat ia masih remaja. Sejak itu, hidupnya seperti berjalan tanpa arah tetap-mandiri, tapi kosong di bagian yang tidak bisa dijelaskan.

Uang warisan cukup untuk hidup, tapi tidak pernah cukup untuk "pulang".

Karena baginya, pulang bukan soal tempat. Tapi soal orang.

Dan ia tidak punya itu.
"Gue cuma pengen hidup tenang di Bali," gumamnya waktu pesawat turun.

Tapi Bali tidak pernah memberi hidup yang tenang pada siapa pun.

Kos itu dikelola oleh seorang ibu Bali yang ramah, suaranya lembut seperti doa.

"Sudah makan, Nak?" tanyanya saat Mahesa baru turun dari mobil.

Mahesa mengangguk kecil. "Belum, Bu."

"Ya sudah makan dulu. Jangan banyak mikir. Nanti pusing."

Mahesa mengangguk lagi, meski di kepalanya sudah muncul satu pikiran

ini bukan Bali yang gue lihat di Instagram.

Dan saat itu, ia belum tahu bahwa hidupnya akan berubah di tempat ini.

Belum tahu bahwa ada seseorang bernama Surya.

I Kadek Surya Dharma.

Anak pemilik kos. Dingin. Pendiam. Terlalu tenang.

Orang-orang bilang dia seperti angin malam Bali-tidak banyak bicara, tapi selalu terasa.

Dan Mahesa... akan bertemu dengannya di cara yang paling tidak ia harapkan.

Midnight At Canggu Stories to obsess over. Discover now