Bab 1 Selembar kertas

5 2 2
                                        

"Beberapa orang menulis rencana masa depan untukdikejar, sementara sebagian lagi menulisnya hanya agartidak lupa cara berharap sebelum semuanya selesai

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Beberapa orang menulis rencana masa depan untuk
dikejar, sementara sebagian lagi menulisnya hanya agar
tidak lupa cara berharap sebelum semuanya selesai."

Aroma kertas tua dan pengapnya pendingin ruangan di sudut perpustakaan universitas, biasanya menjadi tempat pelarian terbaik bagi Kirana Asterina Pradipta. Namun siang ini, tempat itu terasa mencekik. Riuh rendah suara mahasiswa di luar sana yang sibuk mendiskusikan rencana magang, tugas akhir, atau rencana liburan musim panas terdengar seperti bahasa asing di telinga Kirana.

Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun usia di mana masa depan seharusnya baru saja dimulai Kirana justru baru saja menerima tiket menuju garis akhir.
"Hasil biopsi dan pemeriksaan lanjutan menunjukkan perkembangan yang sangat agresif, Kirana. Maaf, secara medis, waktu mu tidak banyak. Mungkin hanya hitungan bulan."

Kalimat dokter spesialis sore lalu masih terngiang jelas, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Kirana menatap telapak tangannya yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya. Dadanya sesekali terasa nyeri, sebuah pengingat fisik bahwa ada sesuatu yang sedang perlahan merenggut nyawanya dari dalam.

"Gak. Gua gak mau mati sambil nangis-nangis di atas kasur rumah sakit," bisik Kirana pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar, namun sepasang matanya menyiratkan keras kepala yang luar biasa.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia merobek selembar kertas bergaris dari buku catatannya. Mengambil pena gel hitam, Kirana mulai menulis. Ia ingin meninggalkan dunia ini dengan perasaan utuh, bukan dengan penyesalan. Maka, lahirlah empat poin sederhana yang ia sebut sebagai 'Daftar Keinginan Terakhir'.
Daftar Keinginan Terakhir Kirana:

Melihat matahari terbenam.
Makan es krim di tengah malam.
Menonton film bersama.
Pergi ke tempat yang belum pernah kami datangi.

Kirana menatap poin keempat. Kata 'kami' di sana sebenarnya ditulis tanpa subjek yang jelas. Siapa yang mau menemaninya? Orang tuanya terlalu jauh dan sibuk bekerja demi membayar biaya pengobatannya, dan Kirana terlalu takut untuk memberi tahu sahabat-sahabatnya karena tidak mau dikasihani.

"Menulis surat wasiat sepagi ini? Drama apa yang lagi lo susun, Kirana?"
Suara berat, datar, dan sangat familier itu memecah keheningan. Kirana tersentak kaget. Jantungnya berdegup kencang, memberikan sensasi nyeri yang familier di dadanya. Ia mendongak dengan cepat dan langsung berhadapan dengan wajah familier yang paling ingin ia hindari di kampus ini.

Baskara Niskala Mahendra.

Baskara berdiri di sana, menjulang dengan jaket denim hitamnya. Tangan kanannya memegang beberapa buku tebal arsitektur. Wajahnya seperti biasa; datar, tanpa ekspresi, dengan mata elang yang selalu tampak menghakimi sekelilingnya. Bagi Kirana, Baskara adalah manusia paling menyebalkan. Setiap kali mereka berpapasan dalam acara kampus atau kelas umum, cowok itu selalu punya cara untuk melontarkan komentar sinis yang merusak suasana hati Kirana.

"Bukan urusan lo, Baskara! Dan sejak kapan lo hobi mengintip urusan orang lain?" ketus Kirana. Wajahnya memerah karena kesal sekaligus panik.
Dengan gerakan terburu-buru, Kirana berusaha melipat kertas tersebut agar tidak terbaca. Namun, karena tangannya yang gemetar akibat sisa syok dan rasa panik, kertas bergaris itu justru terselip dari jarinya dan meluncur jatuh ke lantai, tepat di atas sepatu kets hitam milik Baskara.

