Orang-orang datang untuk didengarkan

17 3 2
                                        

Hujan turun deras malam itu. Air hujan menabrak atap seng warung kopi kecil dekat terminal hingga menimbulkan suara berisik yang bercampur dengan suara motor lewat, klakson angkot, dan lagu dangdut lawas dari radio tua milik Yusuf, pemilik warung kopi.

Warung itu tidak besar. Hanya bangunan sederhana di pinggir jalan dengan meja kayu yang warnanya mulai pudar dan kursi plastik yang beberapa kakinya sudah miring. Lampu kuning redup menggantung diatas warung, sesekali berkedip seperti hampir mati. Aroma kopi hitam, gorengan, rokok, dan hujan bercampur jadi satu. Meski terlihat biasa saja... warung itu hampir tidak pernah sepi.

Malam ini juga begitu. Beberapa orang duduk memenuhi tempat itu sambil membawa masalah hidup masing-masing. Dan di tengah keramaian tersebut... ada Arifu.

Arifu Mahesa Ardana. Cowok dengan hoodie hitam lusuh dan celana jeans pudar yang dari tadi duduk santai sambil memegang gelas kopi sachet miliknya. Rambutnya sedikit berantakan,
wajahnya tenang,
dan matanya terlihat seperti orang yang selalu mendengarkan dengan serius. Padahal dari tadi dia hampir tidak bicara apa-apa.

"Anjing lah..." gerutu seorang bapak sopir angkot sambil mengusap wajahnya kasar. "Setoran naik terus, penumpang makin dikit. Mau makan apa gue kalau begini?" Nada suaranya berat dan lelah.

Tangannya bahkan sedikit gemetar saat mengambil rokok dari saku kemejanya yang sudah kusut. Namanya Pak Seno. Hampir setiap malam dia nongkrong di warung Yusuf setelah narik angkot seharian.

"Bensin mahal." lanjut Pak Seno sambil menyalakan rokoknya. "Anak gue juga bentar lagi masuk sekolah. Kepala gue rasanya mau pecah."

Arifu mengangkat pandangannya perlahan. "Hari ini sepi ya pak?" tanyanya pelan.

Pak Seno langsung tertawa hambar. "Sepi banget, Rif." ia menghembuskan asap rokok ke udara. "Dari pagi gue muter-muter cuma dapet penumpang sedikit. Kadang gue mikir... hidup gue bakal gini terus apa gimana."

Raka yang duduk di sebelah Arifu ikut menimpali sambil tertawa kecil, "Yaudah pak, jadi seleb TikTok aja."

"Kontol." Pak Seno langsung melempar bungkus rokok ke arah Raka hingga semua orang di warung tertawa kecil. Namun setelah tawanya hilang... raut lelah di wajah Pak Seno kembali muncul.

"Anak gue sekarang malu punya bapak sopir angkot." ucapnya lirih. "Kemarin dia bilang pengen dijemput jangan pake angkot gue."

Ucapan Pak Seno berhasil membuat suasana warung mendadak sedikit hening bahkan suara hujan terasa lebih jelas. Pak Seno tertawa kecil lagi, tapi kali ini terdengar dipaksakan, "Sakit juga ternyata kalau diinget-inget."

Arifu masih diam mendengarkan. Tidak memotong dan tidak langsung memberi motivasi murahan. Ia hanya membiarkan lelaki itu mengeluarkan semua isi kepalanya pelan-pelan.

"Itu bukan karena bapak jelek." kata Arifu akhirnya. "Mungkin anak bapak cuma takut diejek temennya."

Perkataan Arifu membuat Pak Seno meliriknya sambil berujar, "Lah sama aja."

"Beda." Arifu menggeleng pelan. "Kalau dia malu sama bapaknya, dia gak bakal masih nunggu bapaknya pulang tiap malam."

Pak Seno terlihat diam memikirkan ucapan itu. Setelah keterdiaman yang cukup lama, perlahan lelaki itu akhirnya tersenyum kecil. "Heh..." ia mengusap hidungnya sambil terkekeh pelan. "Lu kalau ngomong nyebelin ya."

Raka langsung menunjuk Arifu sambil tertawa, "Nah kan mulai lagi tuh ilmu filsafat warung kopinya."

Belum sempat suasana kembali ramai... seorang ibu-ibu yang duduk tak jauh dari mereka tiba-tiba ikut bicara, "Kalau suami saya mah beda lagi." Nada suaranya terdengar kesal bercampur capek.

Arifu yang Bermimpi Menjadi Tuhan (18+)Geschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt