We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

My Sothis

31 4 0
                                        


"Aku ngapain sih?" pertanyaan itu kembali terucap lewat bibirku. Rasanya hambar seperti permen karet yang dikunyah berkali-kali. Jariku masih terhenti di kunci G pianoku, membuat suara yang menggema bak kapal laut di dalam ruang piano latihan kecil ini.

Ku pun mengemas barang-barangku dan beranjak pulang. Di perjalanan, kucing-kucing tampak duduk santai di pinggir gang. Seperti orang-orang yang sedang menonton parade. Sama seperti penonton, tatapan mereka beragam. Ada yang terbuka lebar dan berbinar, ada yang pupilnya menjadi tajam, ada pula yang matanya tertutup dan berbaring.

Aku meraih ponselku. Dalam gelap, ku nyalakan flash kamera agar mendapatkan foto kucing tersebut.

Jepret!

Dalam sepersekian detik. Aku melihat sosok wanita yang jongkok mengelus kucing hitam yang sedang terlelah. Rambutnya begitu panjang hingga menutupi seluruh tubuhnya. Seketika angin malam terasa begitu dingin hingga membekukan tulangku. Aspal yang tadinya selalu menolakku kini terasa menghisapku.

"Lucu kan mereka?"

Suaranya begitu lirih. Terasa seperti sutra yang menyayat kulit. Ia pun menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Hingga terlihat mata birunya yang terlihat bercahaya berkat cahaya bulan.

"Gak perlu takut. Mereka gak gigit kok."

Sekali lagi ku tegup ludah dan perlahan berjalan mendekati gadis tersebut.

"Liat deh. Yang ini warna matanya beda. Lucu kalo dilihat lama-lama." ucapnya.

"Siapa kamu—"

"Shhh! Sini dulu. Deketan duduk di sini."

Meski berat, ku tetap paksakan langkahku ke gadis tersebut.

"Pernah aku ngeliat dia ngambil ayam dari rumah tetangga. Si bapak langsung marah dan ngejar-ngejar si hitam ini." gadis itu mengeluarkan tawa kecilnya.

"Kamu siapa?" tanyaku. Sembari membungkukkan badanku mendekati gadis itu.

"Lihat catatan kamu." jawabnya.

Dengan dahi yang mengerut. Ku raih ponsel dari saku dan membuka catatanku.

Aku Haris. Dan pacarku Safira. Aku sangat mencintai Safira.

"Kamu nyatetnya singkat banget. Harusnya lebih lengkap dong."

"HAGH!" aku terlompat mundur ketika kepala gadis tersebut berada beberapa centi dari wajahku.

"Coba tambahin apa gitu. Biar kamu selalu ingat denganku."

"J-jadi kamu pacarku?"

Dia mengangguk.

"Sejak kapan."

Dia pun menghelakan nafas kecewanya, lalu menggembulkan pipinya.

"Ini makanya aku suruh kamu catat lebih lengkap. Kayak kapan aku nembak kamu, kapan date pertama kita, dan nama kucingku."

Bibirku dibungkam oleh keramaian yang berada di pikiranku. Apa aku lupa ingatan? Apakah ini mimpi? Apa yang sebenarnya terjadi? Pikirku.

"Ya udah. Sekarang catat lebih banyak lagi ya." perintahnya.

Sedikit kugaruk kepalaku walau yan tiba-tiba terasa gatal.

BZZT!!

Terdengar dering ponsel. Tetapi tanganku sama sekali tidak merasakan adanya getaran yang datang dari ponselku.

"Ah... Kayaknya mamaku udah nyuruh aku pulang." ia sempat melambaikan sembari berjalan mejauh. "Oh ya." tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. "Catat di notes kamu. Besok pagi setelah pulang sekolah. Bertemu Safira di depan gerbang." ia melemparkan senyumnya. Lalu berjalan menjauh seaakan di telan kegelapan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 01 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

My SothisStories to obsess over. Discover now