Hari begitu cerah seorang lelaki bernama Wijaya Ariyanto berusia 16 tahun mengenakan pakaian formal hitam atasan putih, mencoba melamar pekerjaan di sebuah percetakan sekaligus fotokopi milik orang Belanda blesteran eropa Nusantara katanya.
" Permisi apakah ada seseorang" Wijaya memanggil dari depan pintu toko, seseorang anak menyahut wajah ceria rambut kuning emas menandakan bahwa dirinya bukan asli pribumi, anak itu sangat sigap menanggapi Wijaya.
" Mas mau mencetak sesuatu atau menyalin berkas legalisir?" Anak itu berdiri di depan Wijaya.
" Saya... Saya lihat selembaran di depan toko sedang membutuhkan karyawan benarkah begitu" Wijaya.
Anak itu tersenyum lalu menyuruh dirinya masuk duduk di kursi dekat mesin fotokopi, ia menuang segelas air dan membawakan Wijaya Ariyanto 5 potong bolu panggang.
" Saya membutuhkan karyawan, gajinya 345 ribu rupiah perbulan kurang lebih umr tahun ini, sebelum itu perkenalkan nama saya Antonio de Luck dan saya juga anak pemilik toko ini. panggil saja Antonio" Antonio.
" Perkenalan diri, Nama ku Wijaya Ariyanto saya berusia tujuh belas tahun bertempat tinggal di daerah Cengkareng lumayan dekat dari sini" ujar Wijaya saling berjabat tangan dengan Antonio.
" Anda saya terima" Antonio tersenyum.
" Eh... tunggu, bukankah anda salah satu pekerja disini"
" Saya pemilik toko"
Wijaya tersentak tak percaya melihat anak didepannya adalah pemilik toko fotokopi ini, dia pun tertegun sejenak sebelum anak ceria itu berkata.
" Hari ini mas bisa langsung kerja "
" Terimakasih banyak tuan Antonio"
" Jangan panggil tuan, usia saya baru 12 tahun sebutan itu terlalu tua"
" Baik Antonio, setelah ini apa yang harus saya lakukan"
" Anda memfotokopi berkas, diriku melayani pembayaran"
Tak lama seorang ibu ibu menggendong anaknya datang meminta Antonio memfotokopi kartu keluarga serta kartu identitas nya, Antonio merapikan dua benda berharga itu membawanya kepada Wijaya yang menunggu di dekat mesin fotokopi sambil mengajari remaja itu cara menggunakan mesin penyalin berkas tersebut.
Satu per satu benda itu di bolak balik di tutup, kemudian salinan berkas keluar dengan bahan kertas HVS, ia merapikan potongan kertas yang tidak perlu. Setelah selesai Antonio memberikan semuanya kepada si ibu.
" Berapa harganya mas bule " ujar si ibu membawa anak.
Wijaya tak sengaja mendengar percakapan, langsung menoleh Antonio dan ibu ibu itu dari mesin fotokopi di saat ia hendak mendekati Antonio seekor anjing berbulu coklat lebat berlari mendahului nya.
" Anjing!!"
" Terimakasih tante"
" Gk..Gukk!!"
" Apple brown, sudah bangun"
Antonio mengelus kepala anjing coklat itu, tersenyum ceria memeluk hewan berbulu.
" Siapa nama anjing berbulu lebat ini" Wijaya mencoba menyentuh bulu peliharaan Antonio karena ragu ragu anak rambut kuning itu menarik tangannya menyentuh kepala Apple brown. melanjutkan perkataannya "Antonio, saya tak bisa".
" Mengapa ini hanya anjing, selama anda tak terkena liurnya tidak perlu mandi" Antonio.
" Bagaimana anda tahu" menjawab Antonio.
" Tidak usah dipikirkan, sentuh saja. Apple brown tak menggigit dan tak mengeluarkan air liur ke mana-mana..." Antonio pun menjelaskan bahwa anjing miliknya tak berbahaya bagi dirinya,Wijaya Ariyanto tak bisa berbuat apa apa, menatap anjing itu beberapa saat lalu mengambil ponsel miliknya lalu meminta izin Antonio untuk memotret majikan dan peliharaan.
" Boleh saja, Apple brown sangat imut"
Antonio de Luck tersenyum hangat menatap kamera ponsel milik Wijaya Ariyanto, sambil memeluk hewan peliharaannya Apple brown.
YOU ARE READING
MAWAR MERAH BERDARAH || PENDEKAR MAWAR PERAK
Historical FictionWijaya Ariyanto adalah seorang remaja keturunan garis Melayu ia sedari kecil tinggal di Cengkareng Jakarta Barat tidak tahu sanak lain keluarga, tahun adalah 2003 ia genap berusia 17 tahun melamar pekerjaan di toko fotocopy. cerita berlanjut tak sam...
