We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

1.Ombak Pertama

315 34 0
                                        

-
Sinar matahari pagi perlahan menyelimuti dunia dengan kehangatannya. Cahaya keemasan menembus sela-sela tirai, menerangi setiap sudut rumah dua lantai yang berdiri sederhana di tepi pantai. Dari kejauhan, deburan ombak terdengar samar, berpadu dengan semilir angin laut yang membawa aroma asin yang begitu menenangkan.

Rumah itu mungkin tampak biasa dari luar.

Namun, di balik dinding-dinding sederhananya, tersimpan kehangatan yang tak ternilai.

Rumah itu dihuni oleh sebuah keluarga besar yang tidak dipersatukan oleh ikatan darah, melainkan oleh kasih sayang, kepercayaan, dan pilihan untuk saling menerima. Mereka bukan keluarga karena memiliki nama belakang yang sama, tetapi karena selalu ada satu sama lain, baik dalam tawa maupun air mata.

Pagi itu terasa jauh lebih santai dari biasanya.

Tak ada jadwal latihan, tak ada misi, dan tak ada peperangan yang harus dihadapi. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka bisa menikmati pagi tanpa terburu-buru.

Suasana rumah masih dipenuhi keheningan. Sebagian besar penghuninya masih terlelap di balik selimut hangat, menikmati waktu istirahat yang jarang mereka dapatkan. Hanya suara burung-burung yang berkicau di luar jendela dan deburan ombak yang menjadi pengiring pagi yang damai itu.

Hari itu dimulai dengan tenang, seolah dunia memberi mereka kesempatan untuk menikmati kebersamaan sebelum kesibukan kembali datang.

"Pagii semua nya!loh cuma mami baru bangun toh"ucap putri sulungnya,dia berjalan menuruni tangga dan kedapur

"Iya key,yang lain masih pada pules mami gak tega bangunin nya"jawab nya dengan kekehan lembut nya dan melanjutkan kegiatan memasak pasta di campur udang itu

Beberapa menit kemudian, Elya dan Selia akhirnya terbangun dari tidur lelap mereka. Dengan mata yang masih setengah terpejam dan rambut yang sedikit berantakan, keduanya melangkah keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga dengan wajah yang masih dipenuhi kantuk.

Sesekali mereka menguap lebar sambil mengusap mata, membuat penampilan mereka yang masih "muka bantal" terlihat begitu menggemaskan. Langkah mereka pelan, seolah tubuh mereka masih enggan meninggalkan hangatnya kasur.

"Pagi mami pagi key"ucap keduanya, setelah mencuci muka mereka lanjut membantu Caine untuk menyiapkan sarapan, mereka menata piring-piring itu dan gelas itu dengan sedemikian rupa

⋆。𖦹 °.🐚⋆❀˖° ˖°🌊🎐𓇼⋆🦪

---

Beberapa menit kemudian, seluruh penghuni rumah akhirnya berkumpul di meja makan. Aroma masakan hangat memenuhi ruangan, diiringi obrolan ringan dan tawa yang saling bersahutan. Mereka menikmati sarapan bersama tanpa terburu-buru, menghabiskan pagi dengan suasana yang damai.

Tak terasa, waktu terus berlalu hingga jarum jam menunjukkan pukul dua belas siang.

Setelah membereskan semua kegiatan, mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Suasananya cukup ramai. Beberapa orang sibuk bermain gim di ponsel masing-masing, ada yang asyik menonton film di televisi, sementara para gadis berkumpul di sudut ruangan, larut dalam obrolan yang entah bagaimana selalu berpindah dari satu topik ke topik lainnya.

Di tengah suasana santai itu, Krow mengembuskan napas panjang. Dengan wajah bosan, ia menjatuhkan ponselnya ke atas meja kopi di depan sofa.

"Gusy, bosen nggak sih? Masa liburan cuma di rumah doang. Harusnya kita manfaatin liburan ini buat pergi ke mana gitu, yang seru!" keluhnya sambil meregangkan tubuh.

Gin yang duduk tak jauh darinya langsung mengangguk setuju.

"Iya, nih. Dari kemarin kerjaannya rebahan, makan, main HP, terus tidur lagi. Lama-lama gue berjamur di rumah."

Laut |Hiatus|Stories to obsess over. Discover now