come back | 01

7 0 0
                                        

Mesin pesawat berdengung pelan di tengah penerbangan.

Claire Arsenio duduk di kursinya dengan tenang. Rambut ikal panjangnya jatuh rapi di bahu, sementara headphone yang menempel di telinganya memutar lagu yang sebenarnya tidak benar-benar ia dengarkan.

Pandangannya tertuju ke luar jendela.
Langit biru yang membentang luas seharusnya terasa menenangkan, tetapi pikirannya terlalu penuh untuk sekadar menikmati pemandangan.

Di tangannya, sebuah ponsel ia genggam erat seolah benda itu mampu memberinya sedikit rasa aman.
Di sampingnya duduk seorang pria dengan setelan jas hitam yang selalu terlihat sempurna.

Sebastian.

Bodyguard sekaligus orang kepercayaan keluarga Arsenio.

Pria itu memiliki wajah tegas dan tatapan dingin yang sering membuat orang lain enggan mendekat. Namun Claire tahu, di balik sikap profesionalnya, Sebastian adalah salah satu dari sedikit orang yang masih memperlakukannya sebagai manusia.

Sebastian terlihat sibuk menatap layar iPad di tangannya. Jarinya bergerak cepat menggulir jadwal demi jadwal yang tampaknya tidak ada habisnya.
Claire melirik sekilas.

Lalu menggeleng pelan "Bahkan di pesawat lo masih lihat kerjaan."

Nada suaranya terdengar heran sekaligus pasrah.

Sebastian terkekeh kecil. Ia mengalihkan pandangannya dari layar iPad dan menoleh ke arah Claire.

"Hanya memastikan semuanya sesuai jadwal, Nona."

Claire memutar bola matanya

"Nggak ada yang berubah. Dunia juga nggak akan hancur kalau lo berhenti kerja selama dua jam."

Sebastian tertawa pelan mendengar itu.
Namun beberapa detik kemudian ekspresinya kembali serius.

Namun beberapa detik kemudian ekspresinya kembali serius. Ia mematikan layar iPad sebelum menatap Claire dengan sopan.

"Nona, sebentar lagi kita sampai."

Claire mengangguk singkat.

"Saya akan menghubungi Madam setelah kita mendarat."

Mendengar kalimat itu, tubuh Claire menegang tanpa sadar.

Senyum kecil yang sempat muncul di wajahnya perlahan menghilang.

Bahkan Sebastian yang telah bekerja untuk keluarga mereka selama bertahun-tahun pun memanggil wanita itu dengan sebutan Madam.

Dan entah mengapa, Claire merasa itu lebih cocok.

"Bisakah Nona menunggu sebentar setelah kita sampai?" lanjut Sebastian.

Claire tidak langsung menjawab, jemarinya perlahan mengencang di sekitar ponsel yang ia genggam.

Perutnya terasa tidak nyaman, gugup dan takut.

Perasaan yang selalu muncul setiap kali nama wanita itu disebut.

"Claire?"

Suara Sebastian membuyarkan lamunannya.

Claire tersentak kecil lalu memaksakan senyum tipis.

"Iya."

Sebastian mengangguk.

"Kita tidak akan lama."

Claire hanya membalas dengan anggukan pelan. Kemudian ia kembali memalingkan wajah ke arah jendela.

Awan-awan putih terus berlalu di luar sana namun pikirannya tidak berada di langit, Pikirannya sudah lebih dulu mendarat. Kembali ke rumah yang megah.

Rumah yang selama bertahun-tahun ia tinggali. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling nyaman untuk pulang, Tetapi bagi Claire...

Rumah itu selalu terasa seperti tempat yang ingin ia tinggalkan.

Di sisi lain, Ageline Arsenio duduk dengan anggun di kursi mewah yang berada di sudut ruangan. Jemarinya yang terawat menggenggam cangkir teh porselen dengan motif bunga yang elegan. Dengan gerakan tenang, ia menyesap teh hangat itu perlahan sambil menatap papan catur kaca yang terletak di atas meja di hadapannya.

Suasana ruangan begitu hening dan berkelas. Cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela besar memantul pada permukaan papan catur, membuat bidak-bidak kaca itu berkilauan indah.

Di seberang Ageline duduk seorang wanita paruh baya yang tak kalah elegan. Wanita itu memainkan bidak caturnya dengan santai, seolah menikmati permainan yang telah berlangsung cukup lama.

Ageline mengamati papan catur beberapa saat. Matanya yang tajam menelusuri setiap kemungkinan langkah sebelum akhirnya sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.

Perlahan, ia meletakkan cangkir teh di atas meja.

Ketukan porselen yang pelan terdengar di antara keheningan ruangan.

Tangannya terangkat, mengambil salah satu bidak catur lalu memindahkannya ke petak tujuan.

"Skak."

Nada suaranya lembut, namun penuh keyakinan.

Wanita di hadapannya terkekeh kecil mendengar itu. Alih-alih terlihat panik, ibu Logan justru terlihat santai. Ia mengangkat cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan sebelum menggeleng pelan.

"Sepertinya aku mulai kalah darimu, Ageline."

Ageline hanya tersenyum tipis tanpa memberikan jawaban.

Namun ketenangan sore itu mendadak terusik.

Ponsel yang terletak di sampingnya berdering.

Getaran singkat disusul nyala layar ponsel membuat perhatian Ageline teralihkan dari permainan catur.
Matanya menatap nama yang tertera di layar.

Sebastian.

Seketika senyum di wajahnya memudar. Ageline berdiri dari kursinya dan meraih ponsel tersebut.

"Aku permisi sebentar."

Ujarnya sopan kepada ibu Logan.

Wanita itu hanya mengangguk sambil kembali menyesap tehnya.

Tanpa menunggu lebih lama, Ageline melangkah menjauh dari meja catur.

Hak sepatunya beradu pelan dengan lantai marmer yang mengilap saat ia berjalan menuju sudut ruangan yang lebih sepi.

Barulah setelah cukup jauh, ia mengangkat panggilan itu dan menempelkan ponsel ke telinganya.

"Ya, Sebastian?" ucapnya tenang. Namun ada nada dingin yang selalu muncul setiap kali ia berbicara dengan orang lain.

The Heirs Of Silence Bağımlısı olacağınız hikayeler. Şimdi keşfedin