ANAK YANG MEMILIH HIDUP
Dua Belas Tahun Sebelumnya
Salju turun tanpa suara.
Butiran putih itu menutupi jalan setapak, pepohonan, dan darah yang mengering di atas batu-batu hitam.
Seorang anak laki-laki duduk di tepi tebing.
Tubuhnya kurus.
Terlalu kurus untuk anak seusianya.
Jubah hitam yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian.
Luka baru memenuhi kedua tangannya.
Luka lama menghiasi wajah dan lehernya.
Namun bukan itu yang membuatnya tampak menyedihkan.
Melainkan matanya.
Kosong.
Seolah semua yang berharga telah diambil darinya.
Angin musim dingin berhembus kencang.
Anak laki-laki itu memandangi jurang di bawahnya.
Dalam.
Gelap.
Sunyi.
Ia menyukai kesunyian.
Kesunyian tidak bertanya mengapa ia masih hidup.
Kesunyian tidak menatap bekas luka di wajahnya.
Kesunyian tidak berbisik di belakang punggungnya.
Monster.
Kutukan.
Pembawa sial.
Ia sudah mendengar semua sebutan itu.
Berulang kali.
Terlalu sering.
Tangannya menggenggam batu kecil.
Lalu melemparkannya ke jurang.
Tidak terdengar suara ketika batu itu jatuh.
Terlalu dalam.
Mungkin jika ia melompat, hasilnya akan sama.
Tidak akan ada suara.
Tidak akan ada yang peduli.
Tidak akan ada yang kehilangan.
Pikiran itu terasa menenangkan.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama.
Sungguh menenangkan.
Ia berdiri.
Selangkah lagi.
Hanya satu langkah.
Lalu semuanya selesai.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Suara kecil itu membuatnya menoleh.
Seorang gadis berdiri beberapa meter di belakangnya.
Mungkin berusia sepuluh tahun.
Mengenakan mantel wol yang terlalu besar.
Rambut emasnya tertiup angin.
Pipi dan hidungnya memerah karena dingin.
Anak laki-laki itu mengernyit.
"Kau tersesat?"
"Tidak."
"Kalau begitu pergilah."
"Tidak."
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Gadis itu berjalan mendekat.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Sampai akhirnya berdiri di sampingnya.
Bukan di belakangnya.
Di sampingnya.
Seolah jurang itu tidak menakutkan.
Seolah anak laki-laki yang penuh luka ini juga tidak menakutkan.
"Kau ingin melompat?"
Anak laki-laki itu menatapnya tajam.
"Kau terlalu banyak bicara."
"Jadi benar."
Ia memalingkan wajah.
Gadis itu menghela napas panjang.
"Aku tidak mengerti."
"Apa?"
"Kenapa orang-orang selalu memilih jurang."
Anak laki-laki itu tertawa pendek.
Tawa tanpa kegembiraan.
"Karena tidak ada jalan lain."
"Itu bodoh."
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar menatap gadis itu.
"Kau memanggilku bodoh?"
"Ya."
"Kau bahkan tidak mengenalku."
"Aku juga tidak mengenal jurang itu."
Gadis itu menunjuk ke bawah.
"Tapi aku cukup yakin dia tidak akan menyelesaikan masalahmu."
Anak laki-laki itu terdiam.
Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Permen madu.
Hanya satu.
Ia menyodorkannya.
"Apa ini?"
"Permen."
"Aku tahu itu permen."
"Kalau begitu kenapa bertanya?"
Anak laki-laki itu hampir kesal.
Hampir.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, seseorang berbicara padanya tanpa rasa takut.
Tanpa rasa iba.
Tanpa pura-pura sopan.
Hanya berbicara.
Seperti manusia biasa.
"Aku tidak mau."
"Baik."
Gadis itu membuka bungkusnya sendiri.
Lalu memakan permen tersebut.
Anak laki-laki itu berkedip.
"Kau bilang itu untukku."
"Aku berubah pikiran."
"Kau aneh."
"Kau lebih aneh."
Hening sejenak.
Salju terus turun.
"Namamu siapa?" tanya gadis itu.
Anak laki-laki itu tidak menjawab.
"Kalau begitu aku akan memanggilmu Tuan Muram."
"Aku membencinya."
"Bagus."
Gadis itu tersenyum.
Senyum yang begitu terang hingga terasa asing di tengah dunia yang dipenuhi salju.
"Kalau begitu tetap hidup dan cari aku nanti."
Anak laki-laki itu mengerutkan dahi.
"Apa?"
"Kalau kau mati sekarang, aku tidak akan pernah tahu nama aslimu."
"Aku tidak berjanji."
"Aku juga tidak meminta janji."
Gadis itu berbalik.
Mulai berjalan pergi.
Lalu berhenti.
Tanpa menoleh.
Ia berkata pelan.
"Orang yang benar-benar ingin mati tidak akan menunggu selama ini di tepi jurang."
Angin membawa kata-kata itu pergi.
Namun tidak cukup jauh.
Karena anak laki-laki itu masih mendengarnya.
Jelas sekali.
Sangat jelas.
Untuk waktu yang lama ia berdiri di sana.
Memandangi jurang.
Lalu memandangi jejak kaki kecil yang perlahan tertutup salju.
Akhirnya.
Ia mundur satu langkah.
Menjauh dari tepi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jenderal Neraka
RomanceSemua orang takut pada Jenderal Neraka. Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa rasa takut. Aurelia von Harcourt. Di mata dunia, ia hanyalah putri bangsawan yang lembut. Padahal, tanpa ia sadari, seluruh perang yang terjadi selama ratusan...