"Hei! Jangan dibaca!" seru Kirana panik.
Namun, Baskara bergerak lebih cepat. Dengan gerakan santai yang terkesan dingin, ia membungkuk dan memungut kertas itu sebelum Kirana sempat meraihnya. Sepasang mata tajam Baskara langsung memindai tulisan tangan Kirana yang rapi namun agak terburu-buru di bagian akhir.

Kirana segera berdiri dari kursinya, berniat merebut kertas itu kembali. "Kembalikan, Baskara! Lo bener-bener gak punya sopan santun, ya?!"
Namun, gerakan mendadak itu berakibat fatal. Kepala Kirana mendadak terasa berputar hebat. Pandangannya menggelap di bagian tepi, dan seluruh kekuatannya seolah menguap dari kakinya. Tubuhnya terhuyung ke depan, kehilangan keseimbangan.

Bruk.

Kirana tidak menabrak lantai keras perpustakaan. Alih-alih, ia merasakan sepasang lengan yang kuat dan kokoh menangkap tubuhnya dengan sigap. Baskara berhasil menahan kedua lengan Kirana, mencegah gadis itu terjatuh. Jarak mereka begitu dekat hingga Kirana bisa mencium lamat-lamat aroma parfum maskulin bercampur wangi kopi dari tubuh Baskara.

Sesaat, keheningan merayap di antara mereka. Baskara menatap wajah Kirana dari dekat. Di bawah lampu neon perpustakaan, ia bisa melihat dengan jelas lingkaran hitam di bawah mata Kirana dan bibirnya yang kehilangan rona merah alami. Gadis yang biasanya selalu berisik dan galak di depannya ini, hari ini terasa begitu rapuh dan ringan di dalam pelukannya.

Baskara perlahan membantu Kirana kembali tegak, namun tangannya tidak langsung melepas lengan gadis itu. Matanya beralih dari wajah pucat Kirana ke kertas yang masih ia genggam di tangan satunya.

"Daftar keinginan terakhir...?" Baskara mengeja tulisan itu dengan suara yang mendadak melunak, kehilangan nada sarkasme yang biasanya selalu ada. Cowok itu menatap Kirana dalam-dalam. "Kirana... lo sakit apa?"
Kirana yang baru saja menguasai kembali kesadarannya langsung merasa panik. Rahasia paling rapuh dalam hidupnya kini dipegang oleh orang yang paling ia anggap asing dan menyebalkan. Rasa malu, takut, dan marah bercampur menjadi satu.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Kirana menarik lengannya dengan kasar dari cengkeraman Baskara, lalu menyambar kertas itu dari tangan sang cowok.
"Gak usah sok peduli, Baskara," ucap Kirana dengan suara bergetar, menahan air mata yang mendadak mendesak keluar. "Kita gak akrab. Urus aja urusan lo sendiri, dan anggap lo gak pernah lihat kertas ini!"

Kirana buru-buru memasukkan kertas itu ke dalam tasnya, menyampirkan tas tersebut ke bahu, dan berjalan setengah berlari meninggalkan area perpustakaan tanpa menoleh lagi.
Baskara tetap berdiri mematung di tempatnya. Ia menatap telapak tangannya yang tadi sempat menahan tubuh Kirana, telapak tangan yang masih bisa merasakan betapa dinginnya kulit gadis itu. Baskara mengembuskan napas panjang, matanya menatap pintu keluar perpustakaan yang baru saja dilewati Kirana dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada gejolak emosi yang asing yang mendadak mengusik hatinya yang selama ini beku.

jangan lupa vote+ninggalin jejak💞

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 23 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Before The Last Goodbye Stories to obsess over. Discover now