Pukul 06.45.
Gerbang SMA Bintang Harapan sudah dipenuhi para siswa yang baru datang. Suara motor, tawa para murid, dan obrolan di berbagai sudut sekolah membuat pagi itu terasa ramai seperti biasanya.
Di parkiran, seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kurus turun dari motornya. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena angin perjalanan.
Namanya Elion.
Siswa kelas 11 yang dikenal santai, tidak suka mencari masalah, tetapi juga tidak terlalu peduli dengan urusan orang lain.
"Hoi, Yon!"
Suara keras dari arah belakang membuat Elion menoleh.
Ternyata Nalan sudah berdiri sambil melambaikan tangan.
"Lu lama banget!"
Elion menghela napas kecil.
"Baru juga sampai."
"Katanya mau berangkat bareng."
"Lu yang kesiangan."
Nalan hanya tertawa lepas.
Beberapa detik kemudian, seorang laki-laki lain menghampiri mereka sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Itu bel masuk masih lima belas menit. Berisik amat."
Regio.
Sifatnya cuek, tetapi kalau sudah akrab, orang itu justru paling seru diajak bercanda.
Nalan langsung menunjuk Regio.
"Nih orang baru datang udah ngatain."
Regio mengangkat bahu.
"Fakta."
Belum sempat Nalan membalas, seseorang datang sambil memegang ponsel dengan wajah sangat bersemangat.
"WOI!"
Liam.
"Anime yang kemarin gue tunggu akhirnya tayang!"
Nalan langsung menepuk dahinya.
"Pagi-pagi anime lagi."
"Lu nggak ngerti karya seni."
"Apaan seni."
"Itu namanya budaya."
Regio tertawa kecil melihat mereka mulai berdebat.
Elion hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
Beginilah pagi mereka hampir setiap hari.
Selalu ribut.
Selalu ada yang diperdebatkan.
Namun justru itulah yang membuat pertemanan mereka terasa menyenangkan.
Bel sekolah akhirnya berbunyi.
"Udah, masuk."
"Siap, Pak Regio," ledek Nalan.
Regio hanya melirik tanpa menjawab.
Keempatnya berjalan menuju kelas masing-masing.
Sementara itu...
Di lantai tiga gedung sekolah.
Kelas 12 IPA 1 jauh lebih tenang dibanding kelas sebelas.
Aralie duduk di bangku dekat jendela sambil membaca ulang catatan pelajaran.
Angin pagi masuk melalui jendela yang terbuka, membuat beberapa helai rambutnya bergerak pelan.
"Ral."
Aralie mengangkat kepala.
Di depannya sudah berdiri Kimmy.
"Ada apa?"
"Gue baru dengar gosip."
Aralie tersenyum kecil.
"Gosip lagi?"
"Iya."
Kimmy menarik kursi lalu duduk.
"Denger-denger ketua OSIS ditembak adik kelas."
Aralie terkekeh pelan.
"Lu tahu dari mana?"
"Sumber terpercaya."
Belum sempat percakapan mereka berlanjut...
BRAK!
Suara meja bergeser membuat seluruh kelas menoleh.
"Tadi siapa yang bilang gue nyontek?!"
Nachia berdiri sambil menatap salah satu teman sekelasnya.
"Gue cuma bercanda."
"Bercanda juga ada batasnya."
Beberapa teman langsung mencoba menenangkan keadaan.
"Udah, Nach."
Namun Nachia masih mengomel.
Kimmy menghela napas.
"Mulai lagi."
Saat itu juga, Delynn datang sambil membawa minuman.
"Wah."
"Ada drama?"
Kimmy langsung memutar bola matanya.
"Lu senang banget kalau ada gosip."
"Ya iyalah."
Delynn tertawa kecil.
"Nggak seru kalau sekolah damai-damai aja."
Aralie hanya tersenyum tipis melihat tingkah sahabat-sahabatnya.
Meski sifat mereka berbeda-beda, mereka sudah berteman sejak kelas sepuluh.
Bel pelajaran pertama berbunyi.
Guru mulai memasuki kelas.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu...
Bahwa dalam beberapa hari ke depan, kehidupan Aralie akan berubah total.
Di sisi lain...
Elion yang sedang mengikuti pelajaran Matematika sama sekali tidak fokus.
Ia lebih sibuk menggambar sesuatu di buku kosongnya.
"Elion."
Suara guru membuat seluruh kelas menoleh.
"Iya, Bu?"
"Coba kerjakan soal nomor tiga."
Elion langsung membeku.
Nalan yang duduk di belakang menahan tawa.
"Lanjut ketawa, nanti lu juga maju," bisik Regio.
Liam malah sibuk membaca manga yang disembunyikan di balik buku pelajaran.
Suasana kelas kembali dipenuhi tawa kecil.
Tak ada yang menyangka, sepulang sekolah nanti Elion akan menerima kabar yang mengubah seluruh hidupnya.
Bersambung
