01 • Angel's Hand

38 15 40
                                        

Sebuah gedung tinggi dengan dominasi warna putih tampak seperti gedung kantor perusahaan biasa dari luar. Orang-orang akan menganggapnya demikian hanya ketika melihat palang besar yang tertulis di sana berbunyi 'Angel's Hand - Healthy Life Insurance' yang tentu saja hanyalah kamuflase untuk menyembunyikan sesuatu di baliknya.

Kinerja Angel's Hand memang diperuntukkan sebagai perusahaan asuransi dan beroperasi demikian. Namun, yang menjadi pembeda adalah lantai 10 hingga lantai atasnya lagi dari gedung asuransi tersebut bukanlah untuk pelayanan asuransi pada masyarakat melainkan tempat berkumpulnya orang-orang berbahaya yang menjadi gedung tersebut sebagai rumah tinggal bagi mereka. Bahkan orang-orang yang bekerja di lantai bawah pun memiliki keterikatan erat dengan bagian atasnya, sebab mereka jugalah sama berbahayanya.

Lantas, apa yang disembunyikan oleh gedung tersebut? Angel's Hand sendiri tidak hanya merujuk pada asuransi melainkan organisasi gelap yang menaungi ratusan pembunuh bayaran di baliknya. Tidak hanya pembunuh bayaran, mata-mata, mantan kriminal yang bekerja sama dengan mereka sebagai pengintai dan narahubung serta memiliki keterikatan dengan kartel pun ada di sana.

Lorong-lorong utama dari gedung Angel's Hand ramai seperti biasanya. Masyarakat biasa yang tidak tahu menahu tentang apa sebenarnya itu Angel's Hand datang dengan wajah polos dan berbinar sebab mendaftarkan diri untuk mendapatkan asuransi kesehatan di sana.

Salah seorang pria berjalan tegap dari pintu utama gedung lantai satu, wajahnya dingin, rahangnya mengatup rapat. Penampilannya benar-benar memberikan isyarat pada sekitar bahwa ia tidak ingin diganggu. Ya, lagipula siapa yang hendak mengganggu Ace Gregory Alexando, pembunuh bayaran yang menduduki peringkat pertama di organisasi Angel's Hand tersebut? Semua orang-orang di organisasi itu juga tahu siapa Ace dan bagaimana kejamnya ia jika sudah mendapatkan tugas pembunuhan.

Kedatangannya kali ini ke kantor pun karena panggilan tugas dari bos organisasi. Ia segera menuju ke lantai 15, lantai puncak yang ada di gedung itu dan tanpa berbasa-basi menerima sapaan dari rekan sekitar, Ace terus melenggang masuk ke dalam ruang kerja bosnya.

"Wah, kau cepat sekali sampai ke sini, Ace." Si bos berkata dengan jenaka, merentangkan tangan memberikan gestur menyambut.

Namun, Ace yang tidak suka mengobrol tak penting itu tidak senang mendapatkan sambutan demikian. Ia berdecak sebal lalu menanggapi dengan berkata, "Jangan basa-basi."

"Hah, kau ini memang selalu begitu. Hidupmu tidak akan menyenangkan jika kau kaku terus seperti itu." Bosnya lagi-lagi mengajak ia bercanda.

"Tidak menyenangkan, ya? Kau salah, Brain. Aku selalu merasa teramat senang setiap membunuh target." Ace berbicara dengan seringai jelas di wajah.

"Hahaha! Kapan-kapan carilah kesenangan lain selain hanya membunuh orang, Ace. Ingat usiamu sudah hampir 30 tahun." Bosnya yang bernama Brain, tak lain pula adalah sahabat Ace berbicara.

Ace tidak terlalu mengerti dengan apa yang dimaksud oleh sahabat dan atasannya tersebut. Keningnya bertaut, senyumnya hilang dari wajah. "Tidak ada kolerasinya dengan umur."

"Ada. Usiamu sudah 29 tahun tapi tetap menjomlo bahkan tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Apa-apaan kehidupan tidak menyenangkan itu? Hei, kapan-kapan pacarilah wanita cantik dan kenalkan padaku." Brain berucap cukup panjang.

Desisan meremehkan keluar dari mulut Ace saat mendapatkan nasihat tidak penting dari temannya itu. "Tidak butuh."

"Hah, dasar kau ini, ya! Kau bisa mengatakan tidak butuh untuk saat ini, tapi suatu saat aku yakin kau akan punya pasangan juga. Tapi, kalau kau tidak segera mencari pasangan dari sekarang, bisa-bisa kau menjadi perjaka tua." Brain mengoceh panjang lebar.

