ZERO

14 8 2
                                        

***

Lampu kilat kamera menyala bertubi-tubi di lobi hotel bintang lima itu. Malam ini adalah acara gala dinner tahunan bagi para pebisnis papan atas, namun udaranya terasa sedingin es. Di sudut kiri ruangan, Albert Cassano berdiri tegak dengan wajah mengeras. Di sudut kanan, Dirgantara membalas tatapan itu dengan rahang terkatup rapat.

Alexander Reyhan, sang CEO muda CF Corporation, melangkah membelah kerumunan. Jas bespoke hitamnya melekat sempurna, memancarkan aura dominan yang membuat siapa pun segan mendekat. Saat seorang kolega mencoba menawarkan kerja sama secara sepihak, Reyhan menatapnya tajam.

"Saya menghargai tawaran Bapak. Namun, CF Corporation memiliki standar operasional yang tidak bisa ditawar. Saya harap Anda mengerti bahwa keputusan ini sudah final dan tidak ada toleransi untuk negosiasi di luar jadwal," ucap Reyhan dengan nada otoritatif yang tak terbantahkan, menggunakan honorifik yang begitu kaku dan formal hingga membuat lawan bicaranya langsung ciut dan menunduk hormat.

Di seberang ruangan, Keyna Lunara, manajer keuangan Lunar Group, membuang muka saat mata mereka tak sengaja berserobok. Tatapan Keyna tak kalah dingin. Para tamu berbisik-bisik, melirik bergantian ke arah mereka. Semua orang tahu, anak-anak dari dua rival bisnis itu mewarisi kebencian ayah mereka secara sempurna.

Satu setengah jam kemudian. Basement VIP Hotel.

Suara ketukan heels Keyna menggema di area parkir yang sepi. Begitu ia membuka pintu mobil SUV hitam dengan kaca super gelap yang terparkir di sudut paling tersembunyi, pergelangan tangannya langsung ditarik ke dalam. Pintu tertutup rapat, mengunci dunia luar.

"Lama banget," gerutu sebuah suara berat, sangat kontras dengan nada sedingin es di ruang ballroom tadi.

Sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggang Keyna, menarik tubuh perempuan itu hingga jatuh ke pangkuannya. Reyhan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Keyna, menghirup aroma parfum vanilla perempuan itu dalam-dalam seolah itu adalah oksigennya. Sisi otoriter sang CEO menguap tak berbekas, menyisakan Reyhan yang luar biasa clingy.

"Bibir aku sampai pegal harus senyum sinis terus ke arah kamu di dalam tadi," adu Reyhan dengan suara teredam, memberikan kecupan-kecupan kecil di bahu Keyna.

Keyna terkekeh pelan, jari-jarinya otomatis mengusap rambut rapi Reyhan hingga sedikit berantakan. "Namanya juga akting, Rey. Papa aku tadi merhatiin terus, tahu."

Reyhan mengangkat kepalanya, menatap netra Keyna dengan sorot memuja. Jemarinya terulur merapikan anak rambut yang jatuh di dahi kekasihnya. "Besok weekend, kan? Tiket penerbangan ke Maldives atas nama asisten aku udah aman. Kita berangkat beda pesawat seperti biasa."

Keyna menaikkan sebelah alisnya, tersenyum jahil sambil mengalungkan tangannya di leher Reyhan. "Alasan kamu ke Om Albert apa kali ini?"

"Tinjauan lokasi mendadak untuk proyek resort CF Corp," jawab Reyhan enteng, lalu menarik pinggang Keyna semakin merapat. "Dan alasan kamu ke Om Dirgantara?"

"Audit darurat laporan keuangan cabang luar negeri," bisik Keyna persis di depan bibir Reyhan.

Di bawah bayang-bayang permusuhan keluarga yang melegenda, tidak ada yang tahu bahwa sang pewaris takhta CF Corporation dan Lunar Group itu tengah membagi napas yang sama di dalam gelap. Menenun rahasia, di balik siluet kebohongan yang mereka ciptakan sendiri.

***

SECRETS AND SILHOUETTES - JAYLa tua prossima ossessione. Scoprilo ora