Pagi itu halaman kampus sudah dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang. Ada yang berjalan tergesa-gesa sambil membawa setumpuk buku, ada yang duduk di taman sambil menikmati sarapan, dan ada juga yang sibuk mengobrol sambil merokok sebelum jam kuliah dimulai.
Di antara keramaian itu, Dinda melangkah santai menuju gedung fakultas. Rambut hitam sebahunya dibiarkan tergerai, sementara beberapa buku tebal dipeluk erat di dadanya. Hampir semua dosen mengenalnya sebagai mahasiswi berprestasi. Nilainya selalu memuaskan, aktif di berbagai kegiatan kampus, dan tak pernah sekalipun membuat masalah.
"Dinda!" panggil seorang gadis dari kejauhan.
Dinda menoleh tersenyum lalu menyapa balik gadis yang memanggilnya barusan. "Pagi, Nis."
Nisa segera menyusul langkahnya. "Tugas Statistik udah selesai?"
"Udah dong semalam."
Nisa mendecak pelan. "Aku curiga kamu ngerjain-nya pakai dukun ya din. Tugasnya kan banyak!!"
"Enak aja kalau ngomong, kamu nggak tau aku siapa, Dinda Kusuma Wulandari. Ingat itu!" Dinda tertawa kecil berlagak sombong menyebalkan dirinya.
Nisa menyenggol sedikit tubuh Dinda. "Halah-halah iya-iya si paling pintar."
Mereka terus berjalan sambil mengobrol ringan sambil bercanda hingga tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari arah parkiran dekat mereka.
Brak!
Semua orang spontan menoleh.
Tampak 2 mahasiswa yang satu mengenakan hoodi polosan dengan raut wajah yg tampak begitu kesal, Sedangkan mahasiswa yang satunya dengan tubuh tinggi dan wajah yang santai tetap berdiri, tatapan tajam seolah tidak terjadi apa-apa.
"Reza! Itu motor gue!" teriak pria yang yang memakai hoodi setelah motornya terjatuh.
Reza justru tertawa. "salah sendiri parkirnya miring."
"Kan kamu yang nyenggol!"
"Masa sih."
Jawaban santainya mengundang tawa teman-temannya, sementara pemilik motor hanya bisa menggeleng kesal.
Dinda ikut memperhatikan dari kejauhan. "Siapa dia?"
Nisa langsung menjawab, "Reza."
"Yang sering bikin masalah itu?"
"Iya. Kalau ada keributan di kampus, kemungkinan besar ada dia."
Dinda menghela napas pelan. Dari penampilannya saja sudah terlihat berbeda. Kemeja kampusnya tidak dimasukkan, tas hanya disampirkan di satu bahu, rambutnya sedikit berantakan, tetapi entah kenapa banyak mahasiswa yang justru tertawa melihat tingkahnya.
"Percuma ganteng kalau kelakuannya begitu," gumam Dinda.
Mereka pun melanjutkan langkah menuju kelas tanpa menyangka bahwa pria yang baru saja mereka bicarakan itu akan menjadi orang yang paling banyak mengubah hidup Dinda.
***
Mereka pun melanjutkan langkah menuju kelas tanpa menyangka bahwa pria yang baru saja mereka bicarakan itu akan menjadi orang yang paling banyak mengubah hidup Dinda.
Begitu memasuki ruang kelas, Dinda langsung memilih bangku paling depan di dekat jendela. Tempat itu memang sudah menjadi "kursinya" sejak semester pertama. Selain lebih mudah fokus mendengarkan dosen, ia juga bisa merasakan angin pagi yang masuk dari sela-sela jendela.
Nisa duduk tepat di sampingnya sambil mengeluarkan ponsel.
"Din."
"Hm?"
KAMU SEDANG MEMBACA
NOL PERSEN
RomansaDinda pernah percaya bahwa hidup selalu berpihak pada orang baik seperti dirinya. Sampai suatu hari, semuanya berubah begitu cepat. Cinta yang dulu ia anggap rumah justru menjadi awal dari kehancuran. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang p...
