ANATOMI PORSELEN RETAK

13 7 5
                                        

Bagi semua orang yang berlalu-lalang di koridor SMK Widya Utama, Fiya adalah sebuah anomali yang indah sekaligus dingin.Dia kerap dijuluki si "Porselen Hijau".

Kulitnya putih pucat, jenis kulit yang tampak ringkih seolah-olah akan langsung retak jika diketuk terlalu keras. Namun, magnet utama yang membuat orang-orang enggan memutus pandang adalah sepasang matanya.

Fiya memiliki manik mata berwarna hijau sayu warisan genetika yang ganjil dari kakek buyutnya. Sorot mata itu selalu datar, dan kosong. Seolah-olah seluruh hiruk-pikuk dunia, pujian, maupun makian, terserap masuk ke dalam warna hijau itu dan lenyap tanpa bekas.

"Lihat si Fiya. Ujian fisika tingkat provinsi kemarin dia dapat nilai sempurna lagi," bisik sebuah suara di balik deretan loker.

"Tidak heran. Ayahandanya kan Dokter Narendra. Dokter spesialis bedah saraf sekaligus ilmuwan yang sering masuk jurnal internasional. Genetikanya tidak main-main."

Fiya melangkah melewati bisik-bisik itu tanpa memperlambat ritme sepatunya. Ekspresinya tetap datar. Dunia di sekitarnya berjalan seperti film bisu yang membosankan baginya. Bahkan ketika Fira, adiknya yang duduk di kelas satu, sengaja menabrakkan bahu dengan kasar hingga tumpukan buku di pelukan Fiya berhamburan ke lantai koridor, Fiya tidak berkedip.

Fira berdiri di sana, melipat tangan di dada dengan bibir melengkung sinis. Ada kilat benci dan rasa iri yang pekat di matanya. Fira muak melihat bagaimana seluruh sekolah mendewakan kakaknya, sementara dirinya selalu dipandang sebagai bayangan figuran.

"Ups, sengaja," cibir Fira, suaranya sengaja dikeraskan agar didengar siswa lain. Dia kemudian membungkuk sedikit, berbisik tepat di telinga Fiya dengan nada penuh racun. "Nanti malam, aku akan bilang ke Papa kalau Kakak sengaja membuang suplemen otak impor itu ke tempat sampah. Bersiap-siap saja untuk 'belajar' lagi, ya."Fiya hanya menatap Fira sekilas. Tanpa kilat amarah, tanpa pembelaan diri. Dengan gerakan yang teratur dan tenang, ia berlutut, memunguti buku-bukunya yang berserakan, lalu kembali berjalan.

Bagi Fiya, ancaman adiknya hanyalah angin lalu yang tidak berharga untuk ditanggapi. Dia sudah terlalu terbiasa menahan sesuatu yang jauh lebih destruktif daripada sekadar kebusukan hati seorang.

Malam harinya, prediksi Fira terwujud dengan mengerikan.Di dalam ruang kerja lantai dua yang luas, aroma antiseptik yang tajam menguar, berbaur dengan bau khas lembaran buku-buku kuno kedokteran.

Ruangan itu adalah wilayah kekuasaan Dokter Narendra. Di bawah temaram lampu meja, pria paruh baya dengan kemeja putih rapi yang lengannya digulung hingga siku itu berdiri tegap. Di tangan kanannya, seutas cambuk kulit hitam sintetis menjuntai, sesekali mengetuk ujung sepatu pantofelnya
yang mengilat.

*CETASSSS!*

Udara malam itu terbelah, disusul suara robekan kain seragam rumah Fiya yang tipis. Kulit porselen di punggungnya seketika terbelah. Jalur merah keunguan merekah cepat, memuntahkan cairan pekat berwarna pekat yang mengalir lambat melewati lekuk tulang rusuknya.

Fiya tidak menjerit. Ia berlutut di atas marmer hitam yang dingin, mencengkeram lututnya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga persendian giginya terasa linu. Matanya yang hijau menatap lurus.

Tidak ada air mata yang jatuh. Fiya telah lama mempelajari trik psikologis ini memisahkan kesadarannya dari raganya. Ia membiarkan tubuhnya hancur, sementara jiwanya bersembunyi di sudut tergelap pikirannya sendiri.

"Papa melakukan ini karena Papa sangat menyayangimu, Fiya," suara Narendra terdengar begitu bariton, begitu tenang dan terstruktur. Tidak ada kemarahan di sana, dan justru itulah yang membuatnya terdengar mengerikan. Ia berbicara seolah sedang membacakan diktat kuliah.

MIRRORING MELANCHOLIAStories to obsess over. Discover now