Cahaya matahari sore yang mulai meredup membiaskan warna oranye keemasan di antara celah-celah gedung apartemen di kawasan Campustown. Udara terasa hangat dan lembap, membawa aroma kota yang khas-campuran debu jalanan, sisa asap knalpot, dan wangi samar masakan dari warung makan di lantai dasar. Aku berdiri di depan kompleks hunian ini, memperhatikan bagaimana bayang-bayang panjang mulai menelan trotoar.
Ini adalah apartemenku. Sebuah tempat yang seharusnya menjadi awal yang tenang, namun entah mengapa, instingku mengatakan bahwa ketenangan itu tidak akan bertahan lama. Gedung-gedung tinggi dengan balkon yang tertutup jemuran dan unit AC yang berdengung pelan tampak monoton, namun menyimpan kehidupan yang berdentang di balik setiap pintunya.
Aku menarik napas panjang, merapikan letak tas yang tersampir di bahu, dan mulai melangkah masuk. Debu halus beterbangan di udara saat aku berjalan menyusuri jalanan beton yang mulai mendingin. Suasana sore itu sunyi, hanya sesekali terdengar deru mesin mobil yang lewat di kejauhan, memecah keheningan kompleks yang perlahan mulai bersiap untuk menyambut malam. Langkah kakiku terdengar berirama, berketuk pelan di atas permukaan aspal yang keras.
Aku menatap ke atas, ke deretan jendela yang berjajar rapi. Di suatu tempat di sana, di balik salah satu pintu bernomor, ada kehidupan yang akan segera bersinggungan dengan hidupku. Aku tidak tahu apa yang menantiku-apakah itu akan menjadi sekadar formalitas antara orang asing, atau sesuatu yang lebih rumit dari yang kubayangkan. Aku hanya tahu, mulai hari ini, statusku sebagai penghuni di sini bukan lagi sesuatu yang bisa kuabaikan begitu saja.
Aku hanyalah seorang mahasiswa biasa. Tidak ada yang istimewa dari diriku. Selama masa sekolah, aku tidak pernah benar-benar menonjol atau menjadi yang terbaik dalam hal apa pun. Nilai-nilaiku selalu berada di rentang rata-rata, dan kehidupan sosialku tidak jauh berbeda.
Namun, setidaknya aku memiliki satu pencapaian yang bisa kubanggakan, yaitu berhasil masuk ke universitas yang layak. Mengenakan kemeja polo berwarna hijau lumut dengan kerah yang sedikit kaku dan tekstur kain katun yang terasa pas di kulit, aku terus berjalan menyusuri kompleks. Tas ransel berwarna abu-abu gelap dengan tali yang terasa sedikit menekan bahu menjadi satu-satunya beban fisik yang kubawa saat itu.
Aku berhenti sejenak, mendongak menatap fasad gedung apartemen yang menjulang di depanku. Cat dindingnya berwarna krem pucat yang tampak agak kusam karena terpapar cuaca, dengan deretan jendela persegi yang memantulkan cahaya sore. Tatapanku terpaku pada bangunan itu, seolah mencoba menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku menghela napas, menyadari bahwa perjalanan hidupku yang sebenarnya mungkin baru saja dimulai di tempat yang terasa asing ini.
Keputusanku untuk menyewa apartemen yang terletak dekat dengan kampus memberikan suntikan semangat baru dalam diriku. Ada kebebasan yang mendebarkan saat membayangkan bisa segera angkat kaki dari rumah dan mulai menata hidup secara mandiri.
Namun, realita seketika menamparku saat jemariku meraba kertas tagihan yang baru saja kuterima. Kertas putih itu terasa kaku di antara jari-jariku, dengan deretan angka dan kolom biaya yang terlihat sangat mendetail. Aku menunduk, mengamati setiap nominal yang tertulis di sana dengan teliti, sementara keringat dingin mulai merembes di pelipisku.
"Yah, sudah kuduga bakal luar biasa," gumamku pelan, mencoba menertawakan nasibku sendiri meski terasa pahit. Aku menatap angka total yang tertera, lalu mendesah panjang. "Ugh, gimana bisa biaya keperluannya nyampe Rp1.800.000,- untuk bulan ini?"
Suara kertas yang sedikit bergesek saat aku meremas bagian ujungnya terdengar nyaring. Aku melipat kertas itu dengan gerakan patah-patah, merasa pusing memikirkan bagaimana cara mengatur sisa uang di dompet agar cukup bertahan sampai akhir bulan nanti.
Sambil terus memikirkan beban finansial tersebut, aku melangkah masuk ke dalam gedung dan menaiki tangga beton yang dingin dengan lesu. Jemariku masih menggenggam kertas tagihan yang terasa semakin berat. Kepalaku terasa pusing, bukan hanya karena masalah uang yang baru saja menyentak kesadaranku, melainkan karena ada sesuatu yang lebih mendasar dan mengganggu pikiranku saat ini.
YOU ARE READING
Adik Temanku - Jerat Gairah Kontrak
RomanceTinggal dalam satu apartemen yang sunyi seharusnya menjadi hal yang biasa bagi mereka. Namun, di balik dinding yang tenang, ada ketegangan yang perlahan menguap pekat. Di satu sisi, ada keangkuhan yang menolak untuk runtuh; di sisi lain, ada dominas...
