Pintu kamar March terbuka begitu saja.
March yang sedang sibuk memeriksa hasil foto di kameranya refleks menoleh. Namun sebelum sempat bertanya apa yang terjadi, ia melihat Stelle berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuket bunga liar.
Dengan ekspresi datar seperti biasanya, Stelle mengangkat buket itu ke depan.
"March, menikahlah denganku!"
Hening.
March berkedip sekali.
Dua kali.
Lalu hampir menjatuhkan kameranya sendiri.
"H-HAH?! Stelle?!"
Wajahnya langsung memerah sampai ke telinga.
Ia berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.
"T-Tunggu dulu! Apa maksudnya itu?!"
Stelle hanya mengulurkan bunga tersebut sedikit lebih dekat.
"Lamaran."
"AKU TAHU ITU LAMARAN!"
March menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Yang aku tanyakan itu kenapa tiba-tiba sekali?!"
Ia mengintip dari sela jemarinya dan memperhatikan buket di tangan Stelle.
"...Sebentar."
March menyipitkan mata.
"Itu bunga dari planet yang kita kunjungi kemarin, kan?"
"Iya."
"Kamu metiknya di pinggir jalan?"
"Iya."
"Jadi kamu melamarku pakai bunga liar yang dipetik sembarangan?"
Stelle berpikir sejenak.
"...Aku pilih yang paling bagus."
Entah kenapa jawaban itu justru membuat wajah March semakin merah.
"Kamu benar-benar nggak ada obatnya..."
March menghela napas panjang sambil memegangi dahinya.
"Kamu nggak bisa masuk begitu saja ke kamar orang lalu bilang 'menikahlah denganku' seolah itu sapaan biasa."
"Tidak bisa?"
"TENTU SAJA TIDAK BISA!"
March menjatuhkan diri ke atas ranjang dan memeluk bantal.
"Setidaknya ajak aku jalan dulu. Makan malam romantis atau apa kek. Masa langsung nikah?"
"Tapi kita sudah sering jalan berdua."
"Itu beda!"
"Kenapa beda?"
"Karena..."
March membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Karena sebenarnya ia juga tidak tahu jawabannya. Hal yang membuatnya kesal justru bukan lamaran mendadak itu. Melainkan fakta bahwa sebagian kecil dari dirinya merasa bahagia mendengarnya. Perasaan itu membuat jantungnya berdebar semakin kencang. Sementara Stelle masih berdiri di sana dengan tenang, seolah baru saja menanyakan menu makan malam.
"...Jadi?"
March mengangkat wajah dari bantal.
"Jadi apa?"
"Jawabannya."
March langsung menarik bantal dan melemparkannya ke arah Stelle.
"GAK ADA YANG MELAMAR ORANG LALU MINTA JAWABAN DALAM SATU MENIT! Setidaknya ajak aku kencan dulu-"
YOU ARE READING
March, Marry Me! (Stelle x March 7th)
FanfictionTanpa alasan yang jelas dan sama sekali tanpa persiapan, Stelle tiba-tiba menerobos kamar March 7th dan berkata: "March, ayo menikah denganku!" March yang sedang sibuk memeriksa hasil foto di kameranya refleks menoleh dan mengira itu hanya lelucon a...
