"Kenapa semua novel milik Aster selalu berakhir sedih?"
Tidak ada yang tau jawabannya.
Termasuk Nathaniel Galelio yang akrab disapa Natha, pembaca setia yang sejak setahun terakhir selalu menunggu karya terbaru penulis favoritnya itu. Bagi Natha sos...
Rintik hujan menabrak kaca jendela sebuah gedung perkantoran di kawasan Sudirman, Jakarta. Natha memijit pelipisnya yang berdenyut pelan. Layar monitor di depannya akhirnya meredup, menandakan akhirnya jam kerja yang terasa seperti siksaan tanpa akhir.
Menjadi budak korporat di usia pertengahan dua puluhan memang bukan impian hidupnya, tapi setidaknya rutinitas yang melelahkan ini membuatnya sibuk. Terlalu sibuk untuk mengingat hal-hal yang selama ini mati-matian berusaha ia lupakan.
Natha membereskan barang-barangnya, memasukkan laptop ke dalam ransel, dan menyelipkan sebuah buku berukuran sedang di bagian paling depan. Buku itu bersampul biru malam dengan tulisan perak. Nama penulisnya hanya tertulis satu kata "Aster".
Dalam perjalanan pulang menggunakan KRL yang padat, Natha membuka buku tersebut. Bau khas kertas menguar, menenangkan pikirannya yang kalut seharian. Sudah dua tahun belakangan ini Natha menjadi penggemar setia karya-karya Aster.
Ia tidak sengaja menemukan novel perdana penulis misterius itu di rak bagian bawah sebuah toko buku. Gaya bahasanya sangat sederhana, tidak mendayu-dayu atau puitis, tapi entah kenapa setiap kalimatnya terasa akrab dengannya.
Ting!
Ponsel Natha bergetar. Sebuah pesan masuk dari Naya, sahabat sekaligus satu-satunya teman yang ia punya. Tempat Natha menumpahkan segala keluh kesahnya.
Naya: P P Woy Nattt!! lo di mana? kok gak nungguin gue!! Parah banget elah
Natha: Brisik nay gue buru-buru tadi, dan karena kerjaan gue dh beres
Naya: Cih jangan bilang lo mau baca novel lagi??!! Pasti novel si Aster itu? Penulis stres itu gak akan pernah bikin novel happy ending nattt!! Awas aja lu nangis nangis ke gue lagi perkara novel!! gak akan gue urus
Natha hanya terkekeh geli membacanya tak berniat membalas Naya lagi, karena itu pasti akan berlangsung lama. Naya selalu memprotes kebiasaannya membaca karya Aster.
Menurut Naya, membaca kisah-kisah tragis apalagi yang selalu berujung dengan perpisahan hanya akan membuat Natha semakin susah move on, dan itu sangat merepotkan baginya.
Dan Natha tahu Naya benar.
Membaca tentang perpisahan selalu menariknya kembali pada pusaran masa lalu. Menariknya pada satu nama yang selama ini menghantuinya, meskipun sudah empat tahun lamanya nama itu masih terbayang di benaknya, Parsha Lesmana.
Parsha dan Natha sudah lima tahun bersama sebelum Parsha meninggalkannya. Natha menghabiskan lima tahunnya bersama Parsha. Parsha bukanlah pria romantis yang pandai merangkai kalimat manis. Pria itu cenderung kaku, irit bicara, dan sangat buruk dalam mengekspresikan perasaannya.
Namun, dari tatapan mata dan tindakan-tindakan kecilnya, Natha dulu sangat yakin bahwa Parsha mencintainya. Bahkan tanpa bicara teman-temannya juga tahu Parsha mencintai Natha, dan itulah yang membuatnya bingung kenapa Parsha memutuskannya begitu saja.
Perpisahan yang sangat membingungkan bahkan tanpa penjelasan yang berarti. Hanya satu yang selalu terukir di benak Natha, Parsha mungkin sudah bosan dengannya, tapi bahkan dengan alasan itu sebelum meninggalkan Parsha menyangkalnya. Membingungkan bukan? Ya itu yang Natha rasakan.
Parsha memutuskan perpisahan sepihak dengan alasan yang menggantung dan tidak pernah bisa diterima oleh Natha. Kecewa, marah, dan hancur, Natha yang pada akhirnya memblokir semua nomor dan media sosial Parsha.
Ia menutup semua akses, menghapus foto-foto, menyimpan rapat semua barang pemberian pria itu yang mungkin sekarang sudah terbengkalai di gudang. Natha memaksa dirinya untuk sembuh dengan cara mematikan semua jalan kembali. Ia ingin melangkah maju. Namun, pada kenyataannya tidak semudah itu kan?
Tak lama, KRL akhirnya berhenti di tujuannya. Natha menutup bukunya dan bersiap untuk turun. Sebelum menutup rapat halamannya, mata Natha sempat menangkap kalimat pendek di halaman persembahan buku Aster yang baru saja ia beli.
"Untuk dia yang mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa semua aksara ini lahir dari rindu yang tak berani menyapa."
Natha menelan ludah, dadanya tiba-tiba terasa nyeri tanpa alasan. Ia merapatkan jaketnya dan melangkah keluar menembus gerimis malam Jakarta.
####
Bandara Heathrow, London 10.00
Di tengah lautan manusia yang berlalu-lalang mengejar penerbangan, seorang pemuda duduk bersandar di kursi besi tunggu bandara. Penampilannya terlihat santai dengan kaus putih longgar dengan coretan grafis bold berwarna merah hitam, dipadukan dengan celana berwarna krem. Sebuah sweater dengan warna senada disampirkan asal-asalan di bahunya dan sebuah headphone hitam yang tergantung di lehernya.
Rambut hitamnya yang sedikit memanjang dibiarkan berantakan, menutupi dahi dan membingkai wajahnya yang terlihat lelah. Parsha memutar-mutar ponsel di tangannya, tatapannya kosong menembus kaca besar bandara yang menampilkan deretan pesawat.
Selama dua tahun terakhir, hidupnya dihabiskan bersama tantenya di negara asing ini, bekerja dan belajar mati-matian demi melunasi hutang orang tuanya yang hampir menghancurkan keluarganya dan hidupnya.
Meninggalkan Natha adalah keputusan paling egois sekaligus paling menyiksa yang pernah ia buat. Tapi saat itu, ia merasa tidak punya pilihan. Ia tidak mungkin menarik Natha ke dalam jurang masalahnya. Membiarkan Natha membencinya mungkin adalah pilihan yang benar untuknya.
"Ladies and gentlemen, this is the final boarding call for Flight GA 087 to Jakarta. All remaining passengers are requested to proceed to the gate immediately."
Suara pengumuman menggema di seluruh terminal. Parsha menatap layar keberangkatan untuk terakhir kalinya ia menggenggam erat paspornya. Setelah hari ini, London akan tinggal menjadi kenangan yang perlahan memudar di belakangnya.
Sebelum berdiri, Parsha merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar foto polaroid usang yang pinggirannya sudah menguning. Memandangi seseorang yang sedang tersenyum cerah di sana, seseorang yang telah lama ia rindukan.
"Empat tahun," gumam Parsha, mengusap wajah di foto itu dengan ibu jarinya. "Gue pulang, Nat. Semoga lo belum buang gue terlalu jauh."
####
Parsha Lesmana (Si tukang ngilang tanpa kabar)
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Nathaniel Galelio (Si budak korporat)
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.