1. ꦫ

116 5 0
                                        

Hai guys, oh iya sebelum kalian baca. Aku mau bilang, mungkin diawali itu mirip² dengan cerita bl bl jawa lainnya, tapi itu cuma buat peralihan dari kota kedesa ya guys. Selebihnya mungkin akan berbeda, karna aku sebagai author juga belum baca semua bl bl Jawa di wattpad, jadi mungkin ada kemiripan jadi mohon nanti ditegur aja ga papa. Karna untuk mengalihkan alur dari kota ke desa itu pasti memang rada sama, tidak semua sama. Karna aku pun terinspirasi dari beberapa cerita, cara pengalihan alur dari kota ke desa. Terimakasih ya, kalau ada kesamaan alur mohon di tegur baik baik yaa, no no kasar kasar. Karna mungkin author membuat alur yang ga sengaja mirip sama yang lain, jadi bisa di tegur baik baik. Bye bye, selamat membaca.

"Happy Graduation anak Mami..."

Gema nada Gaudeamus Igitur mengalun khidmat, mengisi setiap sudut gedung yang dipadati oleh ratusan pasang mata. Udara pagi itu dipenuhi campuran aroma parfum harga ratusan juta, kehangatan keringat dibalik toga yang tebal, dan getaran emosi yang tak kasat mata.

"Papi bangga sama adek."

Hari ini merupakan hari dimana puncak sebuah perjalanan panjang bagi Louis Naren. Dan di detik itu juga, status 'mahasiswa' resmi tanggal, berganti menjadi sebuah tanggungjawab baru di dunia nyata.

"Yuk foto dulu disana." Wanita yang umurnya sudah tidak bisa dikatakan muda itu menarik tangan Louis untuk pergi ke depan gedung untuk mengabadikan moment penting itu.

"Iiihh mi, don't drag me. Disana Panas mami, kenapa ga ke studio aja sii. Adek ga mau panas panasan, nanti kulit adek item gimana?" Gerutunya.

"Ya nanti kesana, sekarang di sini dulung sayangg. Cepet, biar ga lama dan ga panas."

Sesi foto itu berjalan hanya 5 menit saja, karena pemuda itu sudah seperti cacing kepanasan dan sangat berisik seperti kucing minta makan.

"Udah selesai kan? Pulang yuk, Papi ada kerjaan yang belum selesai. Kamu juga kan kak?" Suara berat itu menghentikan pemuda yang dari tadi berisiknya minta ampun.

"Iya pi. Ya udah yuh dek, pulang." Suara yang lumayan mirip papinya, hanya saja suaranya sedikit lebih nyaring. Suara itu milik Eliot Naren, kakak laki laki Louis.

"Iiihh!!, adek mau hang out sama temen-temen adek."

"Ya ampun adek, jangan keras keras kalo ngomong bisa ga? Telinga mami sakit." Sambil menutup kedua telinganya.

"Sorry mi, hehe."

"Adek ga cape? Kenapa ga pulang dulu istirahat." Ucap sang Papi seraya mengusap kepala sang anak.

"Engga, adek mau celebrate our graduation bareng temen temen adek."

"Ya udah, tapi pulangnya jangan malem malem ya dek."

****

"Louis, what's your next move after grad? Kerja kah? Atau mau lanjut kuliah S3?" Pertanyaan dari seorang pemuda cantik? Mungkin? Karna di circle Louis rata rata adalah pria dengan wajah cantik.

"Gue mau istirahat dulu aja, i'm so tired bruhh."

Dentuman bass yang super berat langsung menghantam dada begitu pintu kedap suara dibuka. Udara di dalam ruangan terasa pekat, beraroma campuran rokok, alkohol, vape, dan parfum mahal yang menguap di bawah suhu ruangan yang sengaja disetel dingin.

"How about you, Zio?"

"Me? Of course, lanjut S3." Pemuda itu menyandarkan punggungnya ke sofa dengan posisi rileks.

"Omg, kepala you no duar duuar kah? Gue aja yang cuma S2 udah mau meledak."

"Hahahaahhaa, Louis, lu amnesia? Zio's brain is like, literally a machine." Kalimat itu menggantung di udara, menyisakan suara dentuman bas dan suara gelas saling beradu satu sama lain.

Tiga Jiwa La tua prossima ossessione. Scoprilo ora