TIRAMI TISU CAKE

4 1 0
                                        

Gerimis lembab Borneo menggelapkan daun kering pohon ulin yang berguguran di halaman sekolah. Raffi berdiri di teras, menggenggam selembar kertas dengan tangan gemetar. Di atas kertas itu tertera nama-nama pemenang lomba menulis tingkat kabupaten. Juara satu, dua, tiga. Namanya tidak ada di sana.

Juara empat.

Selalu juara empat.

Raffi melipat kertas itu perlahan, seperti melipat tubuh adiknya yang dulu terbaring di peti kayu ulin. Rafa. Nama yang masih terasa pahit di lidah, meskipun sudah dua tahun berlalu. Rafa yang selalu juara satu. Rafa yang bisa menggambar, bernyanyi, menulis, dan melakukan segalanya dengan sempurna. Rafa yang meninggal karena demam berdarah di usia sepuluh tahun, dan sejak saat itu, keluarga Raffi seolah kehilangan matahari.

Raffi adalah bulan. Bulan yang hanya memantulkan cahaya, tapi tidak pernah cukup terang.

Di rumah, Raffi meletakkan kertas itu di atas meja makan. Ibunya melihatnya sekilas, lalu menghela napas panjang. Bukan napas lega. Napas yang berat, seperti beban yang tidak pernah selesai dipikul.

"Juara empat lagi?" suara ibunya datar. Tidak marah. Tidak sedih. Hanya datar, seperti segala warna telah habis dicuci hujan.

Raffi mengangguk. Tangannya mengepal di bawah meja. Kukunya menusuk telapak, meninggalkan bekas sabit yang akan ia lihat nanti saat mandi.

"Rafa dulu tidak pernah di bawah juara dua," kata ibunya sambil menatap jendela. Matanya kosong, menembus kaca ke tempat yang tidak bisa dilihat Raffi. "Kamu tahu, Rafl? Rafa itu anak yang selalu berusaha. Tidak seperti kamu."

Tidak seperti kamu.

Kalimat itu jatuh. Tidak keras. Tapi tepat di dada Raffi. Seperti palu yang memecah tulang tanpa suara.

Raffi ingin berteriak. Ingin membanting meja. Ingin berkata, "Aku juga berusaha, Mah! Aku ikut lomba menulis setiap bulan! Aku baca puluhan buku! Aku tulis ulang ceritaku sampai puluhan kali! Tapi kenapa aku selalu juara empat? Kenapa aku tidak bisa jadi Rafa?"

Tapi tidak ada suara yang keluar. Hanya diam. Diam yang lebih keras dari teriakan mana pun.

Ia berjalan ke kamar. Pintu tertutup perlahan, tanpa suara. Seperti ia tidak ingin keberadaannya terdeteksi.

Di kamar, Raffi duduk di lantai. Di depannya ada tumpukan kertas. Cerpen-cerpen yang ia tulis. Cerpen-cerpen yang selalu kalah.

Ia mengambil satu kertas. Membacanya.

"Matahari terbenam di ujung sungai. Warna jingga menyebar seperti luka yang tidak pernah sembuh..."

Itu cerpen tentang adiknya. Tentang Rafa. Tentang bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang lebih sempurna dari dirimu. Raffi menulisnya dengan darah dan air mata. Tapi juri bilang, "Cerita kurang mendalam."

Kurang mendalam.

Raffi tertawa pahit. Bagaimana mungkin cerita tentang kehilangan adiknya sendiri tidak mendalam? Bagaimana mungkin rasa sakit yang ia rasakan setiap hari tidak cukup dalam untuk sebuah lomba?

Ia meremas kertas itu. Lalu meremas yang lain. Dan yang lain lagi. Hingga semua cerpennya menjadi bola-bola kertas yang berserakan di lantai.

Lalu matanya jatuh pada sesuatu di sudut kamar. Sebuah kotak tisu basah. Kemasan hijau dengan gambar daun. Tisu itu bukan untuk makan. Tentu saja bukan. Tapi suatu hari, dua bulan lalu, saat ia menangis dan tidak tahu harus berbuat apa, ia merobek selembar tisu basah dan memasukkannya ke mulut.

Rasanya manis. Anehnya manis. Seperti ada sesuatu yang larut di lidah, sesuatu yang membuat otaknya mati rasa sejenak. Sejak itu, ia melakukannya lagi. Dan lagi. Dan lagi.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 16 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

MERAK PERAKStories to obsess over. Discover now