1. patroli Kereta

21.9K 111 6
                                        

Jangan lupa untuk selalu mendukung author agar terus berkarya
-----

Malam semakin larut, menyisakan sunyi yang hanya dipecah oleh deru mesin kereta listrik yang melaju membelah kegelapan pinggiran kota. Di dalam gerbong Commuter Line yang dingin oleh embusan AC, Teo melangkah dengan bahu yang terasa berat. Seragam PKD yang ia kenakan terasa mencekik lehernya, bukan karena ukurannya yang salah, melainkan karena beban kerja yang seolah tidak ada habisnya. Matanya yang merah menahan kantuk terus terjaga, memindai setiap sudut kursi panjang yang sebagian besar sudah kosong melompong.

Teo menghela napas panjang, kepalanya terasa berdenyut. Usianya hampir menginjak tiga puluh tahun, namun hidupnya hanya habis di atas rel dan stasiun. Teman-temannya sering mengejeknya karena sampai detik ini ia belum juga memiliki kekasih. Padahal, sebagai pria dewasa dengan fisik yang prima, Teo merasakan desakan hormon yang luar biasa di dalam dirinya. Libidonya sering kali memuncak di saat-saat yang tidak tepat, membuatnya sering merasa frustrasi.

Ia teringat pembicaraan di ruang istirahat kemarin, saat rekan-rekannya yang sudah berkeluarga mengeluh betapa sulitnya menahan nafsu. Teo hanya bisa diam, memendam fakta bahwa ia bahkan tidak punya waktu untuk sekadar melepas stres. Ia merasa bagian pribadinya, yang secara objektif berukuran di atas rata-rata dan sangat perkasa, terbuang sia-sia. Namun, rasa sakit di area selangkangannya-rasa nyeri karena terlalu lama menahan diri-membuatnya makin tersiksa.

Langkah Teo terhenti saat ia memasuki gerbong paling ujung. Suasana di sana jauh lebih sunyi. Namun, pemandangan di depannya membuat jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Di salah satu sudut kursi, duduk seorang wanita sendirian. Penampilannya sangat kontras dengan suasana gerbong yang dingin dan suram. Wanita itu mengenakan atasan crop top tanpa lengan yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sintal dan perutnya yang rata. Rok mini yang ia kenakan begitu pendek, bahkan tidak sanggup menutupi setengah dari paha putihnya yang mulus.

"Jam segini? Masih ada penumpang di gerbong paling ujung?" gumam Teo dengan suara rendah.

Ada rasa takut yang menyelinap, rasa ngeri jika wanita itu ternyata bukan manusia. Namun, sebagai petugas keamanan, Teo memiliki kewajiban untuk memeriksa. Ia mendekat perlahan, berusaha menjaga sikap profesional meski matanya tidak bisa berhenti menatap paha wanita itu yang bersinar di bawah lampu neon kereta.

"Permisi, Mbak? Stasiun akhir sudah dekat, Mbak?" ucap Teo sambil berdehem.

Tidak ada jawaban. Wanita berambut hitam panjang itu tetap menunduk, bersandar pada sandaran kursi dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Teo semakin mendekat, aroma parfum yang sangat harum dan menggoda mulai menyerbu indra penciumannya. Wangi itu manis seperti vanila, bercampur dengan aroma feminin yang membuat bulu kuduk Teo meremang.

"Mbak? Bangun, Mbak," Teo mencoba memanggil lagi, suaranya sedikit bergetar.

Ia memberanikan diri menepuk bahu wanita itu. Tetap tidak ada respon. Dengan sedikit ragu, Teo mengguncang bahu tersebut lebih kuat. Secara tiba-tiba, tubuh wanita itu terkulai dan jatuh ke samping, berbaring telentang di atas kursi panjang kereta. Teo terkesiap, jantungnya serasa ingin melompat keluar.

Dengan tangan gemetar, Teo menyibak rambut hitam panjang yang menutupi wajah wanita itu. Seketika, ia terpaku. Wajah di depannya sangat cantik, dengan kulit yang tampak selembut porselen dan bibir merah yang sedikit terbuka. Teo segera mengecek denyut nadi di leher wanita itu dan mendekatkan jarinya ke hidung untuk merasakan napas.

Dihamili petugas PKD mesumCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang