Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Typo bertebaran, harap maklum......🙏🏻
Jadwal panggung mereka telah berakir beberapa jam yang lalu. Tubuh lelah, wajah masih terdapat sisa make up, energi yang sisa beberapa persen membuat semuanya ingin melompat ke kasur masing-masing. Namun berbeda dari salah satu membernya yang terkenal dengan lirik ikoniknya dalam lagu 'Rude!' itu sudah merencanakan sesuatu malam ini, dan dia memastikan kalau tak ada satupun dari membernya yang lain untuk menggagalkannya.
Tepat setelah Van yang mengantar mereka terparkir di basemen, mereka satu-persatu turun membawa barang bawaan masing-masing. Gadis berambut pendek di atas bahu memperhatikan dan mengingatkan semua membernya untuk memastikan bara bawaan mereka tidak ada yang tertinggal karena besok merupakan jadwal off mereka setelah tiga minggu lebih mempromosikan single terbaru mereka dari panggung ke panggung.
"Kalau ada yang ngeluh barangnya ketinggalan di van, aku nggak peduli. Dan kalian yang berurusan dengan menejer unnie. Mengerti" suara itu datar dan terdengar sangat kelelahan dari yang lain.
"Di mengerti leader bondol" jawab a-na dengan suara malasnya.
Jiwoo ingin menggeplak a-na yang baru saja lewat dengan wajah meledeknya namun lengannya sudah lebih dulu di tahan oleh carmen yang baru saja turun dari van karena melupakan gelang tridatunya. Jiwoo mendengus lalu menarik tangannya dari member tertua itu.
"Apasih, kamu mending jangan ngebela anak itu terus dehh, dia jadi kebiasaan ngeledekin aku terus" protes jiwoo. Lalu berjalan lurus kearah seseorang yang melihat semuanya dari ujung basemen.
Carmen menghela nafas pelan lalu menatap kearah jiwoo yang sudah menyambar lengan stella untuk digandeng. Stella tersenyum kecil pada carmen namun gadis tertua itu sepertinya tidak sempat melihat karena tubuhnya lebih dulu diseret oleh leader choi masuk ke dalam lift dan meninggalkan area basemen.
Carmen ditinggal seorang diri ketika member lainnya sudah lebih dulu naik. Sebagai member tertua, dia kembali memastikan sekali lagi barang-barang yang ada di dalam van dibantu dengan sopir yang membawa mereka.
"Carmen-ssi, mungkin ini milik dari salah satu mereka" pria tua berkepala empat itu memberikan sebuah earphone pada carmen.
"Ah terimakasih pak" ucap carmen lalu meraih benda tersebut.
Setelah yakin tidak ada lagi barang yang tertinggal, carmen akhirnya pamit dan memasuki lift. Di dalam lift begitu sunyi, carmen memandangi pantulan dirinya yang samar. Dia tersenyum namun senyumnya kali ini tidak seperti yang kebanyakan tayang di layar manapun. Senyumnya kali ini terlihat sangat lelah.
Ting!
Begitu pintu lift terbuka, carmen segera melangkah keluar menuju unitnya bersama tiga member yang lain. Saat memasukkan kode, seseorang memeluknya dari belakang hingga membuatnya terkejut dan sempat hampir berteriak, namun masih bisa ditahan ketika mencium aroma body mist milik salah satu membernya.