Perkenalan

52 7 0
                                        




Aku tidak bisa berhenti untuk tidak tersenyum. Aku bahagia sekali, berpikir hidupku kedepan tidak lagi membosankan. Aku sedang berdiri di balkon kamar, berharap dia muncul dari jendela kamar seberang rumahku. Kulihat telapak tanganku, masih kurasakan lembutnya tangan pemuda itu ketika kita saling berjabat.

"Hai.. namaku Jungkook. Jeon Jungkook"

"Aku.. Park Jimin"

Aku yang pertama kali meminta kami berjabat tangan. Jimin tetangga baruku, pemuda yang manis. Aku tersenyum lebar, kelewat lebar mungkin, tanpa henti menatapnya. Sampai-sampai ayahku pura-pura terbatuk untuk menyadarkanku. Sayang sekali Jimin langsung menarik tangannya dari genggamanku, tersenyum malu. Diiringi tawa ibu dan orang tua Jimin. Ayah benar-benar membuatku malu.

                     ❤️❤️❤️


Aku terbangun di pagi hari karna terganggu dengan aroma masakan ibu. Ini hari minggu, hari terakhirku menikmati liburan semestar 1 di tingkat akhir SMA.
Aku bersemangat mengingat orang tua Jimin bercerita, berencana mendaftarkan Jimin di sekolah yang sama denganku.

Tapi sudah tiga hari ini Jimin tinggal di depan rumahku, kami tidak pernah saling bertemu. Apa yang dia lakukan, apa mungkin Jimin tidak mau berteman denganku. Hahhh... Semangatku jadi sedikit berkurang memikirkannya.

Aku berencana lari pagi di sekitar komplek. Kegiatan rutinku setiap pagi. Sebelum keluar rumah, aku melihat ibu sedang sibuk membuat makanan di dapur. Dan ayahku, tolong jangan menanyakannya. Dia selalu sibuk di ruang keluarga dengan berkas-berkas kantornya.
Tapi meskipun begitu, ayahku adalah panutanku.

"Hai nak.. lari pagi?". Ini ibuku, sebelum berpamitan ibuku sudah menyapaku terlebih dahulu.

"Yeah.. seperti biasa"

"Baiklah.. hati-hati sayang"

Tok.. tok.. tok

Aku sudah akan menjawab pesan ibu, tapi bunyi pintu sudah lebih dulu mengalihkan atensiku. Ayah menatapku seolah berbicara dengan kedua matanya. Ini terlalu pagi, siapa yang akan bertamu.

Dengan malas kubuka pintu depan. Ceklek...

"Haiii... Jungkook "

Ohhh tidak. Jimin. Dia yang datang, seketika aku berhenti bernafas.

"Maaf mengganggu.. ibuku memintaku mengantar ini". Suara Jimin seperti sihir, aku kehilangan kata-kata. Begitu lembut, aku ketagihan mendengarnya.

"Jungkook.. heii.."

Jimin menggerakkan tangan kanannya di depan wajahku. Baru aku tersadar.

"Oo..hhh.. bb..baiklah, terimakasih". Aku menemukan diriku yang bodoh di depan Jimin sekali lagi.

Aku menerima bingkisan dari Jimin, tangan kami bersentuhan. Aku melihat Jimin tersenyum, ohhh... jantungku..

"Sama-sama.. salam dariku untuk paman dan bibi Jeon"

"Ttt.. ttunggu"

Jimin sudah ingin berbalik, tapi aku begitu cepat menghentikannya meskipun dengan terbata. Aku melihat Jimin juga memakai pakaian olahraga. Bodoh jika aku menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Huh.. ada apa Jungkook?" Jimin dengan ekspresi bingungnya sangat menggemaskan.

"Kau akan berolahraga?". Aku kali ini lancar mengucapkannya, hebat kan. Kulihat Jimin sedang berpikir dan menunduk melihat pakaiannya sendiri.

"Sebenarnya... Aku..."

"Maukah pergi berlari denganku?"

Jimin belum sempat menyelesaikan ucapannya, tapi aku benar-benar tidak ingin kehilangan kesempatan.

"Uhm.. baiklah"

Jimin tersenyum lagi, aku membalasnya dengan senyuman yang lebar. Akhirnya, datang juga kesempatanku bisa berbincang banyak dengannya.

Kami berlari kecil meninggalkan rumah, samar aku mendengar teriakan ayah dari belakang. Seperti...

"Good luck boy...."

Apa-apaan itu.. Huhhh.







Love StoryHikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin