BAB 1 : Kenangan yang tak pernah luntur

3 1 0
                                        





🌿~🌿~🌿




~Sejauh apapun kenangan itu pergi,tetapi memori itu masih terekam dengan jelas di hati dan pikiran~

🌿~🌿~🌿


"Luka yang kau berikan tidak akan pernah aku lupakan.biar aku menyimpannya dan menjadikannya sebuah kenangan"




Kalimat itu... kalimat pendek yang sederhana, namun bagi Kenan Anantara Biandra, kalimat itu adalah seluruh dunianya selama dua tahun terakhir. Kalimat itu terukir begitu jelas, begitu dalam, dan begitu menyakitkan di dalam relung hatinya yang paling tersembunyi. Seperti tinta hitam yang dituangkan di atas selembar kertas putih bersih, yang kemudian mengering dan menjadi bagian dari kertas itu sendiri-tidak akan pernah bisa dihapus, tidak akan pernah bisa hilang. Ia akan tetap ada, menjadi jejak, menjadi sejarah, dan menjadi pengingat abadi akan betapa hancurnya hati seorang laki-laki yang dulu pernah percaya bahwa cinta itu adalah hal terindah di dunia.




Sudah tepat dua tahun, tiga bulan, dan sebelas hari berlalu sejak hari itu. Hari di mana dunia Kenan seakan runtuh dalam sekejap mata. Hari di mana segala sesuatu yang ia bangun dengan susah payah, segala impian yang ia rajut benang demi benang bersama wanita yang ia cintai, hancur lebur menjadi debu hanya dalam hitungan menit. Jika seseorang bertanya kepada Kenan apa hari terburuk dalam hidupnya, tanpa ragu ia akan menjawab: hari di mana Dinda Prameswari, wanita yang ia sayangi lebih dari nyawanya sendiri, berdiri di hadapannya dengan wajah yang penuh air mata namun dengan tekad yang begitu kuat, dan mengatakan bahwa ia akan pergi. Bukan pergi sebentar, bukan pergi untuk urusan pekerjaan atau sekolah, tapi pergi dari kehidupan Kenan selamanya. Pergi untuk memilih hidup bersama laki-laki lain.


Kenan masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas, seolah kejadian itu baru terjadi kemarin sore. Suasana saat itu masih terasa nyata di ingatannya. Langit saat itu mendung, kelabu, persis seperti perasaannya. Hujan rintik-rintik mulai turun membasahi aspal jalanan kota tempat mereka dibesarkan. Mereka berdiri di bawah pohon beringin tua yang dulu sering menjadi tempat berteduh mereka saat sekolah. Tempat di mana untuk pertama kalinya Kenan menyatakan perasaannya, tempat di mana mereka berbagi tawa dan cerita, tempat yang dulu menjadi saksi kebahagiaan mereka, kini menjadi saksi kehancuran hati Kenan yang paling besar.




"Maaf, Kenan..." suara Dinda terdengar lirih, bergetar, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa tajam seperti pisau yang sedang mengiris-iris jantung Kenan berkali-kali tanpa ampun. "Aku tidak bisa melanjutkan ini lagi. Aku rasa... aku tidak bahagia. Setidaknya, tidak sebahagia saat aku bersamanya."



Kenan saat itu hanya diam. Tubuhnya kaku, matanya menatap lekat-lekat wajah wanita yang selama ini menjadi pusat dunianya. Ia mencari-cari kebohongan di mata itu, ia berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk, atau mungkin Dinda sedang bercanda. Tapi tidak. Ia tidak menemukan satu pun jejak keraguan di mata cokelat muda itu. Yang ia temukan hanyalah penyesalan, ketegasan, dan... kebebasan. Ya, Dinda terlihat seperti seseorang yang baru saja melepaskan beban berat di pundaknya. Dan beban itu, ternyata, adalah dirinya.



"Dia... Galih lebih bisa mengerti aku, Ken. Dia lebih bisa memberikan apa yang aku butuhkan. Dia lebih mapan, dia lebih... segalanya. Aku tahu aku jahat. Aku tahu aku wanita yang buruk. Tapi aku tidak bisa membohongi hatiku sendiri lagi. Aku tidak mau menyiksa diriku dan juga menyiksamu dengan hubungan yang sebenarnya sudah mati ini. Biarkan aku pergi. Biarkan aku memilih jalan yang menurutku akan membuatku bahagia," lanjut Dinda lagi. Kali ini air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang putih bersih.


Immortal in the storyStories to obsess over. Discover now