Hemos actualizado nuestras Pautas de Contenido.
Consulta las pautas más recientes para seguir compartiendo historias de forma segura.

chapter 1. karma itu real bre

201 15 2
                                        

Kalau ada lomba manusia paling cepat kena karma, Kael yakin dirinya bisa masuk nominasi nasional.

Semalam dia masih rebahan di kasur sambil baca novel The Crown of Light sampai jam dua pagi. Mata udah perih, tangan udah pegel, baterai HP tinggal belasan persen, tapi dia masih maksa lanjut baca. Dia penasaran banget sama endingnya.

Dan hasilnya? Nyesel tujuh turunan. Karakter favoritnya mati mengenaskan.

Mati cuy. Beneran mati. Bukan mati pura-pura. Bukan mati terus hidup lagi pakai keajaiban plot armor. Bukan mati karena salah paham yang nanti bisa diluruskan. Murni mati. Tamat. Kelar.

Yang bikin kesel, karakter itu justru salah satu karakter paling waras di novel. Namanya Kairen Vale. Dia karakter sampingan yang hidupnya tragis banget sampai Kael curiga penulis novelnya punya dendam pribadi atau habis dighosting di dunia nyata.

Dari kecil dibully. Dikhianati circle terdekat. Dijadiin kambing hitam konspirasi kerajaan. Terus mati. Keren. Mantap. Hebat. Luar biasa sekali nasibnya.

"Aduh goblok banget sih lu, Kairen." Kael membalik badan di atas kasur kosannya yang sempit. "Sumpah ya, gemes banget gue bacanya."

Dia menunjuk layar HP yang menampilkan bab kematian Kairen."Kalau gue jadi lu mah gampang, Ren. Pertama, jangan naif. Kedua, jangan percaya orang random yang tiba-tiba baik. Ketiga, kalau ada masalah gede yang kira-kira nggak bisa lu tanganin, kabur dulu njir. Keempat, jangan meningsoy oi. Beres. Easy Peasy Lemon Squeezy."

Kael menguap lebar sampai air matanya keluar. Lalu dia menaruh HP di samping bantal tanpa berniat mencolokkan kabel charger.

"Skill issue." Itu kalimat terakhir yang keluar dari mulut asbunnya sebelum dia merem dan tidur nyenyak.

Dan sekarang... sekarang dia lagi rebahan di atas tanah.

"..."

Kael membuka mata perlahan.Langit biru. Awan putih. Pohon raksasa. Burung warna-warni yang lagi terbang. Bukan plafon kamar kosan yang agak jamuran. Bukan kipas angin dinding. Bukan tembok warna ijo neon khas kontrakan Indo.

"Oke." Dia menutup mata lagi. Mungkin masih mimpi atau efek halusinasi karena kurang tidur.

Sepuluh detik berlalu dalam keheningan hutan. Dibuka lagi. Masih pohon.

"Shibal." Ditutup lagi. Dibuka lagi. Masih pohon.

"Shibal." Ditutup lagi. Dibuka lagi. Masih pohon.

"SHIBAL!"

Seekor burung purba yang lagi nongkrong di atas dahan langsung terbang kabur karena kaget. Mungkin dia takut mendengar lengkingan suara Kael yang merusak ketenangan alam.

Kael duduk perlahan sambil memegangi pinggangnya yang linu. Lalu dia melihat sekeliling dengan gerakan patah-patah.

Ke kanan, pohon. Ke kiri, pohon. Ke depan, pohon. Ke belakang, masiiih pohon.

"Oke." Dia berdiri walaupun kakinya agak lemas. "Lah."

Muter ke kanan seratus delapan puluh derajat. "Lah?"

Muter ke kiri lebih cepat. "Lah??"

Kemudian dia menarik napas panjang sampai dadanya membusung.

[BL] TRANSMIGRASI KAEL Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora