Chapter 1

56 13 19
                                        

"Keonho! Ahn Keonho!"

Suara Hana menggema di di depan pintu apartement keluarga Ahn. Kakinya sibuk melepas sepatu sekolah. Sedangkan matanya bergerak ke seluruh ruangan mencari sosok bernama Ahn Keonho.

Pasalnya jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Tapi Keonho belum menampakan dirinya di lorong apartemen. Biasanya pria itu sudah berdiri di depan pintu sambil mengomel tentang Hana yang masih berkemas ataupun tentang berangkat sekolah yang harus sepagi itu.

Tak ada rasa sungkan bagi Hana untuk memasuki kediaman keluarga Ahn. Pasalnya Hana dan Keonho sudah bersahabat sejak kecil. Bahkan ibu mereka sering bercanda bahwa mereka sudah bersahabat sejak dalam kandungan.

Tuk! tuk! tuk!

Hana mengetuk pintu kamar Keonho tanpa ampun. Pikirnya Keonho pasti belum terjaga, mengingat tadi malam ia masih mengirim pesan pada pukul dua dini hari.

Kalau saja hari ini tidak ada ulangan, tentu saja Hana tak perlu repot-repot membangunkan Keonho di pagi hari.

"Keonho bangun!"

Suara gemericik air dari dalam kamar mandi menarik perhatian Hana. Kini tangannya beralih mengetuk pintu itu tanpa ampun. "Jangan mandi terlalu lama!! Nanti kita terlambat" omelnya.

Kriettt-

Pintu kamar mandi terbuka.

Dan dunia Hana terasa melambat beberapa detik.

Seorang pemuda bertubuh tinggi keluar dari sana hanya dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.

Rambut hitamnya masih basah. Tetesan air dari rambutnya jatuh melewati leher, dada bidang, hingga perut yang terbentuk sempurna.

Untuk sesaat otak Hana rasanya berhenti bekerja secara normal.

Matanya bergerak tanpa izin.

Dari wajah.

Bahu

Ke dada

Lalu-

Gelap

Pandangan Hana mendadak tertutup

Gelap.

Kenapa tiba-tiba gelap?

Sebuah tangan menutupi kedua matanya. Hana mencoba melepaskan tangan tersebut.

"Kya!" Pekiknya, takut-takut bahwa seseorang yang menutupi wajahnya adalah komplotan orang berbahaya.

"Hyung! Cepat masuk kamar! Aku akan menahan wanita cabul ini!"

Hana berusaha melepaakan telapak tangan Keonho yang masih menutupi matanya.

Sesaat setelah pintu kamar Seonho tertutup, Keonho langsung melepaskan tangannya.

Hana segera menendang tulang kering Keonho."Cabul? Siapa yang kau sebut cabul?" Sungutnya pada Keonho yang masih meringis.

"Siapa lagi?" Tanya Keonho. Ia menunjuk Hana "tentu saja kau" Balasnya tanpa ragu.

"Huaa!.. Ini masih pagi, dan kau sudah memfitnahku?"

"Siapa yang fitnah, itu kenyataannya." Tantang Keonho. Kakinya tak lagi terasa sakit.

Matanya menyipit ke arah Hana, seolah baru saja menangkap pelaku utama di balik kekacauan pagi ini.

"Aku melihat matamu menatap hyung dari atas sampai bawah dengan-mulut yang sedikit terbuka" jawabnya sambil memegang lehernya seolah bulu kuduknya sedang merinding.

"Itu karena aku kaget!"

Keonho tersenyum lebar, kini alisnya dimainkan seolah mengejek Hana "Kaget karena melihat tubuh Seonho hyung"

CrossroadsOpowiadania do pokochania. Odkryj je teraz