Disebuah jalan penghubung bernama tetraodia, tanpak seorang peri cantik dengan rambut panjang yang sedikit bergelombang, wajahnya yang putih dengan telingga seperti elf, membuat peri itu tampak begitu cantik. Disebelahnya seorang pria yang memiliki tubuh besar tapi dengan paras yang tampan, mereka berjalan melewati jalan penghubung dimana cahaya dan kegelapan bertemu.
Tetraodia jalan penghubung antara atlis dan hades.
Perjalanan mereka hanya ditemani keheningan tampa obrolan, dibelakang mereka tampak seorang pria bermata merah dengan wajah sedikit pucat.
Pria itu mengikuti mereka dengan kekuatan penghilang, mata pria itu tidak lepas dari peri didepannya, yang tidak pria itu tau, peri itu tau keberadaannya.
------
Atlis, hades dan gaia, tiga tempat, tiga golongan yang saling terhubung malalui takdir.
------
Terimakasih agetha, ucap seorang wanita paruh baya disebuah rumah kayu sederhana.
Tidak masalah nek, sudah menjadi tugasku untuk menyembuhkanmu, ucap peri cantik berwajah kecil itu, ia terlihat sama persis dengan manusia, yang membedakannya hanya sayap indah yang berada dipunggungnya.
Setelah mengobati wanita paruh baya itu agetha berjalan menyusuri desa untuk mengobati manusia yang terluka, tak lama berjalan ia dikagetkan oleh suara yang memanggilnya.
Agetha pangilnya semangat.
Eh ada thymos dan ares sambut agetha semangat.
Thymos pria bermata coklat kehitaman dengan rambut sedikit panjang dan wajah putih itu merangkul pundak agetha pelan.
Kami nyari kamu agetha, ucapnya dengan senyum manis membuat agetha sedikit tersipu.
Aku mau pergi ke tetraodia uacap ares dengan nada datar.
Lagi, kenapa kau selalu pergi kesana padahal kau tinggal di dunia manusia dan tidak pernah kembali ke hades. Tanya thymos tidak dapat menahan rasa kesal kepada sahabatnya itu.
Itu bukan urusanmu, jawab ares singkat kemudian menghilang dari hadapan mereka.
Ada apa dengan pria aneh itu, celetuk thymos.
Sudah, jadi apa yang membuatmu mencariku, tanya agetha penasaran.
Tidak, aku hanya ingin mengajakmu kesuatu tempat, apa kau luang, tanyanya dengan mata berbinar.
Mendengar itu agetha hanya mengangguk pelan.
.
.
.
Kudengar helena dan lucian mulai rutin memantau hades, ucap thymos yang tengah duduk disebuah taman yang dipenuhi bunga tulip.
Iya katharos sendiri yang meminta mereka untuk memantau setelah peri yang diperintahkan sebelumnya jatuh kelembah hades.
Oh ya apakah kau tidak pernah berpikir untuk tinggal dibumi seperti ares, tanya agnetha penasaran.
Tidak, aku suka di hades, jawab thymos yang membuat agnetha menatapnya bingung.
Hades tidak seburuk itu, maksudku tempat itu cukup bagus. Thymos menarik nafas pelan.
Bagaimana pun hades tempat kelahiranku, tempat dimana iblis lahir dari dosa dan tempat dimana dosa itu kembali dalam Bentuk roh.
Tapi kenapa ares tidak pernah pergi ke hades. Tambah agnetha.
Aku juga tidak tau, ares selalu benci tempat kelahiran kami, tapi dia selalu pergi ke tetraodia, aku penasaran apa yang ia lakukan.
------
Sedangkan disisi lain sebuah hukuman telah dilayangkan untuk roh yang berada dilembah merah hades.
Cukup, maafkan aku lucian, lirih roh itu sudah tak tahan menahan siksa.
Kau mendap apa yang telah kau perbuat selama dibumi, ucap pria berbadan besar itu tanpa ampun.
