01. RANSARI.

13 2 1
                                        


_____________________
•


Dunia sihir. Adalah bentuk dari dunia yang di penuhi oleh sihir, sesuatu yang di kenal tak masuk akal. Sapu ijuk yang bisa terbang dan di duduki sebagai transportasi utama. Cahaya-cahaya yang keluar dari telapak tangan, mulut yang berkomat-kamit membaca mantra tak jelas namun jelas efeknya. Tongkat-tongkat yang bisa mengeluarkan keajaiban dan tingkatan-tingkatan tertentu.

Itu di katakan adalah bentukan dari sihir. Sihir sempurna, sihir indah. Sihir itu ada dan pernah hidup nyata sebagai perantara.

Sabiru mendengkus kala kata 'ada', 'nyata' dan 'perantara'. Masuk ke dalam silsilah kata yang ia baca hari ini. Silsilah novel fiksi yang ia temukan dari jajaran buku di kamar kedua orang tuanya. Yang ia pikir dapat meredakan kejenuhan nya akhir-akhir ini, tapi malah semakin membuat ia jenuh. Dengan segala istilah fiksi dan penekanan logika tak masuk akal.

Bahkan jika di bandingkan dengan novel Herry Potter yang ia baca dulu. Lebih baik novel asal British itu. Setidaknya tidak masuk akal nya tidak memaksa logika pembaca. Setidaknya.

Sabiru membolak-balikkan buku novel 500 halaman itu. Dengan sampul kulit berwarna maroon dan tulisan serta aksen emas. Semakin menekan buku ini adalah buku penting dan misterius, padahal isinya hanya sebuah kisah novel fiksi fantasi dunia sihir saja.

"Gak jelas banget," suaranya keluar tak lebih dari dengkusan. Suara yang sedikit serak dari kebanyakan perempuan.

Ia mendorong tubuhnya bersandar ke sofa, dan melempar malas buku itu ke atas meja di depan nya. Pungungnya menyandar ke sandaran sofa beludru di ruang tengah rumah nya. Kakinya naik, tertekuk. Tangan nya bertumpu di sana. Rambut yang di potong Model pixie. Jatuh ke atas kepala sofa.

Memandangi penuh pada langit-langit rumah masa kecil nya. Beberapa sudut langit-langit itu retak halus, padahal dari informasi adiknya. Ayahnya sudah memperbaiki beberapa bulan lalu. Sepertinya bahan dan tukang harus di pertanyakan kualitas nya.

"Lesu banget di lihat-lihat anak ibu," Sabiru menoleh perlahan ke arah gawang pintu antara dapur dan ruang tengah. Di sana, sosok wanita dengan daster elegan dan rambut yang di sanggul berdiri. Memegang gelas berisi teh melati. Yang semerbak nya dapat hidung mancung Sabiru deteksi dari jarak tiga meter tersebut..

Wanita itu, mungkin dengan tinggi 160 cm. Dengan keanggunan dari darah ningrat nya. Membuat wanita yang umurnya hampir kepala lima. Masih terlihat muda dan cantik.

Anggun dari gerakan dan alus dari sifat. Yang sayangnya tak di turunkan pada Sabiru. Tapi beruntunglah di turunkan pada adiknya. Anggrek Mutiara.

Yang keduanya bagaikan pinang di belah dua, wajah yang mirip walaupun beda proporsional usia. Keanggunan, suara yang lembut dan sifat yang murah serta senyum yang hangat. Sangat pantas di sebut putri ningrat dari darah Sunda.

Sabiru menghembuskan nafas gusar. "Bosen, Bu. Kapan aku boleh keluar sih?" tanya Sabiru. Menegakan tubuh dan kepalanya.

Ibunya- Nyai Lestari. Tersenyum mendengar nada keluhan putrinya. Ia memandangi dulu putrinya. Putri pertama dalam keluarga dan anak kedua dalam silsilah anak nya bersama sang suami.

Sosok yang paling menolak kewibawaan dan keanggunan keluarga. Memilih jalan sendiri, menjadi Anomali jelas di keluarga nya. Namun dirinya dan sang suami- Adipta. Tidak masalah, bagi mereka. Tidak semua anak harus tumbuh seperti keinginan mereka. Anak bebas berekspresi dan jadi dirinya sendiri asal dalam batas wajar yang mereka dapat maklumi.

Dan Sabiru memilih dunia bebasnya yang penuh aktraksi.

Kaki putih itu melangkah pelan. Langkah nya terukur dan anggun. Mendekati putrinya, lalu perlahan duduk di sana. Ia menyimpan perlahan gelas teh nya. Tepat di sebelah buku bersampul merah maroon yang putrinya tadi baca dengan jengah.

LANTERA FIGEMAStories to obsess over. Discover now