Ace mengorek telinganya. Lelah batin rasanya ia mendengarkan ocehan temannya yang benar-benar tidak diperlukan. Lagipula Ace berpikir, memangnya dengan statusnya yang seorang pembunuh bayaran akan membuat ia bisa mendekati wanita dan menjalin suatu hubungan? Cukup mustahil dan kalaupun terjadi, wanita yang menjadi pasangan Ace hanya akan tertimpa kesialan karena bisa saja jadi incaran musuh-musuh Ace dari keluarga korban-korban yang mengetahui identitasnya. Meskipun kemungkinannya kecil karena ia selalu menyelesaikan tugas dengan sangat bersih. Namun, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa dengan bukan?

"Kau memanggilku ke sini bukan untuk berbicara tidak penting begitu, kan?" Ace akhirnya bertanya, mengalihkan topik pembicaraan agar ocehan temannya itu tidak berlarut-larut dibahas.

Brain berdeham sekali lalu menjawab, "Ada tugas baru untukmu."

"Siapa yang harus kubunuh kali ini?" tanya Ace dengan ekspresi datar seperti biasa.

"Putri bungsu keluarga mafia Elbert." Jawaban Brain membuat mata Ace membulat.

"Putri keluarga mafia?" Ace bertanya mengulang. Kali ini permintaan pembunuhan yang ditujukan padanya cukup berbeda. Ia sudah pernah diminta untuk melakukan pembunuhan terhadap keluarga mafia dari musuh mafia lainnya jadi permintaan seperti itu sudah biasa didengar telinga. Namun, yang membuat Ace terkejut adalah kemafiaan yang menjadi incaran pembunuhannya kali ini adalah mafia terbesar sekaligus pemegang posisi nomor satu di antara seluruh kemafiaan yang ada di Italia.

Kemafiaan Elbert. Keluarga mafia tersohor di kalangan dunia bawah yang sampai detik ini belum ada yang sanggup untuk menurunkan pamornya. Ace terkejut, ini bukanlah misi yang akan mudah dijalaninya. Namun, ia bukanlah orang yang mudah menyerah. Malah, ia menganggap ini sebagai tantangan baru untuknya. Alih-alih merasa takut karena musuhnya cukup besar kekuatannya, Ace justru semakin bersemangat. Jantungnya berdetak kencang, seakan darahnya berdesir kuat di antara pembuluh darah dalam tubuh. Syaraf-syarafnya menegang manakala ia membayangkan akan melakukan misi dari permintaan tersebut. Ia menyukainya. Sensasi menantang untuk melawan musuh yang terkenal kuat.

"Kau takut?" Brain bertanya.

"Apa aku terlihat begitu?" Ace balas bertanya.

"Kau malah kelihatan kegirangan sekarang." Brain menyimpulkan itu setelah melihat seringai penuh semangat Ace.

"Siapa pemberi permintaan ini?" Ace bertanya lagi.

"Alan Morto Elbert."

"HAHAHA!"

Ace tertawa nyaring mendengar jawaban dari bosnya itu. Sekarang seringainya berubah menjadi tawa lebar, matanya menyorot tajam pada sebuah kertas yang dijulurkan oleh Brain kepadanya. Kertas tersebut adalah surat permintaan pembunuhan dari pengirim sekaligus menampilkan nama lengkap dari target yang akan dibunuhnya.

"Kau tidak gila, kan?" Brain bertanya dengan keningnya yang mengkerut dalam.

"Menarik. Sangat menarik. Aku suka yang seperti ini."

"Oh, rugi aku bertanya. Kau memang gila, Ace."

"Ayah sekaligus ketua mafia Kemafiaan Elbert itu sendiri menginginkan kematian putrinya? Haha, ini lucu."

"Ya, memang lucu dan kita juga tidak tahu apa motif di baliknya. Tetapi, aku mau mengatakan kalau Kemafian Elbert meminta pertemuan tertutup denganmu terlebih dahulu sebelum misi ini dijalankan." Brain kemudian menjelaskan sistematika lanjutannya.

Ace hanya mendengarkan dengan baik ketika bosnya itu menjabarkan mulai dari tanggal pertemuan sampai waktu yang ternyata juga sudah ditentukan. Dalam dua hari ke depan, ia akan bertemu dengan kepala mafia Alan Morto Elbert untuk mendiskusikan lebih lanjut tentang rencana pembunuhan putrinya.

Beautiful TrapPříběhy, které tě pohltí. Začni objevovat