Waktu sudah menunjukkan tepat pukul duabelas malam. Suasana begitu senyap. Bahkan nyaris mencekam bagi Jill, sebab Carlos tengah menghujamkan tatapan tajam padanya. Sekarang, ia seperti seorang maling yang tertangkap basah. Jill merutuk dalam hati, mengapa ia bisa mengucapkan kalimat yang justru memancing rasa ingin tahu Carlos.
"Jill, bukankah ini sudah terlalu lama untukmu menyembunyikan identitas dariku?"
"Aku tidak menyembunyikan apa pun," Jill menyela cepat. "Kau bertanya seolah aku adalah penyusup."
Carlos menghela napas lelah. "Dengar. Sekalipun kau seorang penyusup, aku tidak peduli. Karena aku tidak merasa memiliki seorang musuh yang berpotensi mengirimkan mata-mata untuk mengetahui rahasia terbesarku. Itu omong kosong."
"Lalu, mengapa berkata begitu?"
Carlos menelan ludah. Sejenak ia terdiam sebelum akhirnya berkata, "Aku benci mengatakan ini, tapi ... aku ingin tahu kehidupanmu. Perjalanan macam apa yang kau lalui sebelum sampai di tempat ini?"
Carlos tahu, Jill menyembunyikan banyak hal. Namun, ia tak pernah berhasil mengungkapnya. Jill seperti hidup dalam dunianya sendiri, dan tak mengijinkan siapa pun untuk masuk. Termasuk Carlos, yang merasa sudah cukup lama mengenalnya. Tetapi meski demikian, Carlos yakin, Jill bukan orang yang jahat. Sebab, jika mau, Jill bisa saja mengambil apa pun dari rumah Carlos, lalu pergi ke tempat yang jauh. Namun ia tidak melakukan itu. Hingga Carlos selalu berpikir, Jill tidak lebih dari seorang gadis malang-yang berupaya kabur dari masa lalu nan kelam.
"Jika kau masih merasa aku belum cukup layak untuk mengetahui semuanya, tidak apa. Aku tidak akan memaksa. Tapi kau harus tahu bahwa ... Jill, kau bisa memercayaiku."
***
"Jill, kau bisa memercayaiku."
Ucapan Carlos malam tadi kembali berputar dalam ingatan Jill, serta ekspresi lelaki itu saat mengatakannya. Carlos menatap Jill dalam dengan sorot meyakinkan, berhasil membuat Jill mematung cukup lama. Jill tidak mengerti, mengapa Carlos begitu ingin mengetahui perihal kehidupannya yang sama sekali tidak menarik. Beberapa kali, lelaki itu pernah mempertanyakan tentang keluarga Jill, seperti di mana sanak familinya berada, atau di mana ia menghabiskan masa kecil. Tetapi Jill tidak pernah memberitahu terlalu banyak-sebab itu memang lebih baik untuk Carlos.
Ponsel dalam genggaman Jill bergetar, mengalihkan fokusnya kemudian. Ia memandang layar dan mendapati sebuah pesan masuk dari Eric.
Aku sudah di depan.
Jill mematut diri di depan cermin sekali lagi, lantas meraih tas selempangnya dari atas ranjang. Segera ia melangkah keluar dari kamar. Eric sudah menunggu. Sesuai janji mereka kemarin, hari ini ini Eric akan membawa Jill untuk mencari gaun yang akan ia kenakan pada pesta pernikahan teman Eric.
Jill berjalan cepat menuju halaman depan, senyumnya mengembang mendapati mobil putih yang terpakir di depan rumah Carlos. Usai memastikan pintu rumah sudah terkunci, ia segera berlari dan memasuki mobil tersebut. Seketika, wajah Eric memenuhi pandangan matanya.
"Ayo, jalan," kata Jill sembari mengenakan seatbelt.
Namun, Eric bergeming. Kedua alis lelaki itu tampak berkerut. Pandangannya mengarah ke arah rumah Carlos, kemudian berpindah ke wajah Jill.
"Kau benar-benar tinggal di sini?"
Jill mengangguk. "Untuk saat ini, iya. Memangnya kenapa?"
"Rumah siapa ini? Tidak mungkin kau membayar sewa untuk rumah sebesar ini." Eric bertanya dengan nada curiga. Kedua mata elangnya menatap Jill tajam.
YOU ARE READING
My Beautiful Rose
RomanceFelicia Roselyn Adams memiliki seluruh kriteria wanita idaman Carlos Spencer. Bak sekuntum mawar putih, Felicia cantik, anggun dan elegan. Pembawaannya yang kalem dan misterius sungguh menarik hati Carlos. Hingga lelaki itu berusaha mengerahkan sege...
