We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

Prolog

43 2 1
                                        

Yoo Hyunjoo terbangun dari tidurnya saat mobil yang ia tumpangi berhenti di suatu tempat. Bocah itu membuka mata dengan malas, tapi tak punya pilihan lain selain ikut keluar dari mobil bersama kedua orang tuanya. Ketika turun dari mobil, Hyunjoo langsung merasakan nuansa yang berbeda dari kota lamanya tinggal. Kota Jeonju ternyata sangat menarik. Rumah-rumahnya bergaya lama tapi terasa asri dan indah. Ia terhanyut sejenak dengan suasana perumahan di tempat itu.

Hyunjoo kemudian menatap rumah barunya yang bertingkat dua. Meskipun bergaya lama, tapi pada pandangan pertama Hyunjoo menyukai tempat ini. Rumahnya berpagar tidak terlalu tinggi, ada taman kecil di dalamnya, dan ada parkiran mobil di sebelah rumahnya. Rumah ini berdinding bata berwarna merah, berpadu dengan ornamen kayu berwarna coklat yang menambah kesan nyaman. Yoo Hajin menatap putranya lalu menghampiri sambil tersenyum.

"Suka dengan rumah barunya?" tanya wanita itu.

Hyunjoo tersenyum dan mengangguk. "Apakah kamarku nanti ada di lantai dua?"

"Tentu saja!" jawab Hajin sambil tertawa. "Kamar itu memang khusus untukmu!"

Hyunjoo tersenyum lebar mendengarnya. Di kepalanya sudah terbayang ruangan untuknya sendiri bisa bermain dan menyimpan mainan lebih banyak.

"Sayang, nanti tolong rapikan vas bunga yang ada di lantai dua, ya. Aku tadi letakkan di ruangan tengah," ujar Yoo Daesuk.

"Oh, ya! Nanti aku akan rapikan," jawab Hajin. Wanita itu kembali menatap Hyunjoo, "Kalau begitu ibu tinggal dulu, ya."

Hyunjoo mengangguk, lalu kembali menikmati suasana baru. Ia berjalan pelan mengelilingi rumahnya untuk melihat-lihat. Saat Hyunjoo kembali berjalan ke arah depan, ia tertegun sejenak saat ia melihat sebuah mata sedang mengintipnya dari balik pagar rumah yang ada persis di sebelah rumah barunya.

Dari apa yang Hyunjoo lihat, yang sedang mengintip itu adalah seorang gadis kecil berambut hitam dengan poni di atas alis matanya. Hyunjoo hanya bisa diam karena merasa aneh dengan tatapan itu, bahkan sedikit merasa canggung.

Tak lama kemudian, terdengar suara pagar rumah terbuka. Itu pagar rumah si gadis kecil. Suara langkah kaki tak beraturan perlahan terdengar menghampiri rumah Hyunjoo. Mendengar ada yang datang, Yoo Hajin dan Yoo Daesuk keluar dari dalam untuk menyambut. Dua orang dewasa dan satu gadis kecil berponi itu menghampiri mereka dengan senyum ramah.

"Halo, selamat siang! Kalian keluarga Yoo yang baru pindah ke sini, ya?" tanya Chae Gosun. Wanita berparas sedikit gemuk itu tersenyum lebar dan sangat ramah, membuat Hyunjoo ikut tersenyum.

"Iya! Halo, selamat siang," jawab Hajin.

"Kami tinggal di sebelah rumah kalian. Saya Chae Gosun, ini suami saya Chae Chojun, dan ini putri saya, Chae Mingi."

Hyunjoo menatap gadis kecil itu. Ia perkirakan gadis ini baru berusia lima tahun. Jika tadi anak kecil ini terlihat aneh, sekarang Hyunjoo baru bisa melihat wajahnya dengan jelas. Wajahnya bulat, matanya besar. Rambut mangkoknya lucu tapi tampak cocok dengan gadis itu. Selagi kedua orang tuanya berbincang-bincang, Chae Mingi berjalan perlahan menghampiri Hyunjoo. Bocah tiga belas tahun itu tertegun saat Chae Mingi menjulurkan tangannya.

"Aku Chae Mingi! Nama Kakak siapa?!" tanya Mingi dengan suara lantang dan senyum yang lebar, menampilkan gigi depannya yang ompong.

"Yoo Hyunjoo," jawab Hyunjoo sembari membalas salam tangan Mingi. Gadis itu semakin senang dan menggoyang-goyangkan tautan tangan mereka kencang. Sementara Hyunjoo tanpa sadar ikut tersenyum.

Adik kecil yang lucu, pikir Hyunjoo.

***

In Every FrameStories to obsess over. Discover now