Sepuluh tahun yang lalu...
"Edward, kita mau kasih nama anak anjing ini siapa?"
Edward berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Rui gimana?"
Mata Yuna langsung berbinar.
"Rui nama yang cantik."
"Seperti Yuna."
"Apa?"
Edward buru-buru berdiri.
"Tidak. Ayo pulang."
Yuna mengerucutkan bibirnya.
Aneh.
Kadang Edward memang suka bicara hal aneh.
**
"Yuna, kamu jaga Rui sendiri nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa, Edward... tapi Yuna sedih."
"Kenapa?"
"Edward pergi jauh. Mana lama lagi."
Edward tertawa kecil.
"Nggak kok. Aku cuma pergi seminggu."
"Seminggu itu lama, Edward."
"Edward nanti janji ya jangan tinggalin Yuna..."
"Janji."
Yuna mengulurkan gelang rajut berwarna merah dari pergelangan tangannya.
"Aku kasih ini buat Edward. Tolong dijaga sampai Edward pulang."
Edward menerima gelang itu lalu mengusap puncak kepala Yuna.
"Yuna jangan nangis ya. Nanti aku bingung kalau kamu nangis."
Bibir Yuna bergetar.
"Yuna boleh peluk Edward nggak?"
**
Hari yang seharusnya menjadi hari kepulangan Edward.
Sejak pagi Yuna sudah mondar-mandir di depan rumah. Sesekali ia melihat ke ujung jalan sambil memeluk Rui yang masih kecil.
Tapi Edward tidak datang.
"Ah, mungkin besok."
Yuna mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Besoknya, Yuna kembali menunggu.
Biasanya Edward selalu menjemputnya untuk berangkat sekolah bersama.
Tapi hari itu tidak ada siapa-siapa.
Hari berikutnya juga begitu.
Dan hari setelahnya.
Rumah keluarga Edward masih kosong.
Yuna bahkan meminta mamanya menelepon Tante Wendy.
Tidak diangkat.
"Ma..."
"Iya, Sayang?"
"Edward nggak bakal balik lagi ya?"
Satu bulan berlalu.
Lalu dua bulan.
Lalu satu tahun.
Yuna masih sesekali duduk di depan rumah kosong itu.
Menunggu sesuatu yang bahkan tidak tahu kapan akan datang.
"Edward itu teman pertama Yuna, Ma."
"Yuna sedih kalau Edward pergi begitu aja."
Mamanya hanya memeluknya erat.