Dibelakangnya berdiri peri cantik yang menatap lurus kearah roh yang disiksa, dimatanya tidak ada rasa iba yang ada hanya ada tekad kuat yang telah ia tanam sejak lama.
Aku tau siapa yang lebih pantas atas hukuman itu, batinnya.
Setiap hukuman yang dilayangkan selalu diiringi teriakan parah roh. Mereka menjerit, memohon atas keringanan.
-------
Kemana kau akan pergi helena, tanya lucian penasaran.
Itu bukan urusanmu, tugasku sudah selesai disini, jawabnya tegas.
Kau lupa katharos memerintahkanmu untuk mematuhi semua perkataanku dan sekarang aku tak mengizinkanmu pergi.
Kau tak punya hak mengaturku lucian, lagi pula katharos cuma memintaku untuk membantu pekerjaan mu jadi diluar itu aku tidak peduli, jelasnya pergi meninggalkan tempat itu.
Apa yang sebenarnya kau rencanakan helena batin lucian.
------
Helena menggunakan kekuatan taleportasinya menuju sebuah air mancur yan terletak di atlis, tempat yang berbanding terbalik dengan hades.
Jika hades adalah tempat dosa lahir dan kembali, maka atlis adalah tempat kebaikan terlahir.
Kenapa kau lama sekali helena, tanya seorang peri berambut pendek dengan telingga seperti elf yang hampir sama seperti helena, ia sudah duduk diatas batu dekat air terjun sejak tadi menunggu kehadirannya.
Apa lucian menyusahkanmu lagi tambahannya.
Helena tidak menjawab, ia terdiam menatap air terjun yang sangat indah tepat didepannya.
Apa kau sudah bisa mengalahkanku arcadia, tanya helena beralih menatap sang peri.
Arcadia tertegun ditempat, akhir-akhir ini helena menjadi semakin keras melatihnya.
Ia melatih arcadia, peri peringkat lima untuk mengalahkannya yang berada dua tingkat diatasnya.
Apa kau bercanda, mana bisa aku mengalahkanmu yang terus berlatih keras, tanya arcadia dengan nada kesal.
Ayok mulai latihan, ucap helena yang hanya bisa diangguki pasrah oleh sang peri.
Mereka berlatih dengan serius, serangan demi serangan saling mereka layangkan.
Helena bergerak lincah dengan pedang yang bercahaya.
Sedangkan arcadia membalas serangan dengan kekuatan alam.
Dapat kau, teriak arcadia setelah berhasil mengikat helena disebuah batu besar dengan akar pohon.
Helena tersenyum miring kearah arcadia dan dengan kecepatan bak cahaya, helena berhasil melepaskan diri.
Dan bertaleportasi kebelakang arcadia.
Arcadia yang menyadarinya dengan cepat menghindar dan berdiri diatas tebing air terjun.
Kau sudah semakim cepat arcadia, puji helena menyimpan kembali pedang miliknya.
Arcadia tersenyum dengan nafas yang sedikit terengah. Sepertinya agetha harus mengobatiku lagi, ucapnya melihat tangannya yang kini dihiasi luka.
Obati lukamu, aku akan pergi menemui elettra.
.
.
.
Hi agetha, sapa arcadia setelah menemukan agetha sedang duduk didepan rumahnya.
Arcadia menunjukkan beberapa bekas luka kedepan agetha.
Lagi, tanyanya dengan nada kesal.
Arcadia yang berdiri didepanya hanya bisa tersenyum kikuk.
Bagaimana peri peringkat lima sepertimu bisa luka seperti ini, tambah agetha yang mulai mengobati luka arcadia.
Kau tau semakin tinggi peringkatmu semakin banyak bahaya yang menantimu.
Jelas arcadia.
Aku bersyukur aku hanya seorang peri peringkat 20, itu artinya aku tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga dan terluka,
